Dari Pancasila Sampai Ilmu Komunikasi Dan Kemasan

Tiap kali mendengar cerita bagaimana negeri ini dikerjai bangsa lain, tiap kali pula harus menelan kenyataan bahwa kita tak melakukan perlawanan dengan baik dan cerdas. KemajuanTeknologi Ilmu Komunikasi (TIK) sering dibicarakan, namun tak cukup dimanfaatkan untuk melakukan counter dalam peperangan pengaruh dengan negara lain, terutama bangsa Eropa dan Amerika Serikat.

Sejak lama sebenarnya,  sudah dimaklumi bahwa untuk menguasai dunia diharuskan menguasai jalur dan arus informasi a.k.a. komunikasi. Sebelum ada kemajuan TIK yang mengakibatkan kekuatan media massa menjadi begitu hebatnya, terutama setelah diberlakukannya internet untuk publik dunia, penguasa di Eropa dan Amerika Serikat sudah memahami pentingnya penguasaan catatan sejarah dan data untuk dapat memahami bangsa dan daerah yang ingin dikuasainya. Bahkan sejak sebelum Masehi, kesadaran itu sudah mulai muncul.Karena itulah mereka mengumpulkan informasi yang diperoleh dari para pedagang dan pelaut yang melakukan perjalanan ke berbagai penjuru dunia. Hal yang sama sebenarnya telah dilakukan oleh bangsa India dan Cina, hanya saja tiap kali berganti generasi, catatan-catatan tersebut dimusnahkan dengan maksud menghapuskan sisa-sisa kejayaan penguasa sebelumnya.

Bangsa-bangsa di Eropa telah berabad-abad melakukan penjelajahan darat dan laut, mengumpulkan data dan benda peninggalan sejarah untuk kemudian dikumpulkan, dipelajari, disusun menjadi catatan informasi yang terintegrasi. Di masa koloniaisme, mereka semakin merajalela mengambil catatan dan peninggalan sejarah dengan paksa,mengelabui, atau membelinya. Mereka juga melakukan penggalian arkeologi diberbagai penjuru dunia, hingga kini. Catatan yang terintegrasi tersebut kemudian ditafsirkan dan dijadikan bahan untuk penulisan ulang sesuai dengan kepentingan mereka.

Bila pusat ilmu pengetahuan dan penelitian di Asia di masa lalu misalnya, banyak hancur karena bencana alam atau pergantian penguasa, di Eropa masih banyak yang berhasil bertahan dan terus melanjutkan kerjanya, sehingga menghasilkan banyak tulisan.Itu juga yang mengakibatkan ilmu pengetahuan kemudian banyak berkiblat ke Eropa dan juga Amerika Serikat. Dengan demikian, para pelajar kita merujuk kepada dasar pemikiran Barat untuk mendapatkan legetimasi pengetahuan dan penelitian mereka.

Kemasan informasi melalui media massa makin menarik, terutama setelah lahirnya media elektronik, apalagi kemasan audio-visual. Penyebaran pemahaman dan penggantian nilai kehidupan digeser melalui kemasan pesan yang menarik. Hal ini semakin dibenarkan dengan bungkus hak asasi yang membuat orang digoda untuk keluar dari local wisdom. Pergeseran nilai tidak hanya dibawa oleh gerakan sosial-politik, namun lebih manjur ketika menyusup dalam bungkusan gaya hidup yang ditumpangi kepentingan pemasaran dan perdagangan.Para professional yang ahli di bidang ini adalah mereka yang jago dalam ilmu kemasan, antara lain ahli komunikasi pemasaran.

Bangsa Belanda yang beratus tahun menjajah Nusantara telah menuliskan kembali sejarah bangsa dan tanah di Nusantara. Tulisan dengan tafsir yang sesuai dengan kepentingan penjajah ini, juga dilakukan oleh para pujangga tradisional, terutama yang berada di lingkungan istana, karena pihak Belanda telah membantu raja untuk berkuasa atau mempertahankan kekuasaannya. Akibatnya, banyak sekali para ilmuawan Indonesia yang mendasari pengetahuannya selama belajar, maupun meneliti pada catatan-catatan ini. Masyarakat umum juga kerap berpegang pada cerita yang diwariskan pendahulunya tanpa menyadari bahwa cerita tersebut merupakan rekayasa penjajah. Salah satu tujuan dari pihak Belanda adalah memecah belah bangsa di Nusantara.

MencariAkar

Untuk menemukan peninggalan atau cerita asli tentu perlu waktu bertahun-tahun, bahkan berabad-abad. Belum lagi kendala perdebatan soal kebenarannya. Namun hal tersebut harus mulai dilakukan oleh ahli di bidangnya masing-masing.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah kembali kepada nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh para pendiri negara ini, yaitu Pancasila. Kelima sila tersebut tidak melulu berkaitan dengan kehidupan bernegara, namun juga dalam kehidupan manusia Indonesia sebagai individu, bagian dari masyarakat, bangsa, dan warga dunia.Nilai dan semangat yang bisa dikutip dari kelima sila tersebut adalah kebebasan individu untuk menjadi kreatif, berkarya, berkontribusi, bersatu,bergotong-royong, untuk dapat menjadi kekuatan mandiri dalam berkompetisi dengan bangsa lain di dunia.

Alasan mengapa bangsa lain ingin sekali menguasai Nusantara adalah karena Nusantara ini kaya dan sumber yang luar biasa. Bukan hanya alamnya, tapi pemikiran dan filosofinya. Nusantara dan bangsa yang tinggal di atasnya sebenarnya amat kuat dan dapat mempengaruhi dunia. Itu pula sebabnya bangsa lain harus mengacau hidup dan harmoni kehidupan di Nusantara. Menarik bangsa di Nusantara dari akarnya, memberikan nilai kehidupan yang disiapkan bangsa lain, kemudian bangsa asing yang mendulang segala kekayaan yang terkandung di Nusantara untuk mengembangkan kehidupan bangsa mereka sendiri, lalu memperdagangkannya kepada bangsa di Nusantara.

Cara melawannya, seperti yang telah diungkapkan di atas adalah kembali nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Nurani (self-conscious) menjadi syarat utama. Itu pula yang dititipkan di Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama tersebut berisi mengenai ketuhanan, bukan soal agama. Memahami Keesaan TUHAN dimulai dari nurani, bila tidak hanya tafsir-tafsir yang sering disesatkan oleh akal untuk kepentingan individu dan kelompok.

