Ngomongin Jazz Mesti Ngejazz

Seperti yang tertulis di judul, “Ngomongin Jazz Mesti Ngejazz”, maksudnya untuk mengomunikasikan musik jazz perlu banyak melakukan improvisasi. Pemikiran tersebut muncul saat saya mengunjungi persiapan SuddenJazz, hari Selasa, 24 Februari 2015. SuddenJazz adalah event mingguan yang digelar di hari Selasa. Berawal dari obrolan Toni Brillianto dan Andy “Gomez” Setiawan soal minimnya tempat ber-jam session bagi musisi jazz. Padahal, setiap musisi jazz perlu melakukan jam session sebagai bentuk latihan mereka untuk mendengar dan bermain dengan musisi jazz lainnya sehingga dapat berpadu dan menghasilkan permainan yang mengasyikan. Jam session sendiri dikenal luas dari lingkungan musik jazz, meski musisi dari jenis musik lainnya juga melakukannya. Jam session ibarat diskusi yang seru dengan menggunakan instrumen musik (dan vokal). Dengan mengajak Fanny Kuncoro, SuddenJazz pertama digelar di akhir bulan Maret 2010. Teman-teman musisipun menyambut gembira.

Seperti kegiatan Musik jazz lainnya, SuddenJazz bukanlah acara yang dibanjiri penonton sehingga secara komersial menyenangkan pemilik tempat penyelenggaraan SuddenJazz saban Selasa. Hadirin kebanyakan musisi. Tentu saja, SuddenJazz tidak dilirik sponsor produk, maupun perorangan. Padahal kegiatan seperti ini perlu ditopang dengan pendanaan yang memadai.
Sebetulnya, genre musik yang satu ini justru yang paling lentur diterima orang dari berbagai suku bangsa. Lahir dari perpaduan seni bermusik berbagai suku bangsa yang berkumpul di Amerika Serikat, dalam perkembangannya, musik jazz juga paling mudah membaur dengan jenis musik suku bangsa lain di dunia, termasuk seni musik di Nusantara. Namun demikian, musik jazz yang penuh kejutan, ‘tikungan’, terbuka terhadap intepretasi, kaya improvisasi, dan amat ekspresif, sering dianggap jenis musik yang amat njlimet. Tentu saja ini mengakibatkan pertunjukan musik jazz atau tempat-tempat yang menyajikan musik jazz tak pernah ramai pengunjung. Album yang dilansir musisinya sama saja adanya. Tak banyak peminatnya.
Uniknya di Indonesia, pertunjukan jazz yang sering dihadiri hanya oleh sedikit penikmat musik, namun tidak demikian festival jazz-nya. Festival tahunan Java Jazz Festival bertahan menembus sepuluh tahun penyelenggaraannya dan festival jazz adalah festival musik yang paling banyak digelar di berbagai kota di Indonesia. Java Jazz Festival sendiri dihadiri oleh 150,000 penonton dalam tiga hari pagelaran dengan multi-stages. Agaknya, penontoton mengincar pertunjukan artis terkenal, baik internasional, maupun Indonesia. Sebenarnya, banyak musisi jazz muda yang telah punya nama datang dan ber-jam session di SuddenJazz. Hanya saja mereka terkenal bagi pencinta jazz yang jumlahnya tak terlalu banyak. Wajar saja bila SuddenJazz tak juga mampu menyedot peminat dan menghasilkan dana yang dapat menyokong acara mingguan SuddenJazz.
