Untuk Musik yang Bagus Karya Boby Limijaya

Undangan dari Hendra untuk membicarakan rencana launching album Boby Limijaya, saya penuhi pada Selasa tanggal 12 Maret 2013. Setelah lama tidak mengobrol dengan Boby Limijaya, sore itu lumayan banyak tukar informasi, tentunya berkaitan dengan albumnya yang tak biasa, “Boby Limijaya 8 Horns with Budapest Jazz Orchestra”.

Konsep bermusik yang dihadirkan Boby pernah saya dengar di Java Jazz Festival 2012, sewaktu ia tampil dengan dukungan dari Goethe Institut. Ramah menyapa di depan pintu ruang pertunjukan, Boby Limijaya pada waktu itu tak bercerita konsep bermusik dalam pertunjukan itu. Saya tahu karena saya yang menulis profilnya untuk majalah MUSIC milik Java Festival Production. Saya simak pertunjukannya dan memang terdengar tidak lumrah dibanding pertunjukan musik band Indonesia yang juga tampil di Java Jazz Festival. Mungkin sama uniknya dengan konsep Chamber Jazz yang dikonsep Iwan Hasan, Andien, Mery Kasiman dan Enggar.

Obrolan dengan Boby Selasa sore di Rolling Stone Cafe terhenti sebelum pertunjukan Ligro Trio dimulai. Malam itu, sepulang ke rumah, saya tak mendengarkan album Boby, bahkan tidak membuka plastik pembungkusnya. Saya hanya mengamati desain albumnya yang semarak. Percakapan di kepala mengenai keinginan mengadakan press conference dalam peluncuran albumnya terasa agak mengusik.

Ketika hari Sabtu, 16 Maret, kita bertemu lagi, saya kembali mendengar cerita di balik proses rekaman album Boby Limijaya. Karena memang unik dan saya perkirakan ceruk publik pendengarnya lumayan sempit, plus cerita proses kreatifnya menarik, maka saya usul kalau peluncuran albumnya bukan dengan press conference, tapi dengan diskusi. Rencanapun di susun.

Diskusi di sebuah resto Q Smokestake di jalan Suryo itu dimulai dengan ringan, dan langsung disergah oleh rentetan pertanyaan Aldo Sianturi kepada Boby Limijaya. Rentetan pertanyaan yang berkali-kali dikomentari Boby dengan pernyataan, “Pertanyaannya susah nih…”

Aldo Sianturi yang lama aktif di berbagai lini industri musik pastilah tidak akan mudah. Apalagi, seperti menurut Aldo sendiri, album “Boby Limijaya 8 Horns Jazz”, begitu dijulukinya, memang bagus dan punya konsep kreatif yang berbeda (baca: BOBY LIMIJAYA “JOURNEY ON BLUE OCEAN JAZZ” di blog Aldo Sianturi). Aldo juga berhasil menggali latar belakang Boby yang berayah seorang pebisnis. Bahkan sampai rencana pembiayaan album, Boby harus berpresentasi di depan orangtuanya.

Konsep 8 Horns Jazz yang Fleksibel

Salah satu cerita yang menarik dari obrolan yang juga dihadiri oleh Chico Hendarto dan David Karto itu adalah bahwa konsep bermusik dan aransemen menggunakan delapan alat tiup (alto, tenor, baritone saxophone, clarinet, trombone, dan 2 trumpet) ditemani piano, gitar, bas dan drums, dapat dimainkan dimana saja dengan musisi setempat dimana pertunjukan dilakukan.

Konsep yang sama digunakan oleh Dwiki Dharmawan dengan string quartet-nya (2 violin, viola dan cello). Dwiki Dharmawan juga baru meluncurkan album dvd konsep ini dengan ditemani musisi Austria saat ia melakukan pertunjukan di Jazz Fest Wien, bulan Juli tahun lalu.

Perbedaan dengan konsep 8 Horns Jazz dari Boby Limijaya adalah Boby bukan hanya dapat melakukan pertunjukan lagu yang ada di albumnya, ia juga bisa secara fleksibel menggunakan konsep aransemen permainan 8 Horns Jazz untuk permainan lagu diluar karya Boby yang ada di albumnya. Ini memungkinkan Boby Limijaya bermain dengan musisi dimanapun di dunia, dengan fleksibelitas untuk memainkan lagu selain karya Boby, dengan aransemen musik 8 Horns Jazz.

Saya melihat cara seperti yang diterapkan Boby Limijaya ini cerdas. Ia menggabungkan konsep kreatif bermusik dengan kelenturan membuka peluang melakukan pertunjukan dengan musisi manapun, yang tanpa diseadarinya adalah peluang bisnis. Sesuatu yang diwarisi dari keluarganya.

Mudah-mudahan segera saya dengar berita Boby Limijaya dengan 8 Horns Jazz-nya tampil di berbagai kota dunia, bersama musisi manca negara, termasuk siswa-dosen perguruan tinggi yang mengajarkan musik. Sudah waktunya musisi dari Indonesia tampil di panggung internasional negara lain.

Advertisements