Sinar nurani yang selalu bicara kebenaran sering kali terhalang oleh jelaga ego, kekhawatiran, kebutuhan dan keinginan duniawi. Dari sini saja mulai terlihat bagaimana mempengaruhi pikiran dengan pengetahuan yang diarahkan untuk kepentingan bangsa lain sudah tercium gelagatnya. Lalu nilai dan peragaan gaya hidup yang dimuliakan akan semakin mengentalkan jelaga yang menghalangi nurani.

Nurani pula yang mengantar pada nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dimana nilai ini akan membentuk nilai Persatuan Indonesia. Peradaban dilandasi dengan ilmu pengetahuan dan ini telah diajarkan oleh nenek moyang manusia di seluruh dunia. Itu yang  menyebabkan pustaka yang menjadi pusat informasi berada di pusat spiritual, seperti komplek candi, pura, gereja, dan masjid, atau pusat spiritual dari masa sebelum agama-agama yang dikenal di dunia ini lahir. Karena agama seharusnya menjadi sumber kebijakan. Namun sekali lagi, kekuasaan dan keserakahan kerap membelokan nilai-nilai ini menjadi pembenaran penguasaan hak orang lain.

Jadi, sejak awal nurani harus menjadi jiwa dari ilmu pengetahuan. Nilai luhur dan ilmu pengetahuan diletakan sebagai dasar dari peradaban yang kemudian dikembangkan dengan kreativitas akal-budi untuk menjadi karya.

Daripada berdebat dan mempermasalahkan keberuntungan pihak lain, ada baiknya menggali kembali sumber kekayaan yang telah Dianugerahkan TUHAN kepada bangsa di Nusantara. Di titik ini diperlukan kesabaran, keikhlasan dalam menggali. Disamping itu, perlu pula ketelitian dan kebijaksanaan dalam memahami dan menerima hasilnya. Kebenaran bisa bersifat relatif dan perlu waktu untuk dapat diterima umum. Guna mendapatkan hasil yang baik diperlukan gotong-royong banyak pihak untuk berkontribusi. Itulah spirit dari Sila Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Apa yang dikenal masyarakat sebagai sinergi dan emerging power sebetulnya terkandung pada nilai gotong-royong. Hal mana harus dimulai dari itikad baikd an kesepakatan yang dilandasi nurani.

Dengan dasar kemanusiaan, keadilan, dan keberadaban akan dicapai tujuan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Catatan penting dari tujuan ini adalah keadilan sosial tidak berarti kekayaan yang sama bagi seluruh manusia.

Ilmu Komunikasi Dan Kemasan

Dalam kurun lebih dari 20tahun terakhir, ilmu komunikasi menjadi salah satu ilmu yang paling popular dituntut mahasiswa di penjuru negeri. Penyebabnya, antara lain, adalah karena pekerjaan di bidang komunikasi mempromosikan dirinya sendiri dan ini sejalan dengan merebaknya bisnis di bidang media massa.

Banyak lulusan ilmu komunikasi tak serta merta membuat komunikasi menjadi kekuatan di Nusantara untuk membangun kepercayaan diri bangsa dan mempromosikan Nusantara dan kehebatannya kepada bangsa sendiri. Para professional di bidang komunikasi sibuk bekerja mempromosikan produk komersial merek-merek dagang yang pun kebanyakan asing.

Di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, ada kumpulan ahli ilmu komunikasi dan ilmu kemasan yang bergotong royong untuk membangun kekuatan komunikasi bagi negerinya. Di Indonesia, hal ini dilakukan sebatas di institusi militer atau badan yangmengurusi ketertiban dan keamanan negeri ini. Contoh sederhana saja, banyak prestasi anak bangsa, atau acara yang mengangkat seni budaya tidak terdata, atau tersiar dengan baik. Kegiatan komunikasi masih amat diabaikan, diakukan seadanya, tanpa melibatkan pemikiran ahlinya. Informasi yang sederhana dapat dikemas menjadi informasi yang mampu membangkitkan kebanggaan dan mengandung bobot persuasif, lalu disebarluaskan dengan penggunaan media yang direncanakan.Tindak komunikasi seperti ini dapat mempengaruhi masyarakat luas, sekaligus dapat menjadi bentuk counter positif dari curahan informasi yang dikirimkan bangsa lain  ke Nusantara.

Kolonialisme era sekarang tidak mengharuskan pendudukan secara fisik. Senjata utama infiltrasi adalah media dengan peluru kemasan isi pesan. Tanpa perlawanan dan pertahanan dengan persenjataan dan amunisi yang sama kuatnya, Nusantara akan selalu menjadi sasaran empuk.

Advertisements

Beratnya Jadi Perempuan

Di depan saya ada satu anak perempuan usia 3 tahun lebih dan satuanak laki-laki dengan umur beberapa bulan yang lebih muda. Anak perempuan itu berambut keriting, berkulit gelap, jidat jenong, dan hidung pesek. Bila ia tersenyum, ruangan bisa sepuluh kali lebih terang dan hidup lebih cerah. Anaknya cerewet, lincah, dan tidak rewel. Namanya Shafa.

Anak laki-laki yang berlarian kemana-mana mengikuti Shafa, bernama Sammy.  Putih, berhidung mancung, berambut hitam lebat. Ia senang berteriak-teriak, dan sepanjang waktu Nenek yang mengasuhnya berseru mengkhawatirkan Sammy terjatuh. Sammy yang memang cranky, sebenarnya tak perlu dikhawatirkan karena dia hanya berlaku sebagaimana anak-anak seumurnya, senang berlarian, berteriak-teriak, dan sedikit bully. Hanya saja si-Nenek sudah terlalu kepayahan untuk ngemong anak seumur itu.

Shava yang berada di tempat itu bersama nenek dan ibunya yang cantik, berjilbab dengan paduan warna sesuai dengan pakaiannya, mengomentari kelakuan Shafa dengan komentar yang sebenarnya tidak menyenangkan.

“Jangan lari-lari terus, nanti jatuh, ‘idung-nya tambah pesek lagi…”

“Shafa, sini jidatnya yang jenong dilap dulu, keringetan tuh…”

“Shafa, kamu deket-deket­ Sammy jadi makin keliatan item. Kamu sih kulitnya ikut Abi, nggak kayak Umi, jadi item deh… Nanti kalau gede dirawat ya Nak, biar nggak item-item banget.”