Suatu malam Doni menghampiri saya untuk meminta urun pikir mengomunikasikan SuddenJazz agar lebih dikenal publik pencinta musik yang lebih luas. Saya, Doni, Nengah (Sister Duke), dan Toni mulai menggodok ide untuk membuat SuddenJazz lebih berbunyi. Caranya ya ngejazz tadi. Menyusun program yang dapat diimprovisasi, lalu mengomunikasikan dengan berbagai perubahan nada dan ritme agar mampu membuat publik yang lebih luas menengok.
Hal yang kerap diabaikan dalam memulai menyusun rencana komunikasi adalah menginventaris potensi. Percaya atau tidak, dari cerita Adib Hidayat, bos redaksi majalah Rolling Stone, anak muda yang ingin berkarir di musik, bila ditanya ingin jadi musisi apa, mereka menjawab dua jenis musik, metal dan jazz. Maka tidak mengherankan bila terlihat banyak musisi muda jazz bermunculan di Indonesia. Selain ingin tampil menjajal kemampuannya di panggung dan berhadapan dengan penonton, musisi muda ini juga semangat menelorkan album. Tak banyak lahan yang secara meriah menerima mereka dan SuddenJazz merupakan satu diantara sedikitnya lingkungan yang membuka diri untuk musisi penuh semangat ini. Mulai tahun ini, SuddenJazz akan bertambah perannya sebagai komunitas yang mempromosikan musisi jazz.
SuddenJazz juga akan mengembangkan basis komunitasnya dengan perantara media sosial untuk dapat menjangkau masyarakat musik yang lebih luas agar mereka datang ke SuddenJazz. Komunikasi massa itu rajanya adalah konten dan ratunya adalah media. Maka, dari hasil inventarisir tadi, diharapkan terkumpul materi untuk disajikan lewat media, dengan jasa “si-anak emas”, media sosial. Konten akan berisi seputar live show di SuddenJazz, sharing berbagai hal mengenai bermusik dan bisnis musik, musik klinik, dan masih banyak lagi yang ada di kepala.
Tanpa harus mempunyai keahlian meramal, dapat diperhitungkan munculnya kesulitan baru, yakni musisi me-manage sebuah event. Teman musisi pemrakasa SuddenJazz sudah mampu menunjukan kerjanya sehingga kegiatan ini bisa bertahan hingga memasuki usia lima tahun, namun untuk mengembangkannya tentu diperlukan keterlibatan teman-teman pencinta jazz, non musisi, yang punya kemampuan dan bersedia berurun upaya untuk mengembangkan SuddenJazz. Gotong royong. Hal yang juga dilakukan oleh Java Jazz Festival dan Ngayogjazz dengan melibatkan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing.
Tawaran pertama datang dari Bill Atan. Jagoan crowd control ini adalah pencinta musik jazz. Ia bisa mendatangi acara seperti SuddenJazz hanya untuk break dari kepenatan kesibukannya bekerja sehari-hari. Tujuan Bill yang utama adalah agar kegiatan seperti SuddenJazz tetap ada dan teman-temannya sesama pencinta jazz bisa datang dan ikut menikmati. Itu adalah momen yang istimewa untuk Bill. Ia membuka phonebook-nya mengontak network yang ia punya, agar mereka datang ke SuddenJazz. Bill bersemangat menyuarakan SuddenJazz. Ke depan, mungkin ada bantuan lain lagi yang bisa diberikan Bill.
Mudah-mudahan tulisan ini dibaca oleh teman-teman dan mendorong untuk bergotong royong bersama agar SuddenJazz bisa terus berlanjut, berkembang, dan menularkan virus jazz kemana-mana.
Well, suddenly everybody can become jazz.