Saya tertegun mendengarkan komentar dan gurauan yang diarahkan keShafa. Sebenarnya sejak lama saya paham kalau perempuan lebih banyak mengalami tekanan mental dari lingkungan sosial terdekatnya, seperti keluarga dan lingkungan seputar rumah, hingga dalam pergaulan di pekerjaan atau pertemanan yang lebih luas.

Laki-laki tidak punya kebiasaan mengomentari negatif penampilan laki-laki lainnya. Mereka mengomentari perempuan. Sedangkan perempuan mengomentari penampilan perempuan lain dengan lebih kritis daripada mengomentari penampilan laki-laki. Perempuan akan lebih mengomentari penampilan laki-laki pada saat hadir dengan perempuan.

Demikian pula tuntutan sosial dalam kehidupan pribadi. Laki-laki seringkali dituntut soal keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan mencari uang. Tuntutan yang lebih panjang diarahkan kepada perempuan, seperti  penampilan, selera berpakaian, tingkah laku, pertanyaan soal kapan menikah, kapan punya anak dan seterusnya. Dan itu diajukan dengan lebih tajam saat perempuan mengkritisi perempuan lain.

Saat perempuan berambisi dalam prestasi dan pekerjaan, hal tersebut bisa mengundang pandangan negatif, padahal di jaman ini perempuan bekerja sudah menjadi hal yang lumrah. Di sisi lain, perempuan harus bekerja berkali-kali lebih keras untuk dapat disejajarkan dengan laki-laki. Apalagi bila ia telah berumahtangga, perempuan masih dituntut menjamin manajemen rumah tangganya dengan baik, selain harus bekerja di kantor. Saat kemampuan di dua dunia tersebut sudah berhasil dilakukan, orang-orang di sekitarnya masih menuntut perempuan untuk tampil dengan cantik.

Saya juga sering mendengar orang berkomentar soal pasangan. Bila perempuannya cantik dan pasangannya tidak begitu menarik penampilannya, maka komentarnya adalah betapa beruntungnya sang laki-laki. Bila yang terjadi sebaliknya, komentarnya adalah betapa tidak beruntungnya laki-laki tersebut.

Kembali melihat Shafa yang sebenarnya tidak kurang suatu apapun, namun sejak kecil orang-orang terdekatnya menanamkan ketidakpercayaan diri karena penampilan fisik Shafa dianggap tidak dapat diunggulkan. Tak ada satu orangpun di dunia ini bisa memilih bagaimana bentuk fisiknya saat dilahirkan. Mencela  hal tersebut sama dengan mencela Sang Pencipta. Sebuah kejahatan. Disamping itu, orang-orang dewasa di sekitar Shafa telah menaruh investasi yang buruk di kejiwaan Shafa. Banyak orang dewasa menghakimi keberadaan anak kecil tanpa memikirkan dampaknya.

Mudah-mudahan Shafa tumbuh dewasa dan menjadi perempuan hebat. Karena kehidupan ini menjadi hebat dengan hadirnya perempuan.

Superhero, Pahlawan Dunia

Setelah produksi serial TV superhero, awal 1980-an, dunia mulai dirasuki kehadiran superhero layar lebar, jawaranya adalah Superman yang dibuat hingga empat seri. Batman dan serialnya menyaingi di tahun 1989.

Profesor Charles Xavier menyerbu penjuru dunia dengan rombongan X-Men. Semakin banyak tokohnya, semakin seru ceritanya, karena kekuatan supranatural masing-masing tokoh menyuapi khayal publik yang beraneka ragam. Batman, satu-satunya tokoh manusia tanpa kekuatan supranatural, hanya dilengkapi kecanggihan teknologi yang dimodali kekuatan super-financing. Serialnya setia membayangi serbuan gank Profesor Xavier.

Spiderman yang memulai karirnya di layar lebar awal decade 2000-an, datang dan pergi menyambangi penggemarnya. Demikian pula Hulk, si raksasa hijau. Fantastic Four, meski tak sesukses gerombolan X-Men, hadir dengan keroyokan pula.

Tahun 2008, datanglah Iron Man yang kemudian diikuti anggota gank-nya di The Avengers, termasuk komandannya yang membawa nama besar negara asal para superhero ini, Captain America. Seperti tergugah dari pertapaannya, Superman terbang kembali di angkasa layar perak. Di tahun-tahun kemuka, ekonomi Amerika boleh masih tersandung-sandung, tapi mereka menyerbu dunia dengan superhero-nya, seperti mereka selalu meluncurkan angkatan bersenjatanya kemanapun di muka bumi ini untuk menegakan keadilan.

Cerita komik telah dimanfaatkan sebagai kampanye perang (baca: menegakan keadilan) sudahsejak masa Perang Dunia II. Superman pernah ditampilkan mendukung pasukan Amerika Serikat memerangi pasukan Nazi Jerman. Captain America memang muncul tahun 1941, terlibat dalam pertempuran di Perang Dunia II.

Kemasan canggih memikat amat efisien menginfiltrasi pemikiran bahwa orang Amerika adalah pahlawan penegak keadilan yang akan menjaga harmoni perdamaian hidup bagi siapapun di dunia. Thor boleh jadi mahluk ruang angkasa, tapi dia sahabat Captain America dan bergabung dengan pasukan superhero Amerika. Ganteng atau cantik, berbadan bagus, sakti, ampuh, punya kontroversi hidup atau kepribadian, dan semua tokoh tersebut berbahasa Inggris, bahasanya tentara Amerika.

Karena tak mampu menjelaskan kehebatan alami ilmu beladiri yang bertenaga dalam, maka jadilah mahluk mutant yang sakti. Apapun warganegaranya, bersatu dibawah bendera institusi Amerika, dengan komandan Captain America.

Penetrasi propaganda dengan kemasan memesona seperti ini memang menjadi keahlian Amerika. Perang dengan musuh berkekuatan super lainnya juga akan menyertakan pasukan Amerika Serikat dengan kecanggihan senjatanya. Mereka bersedia berkorban jiwa bertempur berdampingan dengan para superhero. Sifat mulia dari pasukan Amerika yang bersedia bertempur di negeri orang untuk menegakan keadilan.

Superhero Amerika sesungguhnya adalah para creator tokoh super, penulis cerita, pendesain kostum, ahli digital image, para pembangun software digital image, produser, pekerja film, dan jagoan promosi yang membuat penduduk dunia membayar untuk menyediakan dirinya menjadi orang yang menerima propaganda dengan bahagia dan bangga.