Advertisements

Berkompetisi Dalam Keberadaban

Hari ini tanggal 7 Juli 2014, 2 hari sebelum hari pemungutan suara.
Hiruk-pikuk kampanye Pemilu sudah agak berkurang karena memasuki masa tenang, meski tidak demikian adanya di sosial media.
Hujat menghujat masih terjadi, demikian pula tuduh menuduh juga terus menderu di timeline. Masing-masing berargumen punya bukti, yang sebenarnya juga belum tentu bisa diverifikasi. Saya tak akan berkomentar soal kebenaran, kesahihan niat baik dan kemampuan para kandidat, saya tertarik utak-atik soal komunikasi saja.

Saya posting beberapa fakta di Path dan Twitter yang isinya kurang lebih begini;
Gerakan massif masyarakat selalu diberi nama Gerakan Rakyat, Tuntutan Rakyat, dan sejenisnya. Padahal tidak selalu demikian kenyataannya, karena hampir selalu ada kelompok elit, punya dana, perlu mengamankan kekuasaannya, yang ingin merubah sesuatu agar sesuai dengan kepentingannya.
Satu-satunya gerakan rakyat di Indonesia yang tidak disukai negeri kapitalis (dan kolonialis), namun tetap disusupi, adalah kemerdekaan Indonesia tahun 1945.
Gerakan rakyat tahun 1965 yang menumbangkan Orde Lama, didukung negara-negara Eropa Barat, Australia, dan Amerika Serikat. Bahkan banyak tulisan yang mengatakan badan intelejen negara-negara tersebut turut membantu dan mendanai kudeta terhadap Presiden Sukarno.
Gerakan rakyat tahun 1965 dicitrakan membawa harapan baru yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Gerakan rakyat ini melahirkan rezim Orde Baru dibawah pimpinan Jenderal dan pahlawan perang Suharto, yang kini dihujat, dimaki, dan dimusuhi sebagai kenistaan. Sebuah citra yang berbanding terbalik daripada di masa awal kekuasaannya.
Tahun 1974, ada gerakan rakyat lagi, yang lagi-lagi dipelopori generasi muda dan cerdas Indonesia. Belakangan hari diuraikan bahwa itu dilatar-belakangi persaingan dua perwira tinggi TNI. Masing-masing menggerakan jaringannya, perseteruan kelompok masyarakat terjadi, korban berjatuhan, penangkapan tanpa pengadilan dilakukan, berbagai diskusi digelar, produser dan sutradaranya aman-aman saja.
Reformasi tahun 1998 merupakan gerakan rakyat yang hingga kini digaungkan dengan keras seakan seluruh masyarakat berhutang budi kepada para pelaku gerakan rakyat tersebut. Setelah Suharto dijungkalkan dari kepemimpinannya, diganti Habibie yang pertanggungjawabannya ditolak wakil rakyat yang kompak berusaha menghilangkan kekuasaan Orde Baru. Terpilihlah Gus Dur, Kiai yang lempang, keras, bicara apa adanya, dan sangat visionaris sehingga seringkali kebanyakan orang tak paham maksud Beliau. Gagasan-gagasan Beliau membuat banyak pihak khawatir, diciptakanlah kesalahan yang disiar-luaskan, plus dengan eksposur kelemahan Beliau (dengan mudah orang iba melihat Gus Dur yang buta harus dituntun jalannya, sehingga memaklumi keterbatasannya dalam memimpin pemerintahannya, sehingga dimaklumi kesalahannya, dan lebih baik diturunkan dari kursi kekuasaan dengan dasar iba, sehingga pendukungnya yang berjumlah jutaan tidak tersinggung). Orang-orang yang merongrong kekuasaan dan menurunkan Gus Dur adalah orang-orang yang mengangkatnya, dan mereka masih berada di belakang gerakan rakyat tahun 2014, dengan tokoh pujaan baru.
Produser dan sutradara yang membuat gerakan rakyat tahun 2014 masih orang-orang yang sama, dan mereka mendalami kesaktiannya membuatan gerakan rakyat dari para guru yang hadir di Orde Baru.
Hal yang menggembirakan adalah gerakan rakyat tahun 2014 terjadi di koridor aturan negeri ini, mengganti kekuasaan di masa Pemilihan Umum. Gerakan ini juga meminimalkan atribut kelompok, termasuk partai, meski tidak demikian di salah satu kandidat yang begitu yakin dengan kekuatannya.

Gerakan rakyat selalu dipersenjatai dengan amunisi hak asasi. Muncul dari kelompok independen yang seringkali didanai oleh yayasan di negara lain atau dari sumber dana tak jelas. Mesin tempurnya adalah media massa. Gerakan rakyat dari awal kemerdekaan juga memanfaatkan penguasaan media massa. Sebelum gerakan rakyat tahun 1998, penguasaan siaran radio menjadi utama. Tahun 1998, televisi dan radio menjadi juara peran utama dan peran pembantu utama. maka tahun 2014, setelah dirintis sejak tahun 2012, sosial media mengambil alih pemeran utama penyalur isyu, baru kemudian televisi dan radio. Media cetak selalu mendapat porsi khusus, meski tidak tampil di depan.

Pergerakan isyu melalui sosial media yang kemudian acapkali diwartakan oleh televisi dan radio, amat liar dan kerap dimaklumi bila kemudian akurasinya terbukti buruk. Karena kepemilikan dan redaksionalnya individu, maka sering muatannya subyektif. Namun demikian, silang menyilang informasi seperti ini memang amat seru dan diminati publik, apalagi dibumbui penulisan yang yang emosional, penuh drama, info akan segera merebak ke penjuru arah dan terkesan tak terkendali. Mirip-mirip dengan kesukaan masyarakat Indonesia terhadap film. Dramatis, seksi, sadis, seram, atau horor sekalian.

Media berita digital dan laman website yang kerap dianggap sebagai sumber berita membuat kesan sebagai pelegalisir info yang berkeliaran. Melalui akun sosial media mereka, info disuntikan ke dalam keriuhan peredaran informasi, sehingga membuat rambu-rambu lalu lintas informasi diabaikan.

Media berita dan banyak website komersial lainnya menangguk pendapatan dari penjualan ruang iklan, dan di sinilah potensi pengaruh pengarahan isyu bisa dilakukan. Tidak langsung memang, ada banyak cara melakukannya, termasuk dengan pendekatan pribadi. Sah? Tentu saja. Praktek tersebut sudah biasa dilakukan di negara lain, apalagi di negara kapitalis, yang banyak menghalalkan cara penguasaan apapun. Penguasaannya dilakukan dengan kapital. Media massa di Indonesia sebagian besar dikuasai oleh Biro Iklan asal negara yang sepanjang sejarah moderen dikenal sebagai negara imperialis.

Salah satu kekuatan kekuasaan rejim Suharto selama 32 tahun adalah penguasaan komunikasi massa, termasuk menguasai jaringan media komunikasi. Kelompok terbesar ahli komunikasi yang dengan leluasa bereksperimen dan mengaplikasikan pengetahuannya adalah intelejen militer (dan kepolisian). Selain lebih dipercaya oleh penguasa, kelompok ini punya dana, sumber daya manusia, dan jaringan, disamping memang dimanfaatkan oleh penguasa.

Pihak lain yang amat fasih dalam mengemas pesan dan penyaluran isyu adalah negara-negara maju yang selama ini telah bereksperimen di negerinya sendiri dan di negeri orang melalui jaringan intelejennya yang menumpang di perusahaan-perusahaan mereka yang membuka perwakilan di berbagai negara. Banyak pihak yang sebenarnya mengetahui bahwa diantara ekspatriat di negeri kita ini adalah agen badan intelejen negaranya.

Di posting saya yang lain, saya tulis bahwa negara kapitalis yang gemar menguasai negeri lain, terutama sumber kekayaannya, selalu berusaha memegang kekuasaan tersebut. Sementara di sisi lain, di Indonesia selalu ada individu dan kelompok yang ambisinya memperkaya diri.

Menguasai media massa, jago mengemas pesan, punya banyak pengalaman, dan memiliki dana untuk menggerakan kekuasaan dan keahlian orang. Praktek gerakan rakyat di negeri lain berhasil menjatuhkan rejim penguasa, dan menghasilkan peran saudara, lalu menyisakan rakyat yang miskin, menderita, bodoh (karena proses pendidikan terganggu peperangan), dan berhutang. Uluran bantuan akan datang dari negeri kapitalis yang beberapa tahun belakangan ini tak bisa menggerakan uangnya di dalam negeri karena krisi ekonomi. Para pemilik modal dari negara tersebut ikut rombongan bantuan negara, memberikan utang kepada negara yang dilanda perang saudara. Sebagai pembayar utang, diberikan hak mengelola kekayaan alam negeri tersebut. Melalui bantuan pendidikan disusupi cara berpikir agar sesuai dan mendukung penguasaan negeri kapitalis. Media massa disesaki hiburan yang bermuatan pesan dan nilai yang disesuaikan kebutuhan penguasa kapital. Sementara itu, melalui manuver yang lain, rakyat di negara pelaku perang saudara tetap dibuat bersiteru, dengan tajuk yang tetap sama, hak asasi.

Indonesia berkali-kali dihantam dan dipancing ke arah yang sama. Kegelisahan yang diarahkan ke pecahnya perang saudara. Berkali-kali pula letupan itu terjadi. Isyu utamanya selalu sama, hak asasi dengan praktek keadilan sosial, dan berwujud kemakmuran yang merata. Bencana sosial yang memakan korban jiwa diletup oleh berbagai isyu, ekonomi sosial, agama, suku dan lain-lain.

Hebatnya, negeri ini walau guncang ke sana kemari, mirip dihantam bencana alam, namun hingga kini harga mati Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap berdiri. NKRI tetap bertahan karena penguasa, dalam hal ini Presiden dan perangkat pemerintahannya, rakyat yang punya toleransi tinggi, dan militer beserta kepolisian yang menjaga ketertiban dan keamanan. Perekat dari ketiga unsur itu adalah tanah air dan kebangsaan. Tiap kali perlu ada upaya melapisi perekat itu dengan pesan melalui media massa, termasuk sosial media. Masyarakat Indonesia juga perlu acara yang mempersatukan dan mengekspresikan rasa untuk kemudian disebarluaskan.

Penguasaan peredaran informasi bagaikan perang. Sejarah Nusantara telah mewariskan fakta bangsa kita kalah dalam modal dana, meski negeri ini kaya aset alam. Tapi kita punya aset manusia dengan spirit persatuan dan kemerdekaan yang kuat. Perlawanan sesungguhnya adalah melawan kolonialisme moderen yang dilakukan negeri kapitalis-kolonialis. Itu hanya dapat dilakukan jika kita belajar, bekerja keras, bersatu dalam gotong royong, bukan melawan dengan permusuhan. Berkompetisi dalam keberadaban.

Sembari kita sebagai rakyat mengawasi penegakan kejujuran dalam pemungutan suara dan penghitungan suara Pemilu, kita bisa menyebarkan virus kebangsaan, belajar, kerja keras, dan gotong royong, melalui akses media massa yang kita miliki untuk berkompetisi dalam keberadaban.