Ada Cinta Di Pasar Santa

Sejak mal dan supermarket menjamur di Jakarta, masyarakat kelas menengah ke atas hamper tidak pernah dating ke pasar tradisional lagi. Selain pengab dan bau pasar yang kurang asoy, panas adalah penyebab utama orang enggan ke pasar. Toko swalayan dengan berbagai ukuran menjadi penyebab lain sehingga orang makin enggan ke pasar. Kebanyakan keperluan dengan harga bersaing tersedia di took-toko pengganti warung dengan tata pamer barang yang lebih menarik dan ruang yang sejuk. Apalagi took jenis ini ada hingga ke pelosok perumuhan kumuh sekalipun.

Pasar Santa, seperti pasar miliki Pemerintah Daerah lainnya, tampil apa adanya, dan kalah bersaing dengan berbagai toko di seputar area Pasar Santa dan Jalan Wolter Moginsidi. Ada jajanan sate padang yang dikenal luas di sana, dan itulah yang menyebabkan Pasar Santa masih didatangi orang di waktu petang, dan namanya masih disebut orang. Lokasi di Kebayoran Baru meredupkan Pasar Santa, karena area sekitarnya, serta kemampuan ekonomi penghuni daerah itu menanjak meninggalkan Pasar Santa yang tetap bertahan di tradisinya sebagai pasar.

Sekitar setahun yang lalu, beberapa took yang lama tak berfungsi di lantai 3 Pasar Santa disewa anak-anak muda yang membuka usaha jualan kopi seduh, rekaman vinyl, pakaian, dan pernak-pernik lainnya. Media sosial menjadi booster memopulerkan took-toko ini dan segera diikuti bukanya took-toko lain dengan berbagai dagangan. Paling banyak didagangkan di tempat tersebut adalah produk makanan. Sekali lagi media sosial menjadi mesin jet percepatan penyebaran informasi. Apalagi foto-foto yang diunggah mampu menggelitik rasa penasaran, plus mengusik eksistensi orang-orang untuk hadir di tempat yang menjadi trend.

Ketika hadir di sana akan terlihat kehidupan di Pasar Santa, khususnya di lantai 3 yang hiruk pikuk dengan pedagang dan pengunjung yang wangi dan berdandan justru menghidupkan kembali nilai kehidupan yang selama ini seakan menguap terkukus kehidupan moderen dan kompetitif.

Senyum ramah adalah sapaan sederhana yang menerangkan ruang, hal yang mahal kita temui di kehidupan sehari-hari kota Jakarta. Senyum tidak hanya disebarkan pedagang, bahkan antar pengunjungpun saling melempar senyum ramah. Tidak bernada genit, hanya melemparkan pesan, “Hey… Selamat menikmati sajian Pasar Santa ya..” Simple, ramah, manis, dan meng-adem-kan suasana yang agak panas karena pasar tak berpendingin-ruangan.

Orang tak saling mengenal duduk berhimpitan menikmati hidangan, tak jarang tercipta obrolan dan kemudian tersambung silaturahmi karena ternyata temannya teman, atau saudaranya teman, pernah satu sekolah, da nada pula yang ternyata bertetangga selama bertahun-tahun tapi tak pernah saling berjumpa.

Di warung Sepotong Kue, pemiliknya mengoceh sepotong cerita, di Pasar Santa tidak hanya pedagang saling bertukar makanan, mereka saling berbagi hasil resep ekperimen mereka, dan terkadang pengunjung membawa makanan untuk dinikmati bersama. Ada pengunjung yang saking seringnya berkunjung menjadi volunteer membantu berdagang atau mengorganisir acara dadakan yang kerap terjadi di Pasar Santa.

Meski ada produk lain ditawarkan oleh beberapa took di Pasar Santa, namun produk makanan-minuman yang menjadi pengikat kehidupan di sana dan daya tarik bagi pengunjung. Orang yang berbelanja makanan-minuman tidak hanya berlalu setelah mendapat produk yang diinginkan, tapi mereka duduk, jalan-jalan, icip-icip, dan mengundang teman lainnya dating. Produk makanan-minuman di Pasar Santa, beberapa diantaranya, unik dan tak selalu bisa ditemui di tempat lain. Produk makanan-minuman di sana kebanyakan bukan produk massal, dibuat untuk disajikan ke penikmatnya. Ada passion dari pembuatnya. Ada cinta di sajiannya.

Pasar Santa, ada senyum ramah, ada silaturahmi, ada gotong royong, bahkan ada benih asmara yang tumbuh di sana, semuanya terajut oleh cinta dari pedagangnya untuk semua yang menjadi bagian dari Pasar Santa.

Komitmen-Konsekuensi-Konsistensi

“Komitmen” yang diurai di note kali ini adalah komitmen seseorang, bukan lembaga atau institusi.

“Komitmen”, begitu banyak orang ngomong soal “komitmen”. “Komitmen” sendiri secara umum dapat didefinisikan sabagai janji atau kepeakatan seseorang untuk berbuat sesuatu, atau untuk melakukan sesuatu, atau untuk setia terhadap sesuatu. Hal yang sering tidak dipikirkan matang-matang adalah “Konsekuensi”.

“Konsekuensi” bisa dikatakan sebagai akibat atau kewajiban yang harus dilakukan seseorang terhadap sesuatu atau seseorang karena sebuah pra-kondisi yang telah ditetapkan terlebih dahulu. “Komitmen” merupakan salah satu pra-kondisi yang dimaksudkan.

Selepas masa balita, manusia, suka tidak suka, akan terikat berbagai “komitmen” yang dibuatnya secara sadar atau ada karena tuntutan lingkungan sosialnya. Seorang anak harus taat beragama, patuh kepada orangtuanya, harus belajar dan bersekolah. Itu adalah beberapa diantaranya. “Konsekuensi”-nya adalah mengurangi waktu bermain, melakukan perintah atau ajaran, bersosialisasi dengan orang lain, dan seterusnya.

Pada kenyataannya, banyak orang dewasa tidak menyadari bahwa “komitmen” itu selalu diikuti “konsekuensi”, bahkan banyak orang yang gemar mengangkangi konsekuensi seringkali mengabaikan hak-hak orang lain. Hukum kehidupan merekatkan “komitmen” dengan “konsekuensi”. Jadi tanpa memberlakukan “konsekuensi” dipastikan akan terjadi pelanggaran.

Hal yang sering orang elakan dalam memberlakukan “konsekuensi” adalah kerugian atau hal-hal yang kurang menguntungkan bagi si pemegang “komitmen”. Dalihnya bisa macam-macam, termasuk menyalahkan orang yang ia berikan “komitmen”nya. Licik dan mau menang sendiri. Sayangnya, “komitmen” tidak selalu tertulis, lebih sering berbentuk lisan atau ketetapan hati yang tidak bisa dijadikan landasan hukum. Akibatnya, “komitmen” sering dianulir, diberikan dalih, dipungkiri, dan bahkan disembunyikan.

Ada pula orang yang mempertunjukkan “komitmen”nya atau mengemumkannya pada saat dia dalam posisi aman.Terlebih lagi bila pernyataan “komitmen” tersebut memberikan keuntungan dirinya, termasuk dalam rangka pencitraan.

Hal yang mengikuti “komitmen” dan “konsekuen” adalah “konsisten”. Konsep dari “konsisten” atau berlaku tetap dan berkesinambungan dapat menjadi alat untuk mengukur sesorang dalam ber”komitmen”. Bila “konsistensi”nya tidak terpelihara, maka bisa dikatakan orang tersebut tidak bertanggungjawab. “Konsistensi” juga menyangkut kesediaan orang yang ber’komitmen” untuk memenuhi “konsekuensi”nya meski itu merugikannya.

Di dunia kerja profesional, ada kode etik yang harus dipenuhi, karena bila tidak dipenuhi akan memberikan “konsekuensi” hukum. Itu yang menyebabkan ada kalanya seorang pekerja profesional harus hidup dalam “komitmen” profesi yang “konsekuensi”nya tidak menyenangkan orang tersebut atau orang-orang di sekitarnya.

“Komitmen” juga sering diterapkan karena adanya hubungan khusus, diluar masalah hukum positif. “Komitmen” dengan orangtua, dengan anak atau saudara, dengan sahabat, dengan teman se-profesi, dengan teman sependeritaan. Hal mana sering berbenturan dengan komitmennya dengan pihak yang lain lagi di kehidupannya.

Perjalanan hidup dengan “komitmen-konsekuensi-konsistensi” juga merupakan proses pendewasaan seseorang, disamping pembelajaran kehidupan profesi.

Orang-orang yang sering tidak “konsisten” dengan “komitmen”nya merupakan individu yang gemar mengabaikan harapan dan hak orang lain. Sering tidak dapat dituntut secara hukum positif, namun sering dihadiahi umpatan, gunjingan, dan doa yang bisa mengganggu kehidupan di dunia maupun akhirat. Mudah-mudahan bukan anda, bukan saya, meski seringkali kita kurang menyadari apakah kita orang yang ber’komitmen” untuk “konsisten” menerima segala “konsekuensi”. Apalagi terhadap Tuhan kita.

Berkompetisi Dalam Keberadaban

Hari ini tanggal 7 Juli 2014, 2 hari sebelum hari pemungutan suara.
Hiruk-pikuk kampanye Pemilu sudah agak berkurang karena memasuki masa tenang, meski tidak demikian adanya di sosial media.
Hujat menghujat masih terjadi, demikian pula tuduh menuduh juga terus menderu di timeline. Masing-masing berargumen punya bukti, yang sebenarnya juga belum tentu bisa diverifikasi. Saya tak akan berkomentar soal kebenaran, kesahihan niat baik dan kemampuan para kandidat, saya tertarik utak-atik soal komunikasi saja.

Saya posting beberapa fakta di Path dan Twitter yang isinya kurang lebih begini;
Gerakan massif masyarakat selalu diberi nama Gerakan Rakyat, Tuntutan Rakyat, dan sejenisnya. Padahal tidak selalu demikian kenyataannya, karena hampir selalu ada kelompok elit, punya dana, perlu mengamankan kekuasaannya, yang ingin merubah sesuatu agar sesuai dengan kepentingannya.
Satu-satunya gerakan rakyat di Indonesia yang tidak disukai negeri kapitalis (dan kolonialis), namun tetap disusupi, adalah kemerdekaan Indonesia tahun 1945.
Gerakan rakyat tahun 1965 yang menumbangkan Orde Lama, didukung negara-negara Eropa Barat, Australia, dan Amerika Serikat. Bahkan banyak tulisan yang mengatakan badan intelejen negara-negara tersebut turut membantu dan mendanai kudeta terhadap Presiden Sukarno.
Gerakan rakyat tahun 1965 dicitrakan membawa harapan baru yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Gerakan rakyat ini melahirkan rezim Orde Baru dibawah pimpinan Jenderal dan pahlawan perang Suharto, yang kini dihujat, dimaki, dan dimusuhi sebagai kenistaan. Sebuah citra yang berbanding terbalik daripada di masa awal kekuasaannya.
Tahun 1974, ada gerakan rakyat lagi, yang lagi-lagi dipelopori generasi muda dan cerdas Indonesia. Belakangan hari diuraikan bahwa itu dilatar-belakangi persaingan dua perwira tinggi TNI. Masing-masing menggerakan jaringannya, perseteruan kelompok masyarakat terjadi, korban berjatuhan, penangkapan tanpa pengadilan dilakukan, berbagai diskusi digelar, produser dan sutradaranya aman-aman saja.
Reformasi tahun 1998 merupakan gerakan rakyat yang hingga kini digaungkan dengan keras seakan seluruh masyarakat berhutang budi kepada para pelaku gerakan rakyat tersebut. Setelah Suharto dijungkalkan dari kepemimpinannya, diganti Habibie yang pertanggungjawabannya ditolak wakil rakyat yang kompak berusaha menghilangkan kekuasaan Orde Baru. Terpilihlah Gus Dur, Kiai yang lempang, keras, bicara apa adanya, dan sangat visionaris sehingga seringkali kebanyakan orang tak paham maksud Beliau. Gagasan-gagasan Beliau membuat banyak pihak khawatir, diciptakanlah kesalahan yang disiar-luaskan, plus dengan eksposur kelemahan Beliau (dengan mudah orang iba melihat Gus Dur yang buta harus dituntun jalannya, sehingga memaklumi keterbatasannya dalam memimpin pemerintahannya, sehingga dimaklumi kesalahannya, dan lebih baik diturunkan dari kursi kekuasaan dengan dasar iba, sehingga pendukungnya yang berjumlah jutaan tidak tersinggung). Orang-orang yang merongrong kekuasaan dan menurunkan Gus Dur adalah orang-orang yang mengangkatnya, dan mereka masih berada di belakang gerakan rakyat tahun 2014, dengan tokoh pujaan baru.
Produser dan sutradara yang membuat gerakan rakyat tahun 2014 masih orang-orang yang sama, dan mereka mendalami kesaktiannya membuatan gerakan rakyat dari para guru yang hadir di Orde Baru.
Hal yang menggembirakan adalah gerakan rakyat tahun 2014 terjadi di koridor aturan negeri ini, mengganti kekuasaan di masa Pemilihan Umum. Gerakan ini juga meminimalkan atribut kelompok, termasuk partai, meski tidak demikian di salah satu kandidat yang begitu yakin dengan kekuatannya.