Pesan, Faktor yang Sering Diabaikan (Message Engineering 4)

Keterlibatan saya di beberapa acara dan promosi, termasuk kampanye politik, membuat saya banyak menemukan bahwa perencanaan dan pengorganisasian sebuah acara dan promosi, seringkali justru lemah dalam mempersiapkan “pesan” yang ingin disampaikan. Bahkan, banyak pula yang tak menyadari pentingnya pesan tersebut. 

Why Factor yang Pertama

Pengetahuan dasar komunikasi yang saya pelajari sejak masih di bangku kuliah adalah proses komunikasi berawal dari munculnya motivasi berkomunikasi, maka yang harus dipahami terlebih dahulu adalah alasan pihak yang ingin melakukan tindak komunikasi untuk melakukan aktivitas tersebut. Karena itu, setiap saya berhadapan dengan potential client, saya memulainya dengan pertanyaan yang sering terdengar sepele, bahkan konyol, yaitu “Mengapa ingin melakukan tindak komunikasi?” Dalam hal ini yang dimaksud tindak komunikasi adalah PR, beriklan, kampanye politik dan sebagainya.

Latar belakang dan motivasi adalah muasal dari segala yang mengikuti berikutnya, termasuk tujuan komunikasi. Seperti saya ungkapkan di atas, pertanyaan mengenai alasan berkomunikasi ini sering dianggap sepele. Bagi saya, latar belakang dan motivasi akan menentukan bagaimana mengkristalkan tujuan yang hendak dicapai, membuat skala posibilitas dari tingkatan tujuan yang diharapkan tercapai. Saya biasanya memulai dari latar belakang potential client, salah satunya adalah untuk menyamakan persepsi yang akan dibicarakan pada tahap selanjutnya. Pemahaman terhadap kata ‘berhasil’ misalnya, dapat berbeda persepsi. Ini berkaitan dengan tingkat keberhasilan pencapaian tujuan. Proses ini mirip dengan pembuatan Rumusan Masalah untuk penulisan tesis.

Latar belakang potential client juga menentukan bahasa dan media yang akan dipilih, karena kegiatan komunikasi apapun yang direncanakan kemudian amat ditentukan dengan figur dan motivasi potential client. Istilah kerennya, setiap kegiatan komunikasi yang dipersiapkan selalu customise. Bukan saya anti copy and paste, tapi kita tak bisa memaksakan sebuah perencanaan komunikasi yang sukses di satu client untuk diterapkan di kasus client yang berbeda.

Menentukan Pesan

Buatlah pesan dalam satu pesan yang jelas maksudnya. Pesan tersebut dapat diuraikan dengan jelas menjadi langkah dan hasil yang diharapkan. Ketika saya terlibat di tahun kedua Java Jazz Festival sebagai penulis, saya meriset terlebih dahulu pemahaman dari tag line yang sekaligus pesan utama dari festival jazz terbesar di belahan Selatan bumi tersebut, yakni “Bringing the World to Indonesia“. 

Secara singkat dapat saya jelaskan di sini, “Bringing the World to Indonesia” secara aksi sebagai event tontonan musik hidup internasional memang mengundang musisi internasional ternama untuk bermain di depan publik pencinta musik Indonesia, berkolaborasi dengan musisi Indonesia, dan menularkan kemampuan bermusik musisi internasional kepada musisi Indonesia. Aksi lanjutannya adalah, musisi dan penonton yang datang dari manca negara dapat menyaksikan Indonesia dan mayarakatnya dalam keadaan aman, baik-baik saja, dan Indonesia memiliki tenaga profesional yang mampu menyelenggarakan festival musik berstandar internasional. Kesaksian tersebut dibawa kembali menjadi berita ke negara mereka masing-masing. Di sisi lain, festival ini  memberikan bukti kepada masyarakat Indonesia, bahwa bangsa ini mampu menggelar dengan sukses acara sebesar ini. Sebuah kegiatan PR-ing dan diplomasi dengan kemasan sebuah acara musik.