Gerakan rakyat selalu dipersenjatai dengan amunisi hak asasi. Muncul dari kelompok independen yang seringkali didanai oleh yayasan di negara lain atau dari sumber dana tak jelas. Mesin tempurnya adalah media massa. Gerakan rakyat dari awal kemerdekaan juga memanfaatkan penguasaan media massa. Sebelum gerakan rakyat tahun 1998, penguasaan siaran radio menjadi utama. Tahun 1998, televisi dan radio menjadi juara peran utama dan peran pembantu utama. maka tahun 2014, setelah dirintis sejak tahun 2012, sosial media mengambil alih pemeran utama penyalur isyu, baru kemudian televisi dan radio. Media cetak selalu mendapat porsi khusus, meski tidak tampil di depan.

Pergerakan isyu melalui sosial media yang kemudian acapkali diwartakan oleh televisi dan radio, amat liar dan kerap dimaklumi bila kemudian akurasinya terbukti buruk. Karena kepemilikan dan redaksionalnya individu, maka sering muatannya subyektif. Namun demikian, silang menyilang informasi seperti ini memang amat seru dan diminati publik, apalagi dibumbui penulisan yang yang emosional, penuh drama, info akan segera merebak ke penjuru arah dan terkesan tak terkendali. Mirip-mirip dengan kesukaan masyarakat Indonesia terhadap film. Dramatis, seksi, sadis, seram, atau horor sekalian.

Media berita digital dan laman website yang kerap dianggap sebagai sumber berita membuat kesan sebagai pelegalisir info yang berkeliaran. Melalui akun sosial media mereka, info disuntikan ke dalam keriuhan peredaran informasi, sehingga membuat rambu-rambu lalu lintas informasi diabaikan.

Media berita dan banyak website komersial lainnya menangguk pendapatan dari penjualan ruang iklan, dan di sinilah potensi pengaruh pengarahan isyu bisa dilakukan. Tidak langsung memang, ada banyak cara melakukannya, termasuk dengan pendekatan pribadi. Sah? Tentu saja. Praktek tersebut sudah biasa dilakukan di negara lain, apalagi di negara kapitalis, yang banyak menghalalkan cara penguasaan apapun. Penguasaannya dilakukan dengan kapital. Media massa di Indonesia sebagian besar dikuasai oleh Biro Iklan asal negara yang sepanjang sejarah moderen dikenal sebagai negara imperialis.

Salah satu kekuatan kekuasaan rejim Suharto selama 32 tahun adalah penguasaan komunikasi massa, termasuk menguasai jaringan media komunikasi. Kelompok terbesar ahli komunikasi yang dengan leluasa bereksperimen dan mengaplikasikan pengetahuannya adalah intelejen militer (dan kepolisian). Selain lebih dipercaya oleh penguasa, kelompok ini punya dana, sumber daya manusia, dan jaringan, disamping memang dimanfaatkan oleh penguasa.

Pihak lain yang amat fasih dalam mengemas pesan dan penyaluran isyu adalah negara-negara maju yang selama ini telah bereksperimen di negerinya sendiri dan di negeri orang melalui jaringan intelejennya yang menumpang di perusahaan-perusahaan mereka yang membuka perwakilan di berbagai negara. Banyak pihak yang sebenarnya mengetahui bahwa diantara ekspatriat di negeri kita ini adalah agen badan intelejen negaranya.

Di posting saya yang lain, saya tulis bahwa negara kapitalis yang gemar menguasai negeri lain, terutama sumber kekayaannya, selalu berusaha memegang kekuasaan tersebut. Sementara di sisi lain, di Indonesia selalu ada individu dan kelompok yang ambisinya memperkaya diri.

Menguasai media massa, jago mengemas pesan, punya banyak pengalaman, dan memiliki dana untuk menggerakan kekuasaan dan keahlian orang. Praktek gerakan rakyat di negeri lain berhasil menjatuhkan rejim penguasa, dan menghasilkan peran saudara, lalu menyisakan rakyat yang miskin, menderita, bodoh (karena proses pendidikan terganggu peperangan), dan berhutang. Uluran bantuan akan datang dari negeri kapitalis yang beberapa tahun belakangan ini tak bisa menggerakan uangnya di dalam negeri karena krisi ekonomi. Para pemilik modal dari negara tersebut ikut rombongan bantuan negara, memberikan utang kepada negara yang dilanda perang saudara. Sebagai pembayar utang, diberikan hak mengelola kekayaan alam negeri tersebut. Melalui bantuan pendidikan disusupi cara berpikir agar sesuai dan mendukung penguasaan negeri kapitalis. Media massa disesaki hiburan yang bermuatan pesan dan nilai yang disesuaikan kebutuhan penguasa kapital. Sementara itu, melalui manuver yang lain, rakyat di negara pelaku perang saudara tetap dibuat bersiteru, dengan tajuk yang tetap sama, hak asasi.

Indonesia berkali-kali dihantam dan dipancing ke arah yang sama. Kegelisahan yang diarahkan ke pecahnya perang saudara. Berkali-kali pula letupan itu terjadi. Isyu utamanya selalu sama, hak asasi dengan praktek keadilan sosial, dan berwujud kemakmuran yang merata. Bencana sosial yang memakan korban jiwa diletup oleh berbagai isyu, ekonomi sosial, agama, suku dan lain-lain.