Saya tidak tahu apakah pemilihan genre musik jazz sebagai jenis musik pada festival tersebut merupakan kesengajaan yang diperhitungkan dalam skema komunikasi atau hanya karena pengusulnya adalah komunitas Jakarta Jazz Society dan pemilik festivalnya Peter Gontha yang memang penggemar jazz. Namun musik jazz dikenal punya kepribadian yang amat fleksibel sebagai musik, maupun filosofinya. Lahir di Amerika Serikat, musik jazz berasal dari leburan berbagai seni musik dari berbagai budaya yang juga mengakibatkan musik ini mudah diadaptasi dan dikolaborasikan dengan berbagai bentuk musik lainnya. Musik jazz sering dianggap musik bergengsi tinggi dan dinikmati kalangan menengah atas, mungkin karena awal masuk ke Indonesia, musik jazz hanya diperdengarkan di kalangan atas, mengiringi orang-orang Belanda dan indo berdansa-dansi, dan populer dimainkan di hotel-hotel kelas atas. Banyak orang yang merasa tertarik mendengar, atau berpura-pura dapat menikmati, musik jazz, karena terasa bergengsi. Musik jazz sendiri, meski di masa awal kelahirannya di Amerika Serikat dimainkan di daerah-daerah kumuh, bahkan dianggap musik setan, namun pada masa selanjutnya dianggap musik berkelas, memiliki tingkat seni yang tinggi dan jauh dari keonaran. Musik jazz dianggap memberi ruang luas untuk harmoni dan apresiasi. Sehingga jazz sebagai sajian utama sebuah festival musik dianggap jauh dari kerusuhan dan mencitrakan harmoni.

Java Jazz Festival, Bringing the World to Indonesia menjadi pesan yang bagus, jelas dan mengundang perhatian masyarakat. Selain sebagai event tontonan yang mampu menghimpun masyarakat, Peter Gontha juga memanfaatkannya untuk membangkitkan kepercayaan diri masyarakat Indonesia, sekaligus alat berdiplomasi dan promosi Indonesia.

Memilih ‘pesan’ amat berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai. ‘Pesan’ harus dapat diproyeksikan menjadi bentuk kegiatan dan mengukur tercapainya tujuan. ‘Pesan’ akan menjadi panduan rencana kegiatan komunikasi yang akan dibuat dan cara penyampaian pesan agar dapat dipahami oleh khalayak yang disasar dan kemudian menghasilkan efek yang diinginkan.

Why Factor yang Kedua

Hampir bersamaan dengan memilih pesan, adalah menentukan khalayak sasaran. Tidak bisa kita mengatakan sasaran yang dituju adalah masyarakat umum. Perlu ditentukan target utama dari khalayak yang disasar. Untuk menentukan hal ini perlu megetahui dengan tepat latar belakang, motivasi berkomunikasi, tujuan (atau efek yang ingin ditimbulkan), dan pesan yang ingin dikomunikasikan. Bila begitu besar kelompok yang ingin disasar, maka harus dibuat skala prioritas dari khalayak yang dingin dijadikan target. Lalu lakukan profiling, karena ini sangat menentukan kemasan pesan dan perencanaan kegiatan komunikasi.

Jabarkan dan analisis fautor “mengapa” pesan ini dapat dipahami dan penting bagi khalayak sasaran. Lakukan hal tersebut berulang-ulang sehingga dapat ditentukan dasar dari pembuatan kemasan pesan dan perencanaan komunikasinya. Untuk itu, selain profiling, perlu memperhitungkan waktu dan hal yang jadi kepedulian publik pada saat kegiatan komunikasi direncanakan untuk dilaksanakan. Data seperti ini memberikan dasar perhitungan kemasan pesan, cara komunikasi dan media yang digunakan. Jangan hanya mengikuti trend cara dan media komunikasi yang dilakukan pihak lain. Meski bisa jadi kegiatan komunikasi berefek terhadap kepopuleran, namun pemilihan cara dan media komunikasi bukanlah masalah populeritas semata, tapi ketepatan untuk menciptakan efek yang telah ditetapkan.

Kekuatan Pesan

Tanpa sebuah pesan yang jelas dan realistis, sebuah kegiatan komunikasi akan berlalu begitu saja. Lebih buruk lagi bila tanpa ada pesan akan dapat menimbulkan efek komunikasi yang tak terkendalikan.

Banyak faktor yang menentukan sebuah kegiatan komunikasi, namun esensi dari sebuah tindak komunikasi adalah penyampaian ‘pesan’. Efek dari penyampaian ‘pesan’ dapat efek kognitif, afektif, atau behaviour. ‘Pesan’-lah yang melahirkan efek. Hal yang diterima, dipahami, menimbulkan pengaruh sehingga menjadi sebuah perilaku adalah ‘pesan’.

Bila client adalah perorangan ataupun institusi, publik akan mengaitkan ‘pesan’ yang dikomunikasikan dengan latar belakang, identitas, perilaku, aksesori, dan konsistensi dari client. Karena itu jangan membuat ‘pesan’ yang bertolak belakang dengan client. Buatlah ‘pesan’ yang masuk akal. Lain halnya bila ingin melakukan repositioning bagi client. Dengan dasar tujuan, ‘pesan’ dan target khalayak, buatlah perencanaan komunikasi yang efeknya bertahap.

Efek ‘pesan’ yang amat kuat dapat ditularkan khalayak sasaran kepada publik yang lebih luas lagi. Karena itu ‘pesan’ yang kuat dapat melahirkan evolusi sosial, bahkan memicu revolusi. Banyak sekali gerakan sosial yang berawal dari ‘pesan’ yang kuat, disetujui masyarakat, dan bergulir menjadi revolusi di berbagai negara.

Manipulasi (Message Engineering 3)

Cinta adalah hal yang paling munipulatif yang dialami manusia pada umumnya. Saat seseorang dilanda cinta, banyak hal yang tak disukai mendadak ditolerir. Cinta menaikan daya tahan terhadap penderitaan fisik, maupun mental. Harum bunga-bunga cinta membuat pandangan lebih indah dan optimis. Di sisi lain, gagal cinta menimbulkan kebencian, amarah, sifat dan pemikiran negatif yang menular.

Mahluk yang paling manipulatif adalah anak balita. Dengan wajah lugunya, ia bisa membuat orang dewasa melakukan apa saja, termasuk hal-hal yang bodoh. Senyum dan suara tertawanya bisa menebarkan keceriaan sebuah ruang. Wajahnya bisa membuat rindu orang yang sedang berada beribu-ribu mil jauhnya.

Manipulasi tidak selalu negatif, bahkan pengajaran agama mempraktekan hal ini sejak awal. Manipulasi membuat orang yang termanipulasi mempercayai dan melakukan hal-hal tertentu tanpa bertanya, termasuk hal yang baik. Misalnya, karena yakin masuk mendapat ganjaran kebaikan dari Tuhan, orang dengan senang hati berkontribusi dalam kegiatan religius. Dengan keyakinan yang sama seseorang memberikan sebagian pendapatannya untuk berbagi dengan orang yang kurang beruntung.

Dalam keseharian, manusia juga sering memanipulasi dirinya sendiri. Sebegitu seringnya menjadi kebiasaan yang tidak dirasa lagi sebagai manipulasi. Salah satu kalimat yang sering digunakan untuk memanipulasi diri sendiri adalah, “Nanti juga nggak apa-apa,” atau “Biar deh susah dulu, nanti hasilnya kan buat saya juga,” atau “Masa’ Tuhan nggak bakal nolong sih…” Setelah itu perasaan menjadi tenang dan optimisme tumbuh.

Memanipulasi Masyarakat

Memanipulasi rakyat adalah pekerjaan harian setiap Pemerintah di seluruh dunia. Kepala Negara hampir di setiap negara di penjuru bumi akan hadir di peringatan keagamaan. Saat menyampaikan sambutannya, Kepala Negara akan memasang wajah khusyu’ sebagai gambaran ia merasakan kalimat-kalimat religi yag dikutipnya. Bila ia mendengarkan ceramah, paket ekspresi yang sama ia gunakan untuk alasan yang kurang lebih sama. Pada saat demikian, Kepala Negara sedang memanipulasi penontonnya bahwa pemipin negeri itu memegang nilai-nilai religi dalam menjalankan kepemimpinannya.

Mungkin tidak banyak yang menyadari bila masyarakat melihat banyak kendaraan perang berlalu lalang di dalam kota, lengkap dengan pasukan bersenjata dan tampak gagah berani, justru timbul kepanikan dan ketakutan di bawah sadarnya. Masyarakat akan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Bila kendaraan tempur dan pasukan bersenjata tampak di berbagai tempat di sebuah kota, tanpa ada peristiwa upacara militer, ketegangannya lebih tinggi lagi. Saat pemandangan tersebut di beritakan oleh pers dengan berita yang simpang siur, masyarakat akan cenderung menghindari bepergian. Namanya psywar, dan itu efektif membuat penduduk sebuah kota takluk dalam ketakutannya sendiri, hal mana penting bagi Pemerintah yang berkuasa.

Memanipulasi rakyat juga sering dilakukan untuk membangun semangat berjuang, berkarya dan berprestasi. Kampanye dengan menggunakan kata “Ayo”, “Mari Kita”, “Pasti Bisa” dimaksudkan membakar semangat. Ajakan massif seperti ini dilakukan oleh Pemerintah, maupun swasta. Diikuti dengan billboard dengan desain orang yang berekspresi penuh semangat.

Eksposur berita dengan frekuensi yang tinggi juga memanipulasi pikiran. Dengan tingginya frekuensi, perencana komunikasi mengarahkan pikiran masyarakat kepada anggapan tingginya nilai berita. Saat masyarakat termanipulasi dan menganggap penting berita tersebut, mereka akan mengulang pemberitaan tersebut melalui media sosial dan via telepon. Akibatnya, masyarakat yang lebih luas akan merasa perlu mengakses seluruh atau sebagian dari informasi tersebut, tanpa mempertimbangkan berita orisinalnya. Inilah yang memunculkan rumor yang tak menentu. Dengan perencanaan yang baik dan dengan menggunakan pengarah berita lanjutan, berita yang dikembangkan oleh masyarakat bisa diarahkan ke efek tertentu.