Hebatnya, negeri ini walau guncang ke sana kemari, mirip dihantam bencana alam, namun hingga kini harga mati Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap berdiri. NKRI tetap bertahan karena penguasa, dalam hal ini Presiden dan perangkat pemerintahannya, rakyat yang punya toleransi tinggi, dan militer beserta kepolisian yang menjaga ketertiban dan keamanan. Perekat dari ketiga unsur itu adalah tanah air dan kebangsaan. Tiap kali perlu ada upaya melapisi perekat itu dengan pesan melalui media massa, termasuk sosial media. Masyarakat Indonesia juga perlu acara yang mempersatukan dan mengekspresikan rasa untuk kemudian disebarluaskan.

Penguasaan peredaran informasi bagaikan perang. Sejarah Nusantara telah mewariskan fakta bangsa kita kalah dalam modal dana, meski negeri ini kaya aset alam. Tapi kita punya aset manusia dengan spirit persatuan dan kemerdekaan yang kuat. Perlawanan sesungguhnya adalah melawan kolonialisme moderen yang dilakukan negeri kapitalis-kolonialis. Itu hanya dapat dilakukan jika kita belajar, bekerja keras, bersatu dalam gotong royong, bukan melawan dengan permusuhan. Berkompetisi dalam keberadaban.

Sembari kita sebagai rakyat mengawasi penegakan kejujuran dalam pemungutan suara dan penghitungan suara Pemilu, kita bisa menyebarkan virus kebangsaan, belajar, kerja keras, dan gotong royong, melalui akses media massa yang kita miliki untuk berkompetisi dalam keberadaban.

Pemilu dengan Nama TUHAN

Memasuki masa kampanye dan kemudian Pemilu, di udara Nusantara ada apatisme, harapan, sikap sinis, ketidakpercayaan, amarah, ambisi, dan banyak lagi. Memilih figur untuk mewakili suara, harapan, dan kemauan masyarakat memang sulit. Apalagi memilih Presiden dan Wakilnya yang akan memimpin negeri ini selama lima tahun ke depan.
Hal yang bahkan sering diabaikan masyarakat pemegang hak pilih adalah, sudahkah kita mengenal dengan baik kandidat anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), para Calon Presiden/Calon Wakil Presiden, dan kemudian menentukan pilihan dengan nurani yang jujur untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang lebih baik di lima tahun kemuka? Kesampingkan dulu soal janji-janji kampanye dan proses Pemilu dan penghitungan suara yang berjalan dengan jujur, baik, benar, dan lancar.
Sepanjang tahun 2014, media massa, terutama media sosial, dipenuhi kritik, apatisme, cerca, hasutan, bergantian dengan janji, pujian, pembelaan yang mengantri bersama data, fakta yang kerap kemudian disanggah atau dibantah dengan penyajian data yang tak kalah serunya. Kembali lagi pada masalah semula, sudahkan pemegang hak pilih mengenal kandidat untuk kemudian memilih yang dianggap paling bisa dipercaya secara moral dan kapasitas-kapabilitasnya.

Bersumpah
Peresmian penjabatan sebuah jabatan publik selalu didahului dengan sumpah yang dimulai dengan kata-kata, “Dengan nama TUHAN”. Ini adalah bagian awal dari pertanggung jawaban. Maka hal yang pertama harus diyakini oleh masyarakat adalah apakah kandidat yang akan dipilihnya beriman kepada TUHAN atau sekedar memiliki status beragama dan menjalankan ritual karena kepantasan.
Di dalam kehidupan masyarakat yang menganut kesetaraan, kita tidak memperkarakan agama apa yang dianut seorang kandidat. Hanya saja ada satu hal yang sama dalam ajaran agama adalah kemutlakan untuk beriman kepada SANG PENCIPTA. Takut, takluk, sehingga taat kepada perintah TUHAN, menjauhi laranganNYA dan menjalankan PerintahNYA. Secara laku mudah terlihat perbedaan ketaatan beragama seseorang, karena itu di Indonesia partai yang memancangkan nilai-nilai agama sebagai bagian dari promosinya yang paling banyak muncul. Ajaran agama yang kemudian diperdagangkan untuk meraih populeritas dan dukungan. Banyak pula yang berhasil mendapatkan perolehan suara, bahkan pengikut fanatis yang memuliakan tokoh partainya sehingga saat tokoh tersebut melakukan kesalahan, pendukungnya akan menghujat penegakan hukum sebagai perbuatan melawan agama.
Setelah berkali-kali Pemilu, partai nasionalis demokrat yang menyebarkan pesan sentimentil soal penderitaan dan yang mampu menyebarkan uang receh atau janji kemakmuran bisnis kepada pemegang hak suara, terbukti lebih sukses meraih perolehan suara. Partai pembawa ketaatan beragama pernah sempat berada di nomor urut bagus dalam perolehan suara, namun di kesempatan berikutnya surut, tersalib partai berkekuatan sentimentil penderitaan, penyebaran dana tunai, dan jani kemakmuran bisnis.
Beriman kepada TUHAN YANG MAHA ESA, syarat utama pemimpin negeri dan pemegang amanat. Sayangnya, pemberi amanat alias pemegang hak suara, masih lebih suka berendam di sentimen penderitaan, lebih suka uang receh, dan lebih tergiur janji kemakmuran. Dan itu adalah hal yang sangat manusiawi.
Dalam banyak ajaran agama, sering diperingatkan agar manusia harus mengutamakan ketaatan kepada TUHAN daripada kebutuhannya sebagai manusia. Ajaran yang memaklumi kelemahan manusiawi yang berkaitan dengan fisik ketimbang iman dan nurani yang tak tampak nyata.
Jadilah sebuah kewajaran yang menyakitkan ketika kandidat yang terpilih bukan berdasarkan ktriteria keimanannya kepada TUHAN. Di partai yang tak menggadang-gadang soal agama, bukan tidak ada yang memiliki keimanan kuat kepada TUHAN, tapi figur yang populer seringkali yang mampu tampil dengan pembawa sentimen penderitaan, termasuk berperan sebagai pembela rakyat yang menderita.
Dengan kenyataan seperti demikian, sumpah yang diikrarkan akan lebih dinilai pada materi yang dijanjikan daripada ketaatan pemenuhan janji karena keimanannya kepada TUHAN. Bila TUHAN mulai menjadi bayangan bukan keutamaan, tanggung jawab sebagai manusia yang diciptakan TUHAN tak dapat dijadikan pegangan. Setelah TUHAN yang MAHA TAHU dan MAHA ADIL tak menjadi Pengawas dan Hakim Tertinggi, akibatnya penyelewengan sumpah bisa aman selama tak terbukti. Agar tak terbukti, dilakukan penyelewengan bersama dengan keuntungan dibagi bersama. Sampai tahap ini, dipastikan sulit Pemilu menghasilkan wakil rakyat dan pemimpin negara yang melaksanakan mandatnya sebagai bagian dari ibadah kepada TUHAN.

Aksesoris Kandidat
Hal yang paling mudah untuk melihat kepatuhan seseorang kepada TUHAN adalah dari perilaku ibadahnya. Itu pulalah yang bisa diperlihatkan sebagai bagian dari pencitraan sosok yang ingin bersaing sebagai kandidat dalam Pemilu. Lagi-lagi ini masalah yang dapat dilihat dan diperlihatkan. Beragamapun ada banyak sisi fisik yang bisa diperlihatkan, mulai dari pakaian hingga aksesorinya. Seseorang yang dikenal luas berkelakuan buruk dan melanggar aturan agama, kerap berdandan bagai seorang alim dan taat beragama. Faktor ‘mata’ memang sangat menentukan. Bagi orang yang tak dapat dengan cerdas memilih kandidat peserta Pemilu, apa yang terlihat menjadi faktor yang amat menentukan. Itu pula sebabnya, ketampanan atau kecantikan wajah, dapat menjadi nilai jual terpilihnya kandidat. Alasan yang sama pula, menyebabkan disebarnya foto kandidat dimana-mana. Wajah, nomor, nama itu saja yang perlu diingat. Kredibilitas, kapasitas, dan kapabilitas terlalu rumit untuk dipahami dan sangat mudah didebat. Apalagi sisi keimanan.
Hal yang kedua adalah kebaikan hati yang artinya memberikan sesuatu kepada pemegang hak pilih, termasuk uang tunai yang sebetulnya jumlahnya tak seberapa. Orang baik itu bila suka memberi. Itu adalah ukuran yang paling mudah dan paling sering digunakan dalam memilih kandidat. Pada saat kampanye, pemberian yang dihiasi dengan senyum ramah dan pesan-pesan yang mengarahkan pada wajah, nomor, dan nama tertentu, kerap disisipi dengan ancaman terselubung. Ancaman yang dihubungkan kepada tidak keberuntungan dan bahaya secara fisik. Karena itu mudah dipahami masyarakat.
Aksesori tambahan yang acapkali menjadi tujuan utama masyarakat hadir di keramaian kampanye adalah hiburan, termasuk penampilan selebriti di acara kampanye. Judul-judulannya adalah pesta perayaan, asosiasinya adalah kegembiraan. Partai dan kandidat membawa kegembiraan melalui perayaan yang seru. Hal yang lalai diingat, semua perayaan dan kegembiraan tersebut perlu biaya. Pada saat masyarakat memilih kandidat yang tidak tepat karena merasa telah diberi kegembiraan sesaat, maka biayanya adalah suara mereka membuat kandidat tersebut berkuasa selama lima tahun.
Kembali lagi mengenai wilayah ibadah, agama, dan seputarnya, tempat beribadah, perkumpulan agama semakin populer menjadi tempat tebar pesona partai dan kandidat. Lagi-lagi untuk memperlihatkan ketaatannya beragama, sekaligus jual citra fisik. Bila perwajahan kandidat bagus, menjadi cermin imaji pengikut agama tersebut sebagai pimpinan yang berpenampilan bagus. Bila kandidat tidak beruntung secara tampilan fisik, sisi kealimannya akan menjadi tata rias yang menghaluskan dan memperbaiki penampilan fisiknya.

Hujan Hujat
Aktivasi yang segera menyusul dan bersaing dengan promosi, umbar janji, dan pencitraan kandidat wakil rakyat dan Presiden/Wakil Presiden adalah kritik, sanggahan, hujat dan yang terburuk adalah fitnah dengan penistaan. Seperti halnya kegiatan promosi, pesan-pesan berlawanan juga datang bagai hujan badai. Ada saja pihak yang sangat menikmati hujan hujat, bahkan turut menambah isi dan percepatan perluasan hujan hujat. Terciptalah hutan hujat yang sangat menyesatkan. Figur kandidat yang beriman, memiliki kapasitas dan kapabilitas memimpin sering terperangkap dalam sesatnya hutan hujat.
Tidak bisa kita berharap setiap pemegang hak pilih mampu mengurai kekusutan informasi dan memilih yang akurat. Akibatnya figur yang secara moral dan kemampuan layak tampil memimpin menjadi sayup terdengar, namun tak dikenali dan jauh dari pilihan masyarakat.
Baik promosi, maupun pendiskreditan, hampir selalu berlatarbelakang uang. Komersial. Dan inilah yang terjadi, saat sebuah keputusan yang harus dimulai dari nurani dan diolah akal sehat di kehidupan yang adil dan beradab untuk mencapai kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menjadi sebuah keputusan yang didasari emosi atas dasar sentimen penderitaan untuk mencapai kegemerlapan duniawi tanpa memikirkan pertanggungjawaban di depan pengadilan akhirat.

Dengan Nama TUHAN
Di negeri yang sebagian besar kehidupan masyarakatnya masih sangat dipengaruhi ajaran TUHAN, dimana banyak hal dimulai dengan mengucapkan nama TUHAN, nilai yang telah diajarkan TUHAN justru paling sering diabaikan.
Saat ide membuat tulisan ini muncul, hanya ada satu pikiran di kepala saya soal Pemilu yang menentukan kehidupan di negeri ini lima tahun ke depan, yakni seandainya orang memahami dan menjalankan betul kata-kata “Dengan Nama TUHAN”, sehingga apapun yang diputuskan dan dilakukan setelahnya dapat membawa kebaikan bagi umat manusia. Di sisi lain, sesungguhnya apapun yang dimulai kata-kata “Dengan Nama TUHAN”, pada saat ada penyelewengan, sesedikit apapun itu, bakal membawa konsekuensi di dunia dan di akhirat. Dari hal itulah, timbul kekhawatiran bila kemampuan mengemas segala rupa ini sudah mengalihkan wajah batin dari TUHAN, meski fisiknya seperti menghadap TUHAN dan rumah-rumah ibadah tetap penuh. Apalagi kekuasaan institusi agama telah sejak berabad-abad yang lalu telah turut berkompetisi untuk berkuasa untuk kebesaran pemangku kekuasaannya. Mudah-mudahan masih ada manusia yang menjaga dan membela sumpah yang berawalan “Dengan Nama TUHAN”.