Manipulation on Demand

Peercaya atau tidak, manusia sebagai individu, maupun sebagai masyarakat, memang cenderung menyediakan dirinya untuk dimanipulasi. Masyarakat di Indonesia, alih-alih berjuang memperbaiki nasibnya, cepatnya rasa frustrasi yang timbul membuat mereka berpaling kepada hal-hal yang religius, dimana dalam kisahnya sering menggambarkan mukjizat Tuhan. Masyarakat ingin keluar dari permasalahan secepat mungkin, bila perlu instan, tapi tidak menyalahi aturan agama. Akibatnya mereka menjuru kepada pemuka agama, atau orang yang memiliki ciri pemaham agama. Hingga bagian ini, sudah tercium bahwa masyarakat ini minta dimanipulasi, bukan? Pihak yang kemudian paling kerap memanfaatkan kesempatan ini adalah politisi.

Seberapa sering mendengar orang ‘galau’ dalam kisah asmaranya. Sebegitu ‘galau’-nya, tidak sedikit orang yang mencari penyedia mukjizat membuat orang dicintai banyak lawan jenisnya. Apapun yang diperintahkan ahli spiritual spesialis mukjizat cinta, dituruti oleh si pasien. Nilai sugesti begitu tinggi, membuat optimisme yang tinggi pula. Saat cinta berhasi bertaut, sebenarnya belum tentu karena hasil kerja kegaiban, bisa jadi karena rasa percaya diri yang menimbulkan magnet cinta. Tapi kadung percaya, cinta yang bertaut melipat-gandakan kepercayaan pasien kepada ‘orang pintar’-nya, dan sukarela pasien akan datang lagi untuk serial manipulasi berikutnya.

Merekayasa Pikir dan Rasa

Dalam tulisan Message Engineering sebelumnya, saya menekankan pentingnya pemahaman terhadap target komunikasi. SES, psikografi, behaviour, preferensi, nilai luhur, konsep kebahagiaan, influencer, akan memberitahukan kita faktor yang bisa memanipulasi target komunikasi.

Bagaimanapun, sebagian besar komunikasi massa adalah purposive communications, ada packaging message di situ. Manipulating people is apart from message engineering.

Bukan sulap, bukan sihir, ini hanya komunikasi yang memukau pikiran.

 

Moment Seksi Pencitraan Diri

Tulisan ini tidak membicarakan mereka yang dengan tekun dan konsisten berperilaku dan berpakaian sebagaimana ketentuan Islam. Tulisan ini adalah keusilan saya menggoda teman, kolega, sahabat, dan saudara yang gemar bertampilan Islami, tampak bertingkahlaku suci sejenak, penuh uraian kalimat mulia. Saya tergoda menggoda karena saya suka menggoda. Huh…!! laki-laki penggoda!!!

Saban dekat Ramadhan, gema menjadi suci didendang dimana-mana. Semakin dekat Ramadhan semakin keras mengundang muslim-muslimah untuk berperilaku Islami, lengkap dengan aksesori pakaian. Ramadhan memang bulan yang istimewa, dan ini memang berdasar Firman ALLAH di Al-Qur’an. Jadi bukan perkara penafsiran, tapi jelas Firman ALLAH.

Di kehidupan dunia yang semakin mesra dengan perhitungan untung-rugi, berkembanglah kepopuleran saat bulan Ramadhan jadilah muslim-muslimah yang benar untuk menebus kekhilafan hidup di sisa hari dalam setahun (bisa kalender Islam, maupun Masehi).

Lifestyle dan perkembangan media sejalan beriringan mewangikan moment Ramadhan dan Lebaran ke berbagai penjuru perbincangan hingga harumnya mengundang selera bagi kuncup-kuncup pecinta populeritas yang semakin lama memang semakin subur tersebar, tak menjadi sasaran penebangan ilegal.

Etalase di media sosial memberikan percepatan eksposur yang lebih dahsyat dari media tv dan radio sekaligus. Saat program infoteinment melengkapi dirinya dengan berita dan visual dari media sosial, penampilan di muka publik dengan kelengkapan Islami menjadi semakin seksi dikonsumsi prestasi mengeksploitasi ekspresi diri.

Perdagangan tak mengenal Tuhan, apalagi agama. Promosi lebih memanfaatkan kecintaan orang akan citra dan positioning masyarakat, dan bisnispun mengguyurnya dengan iming-iming harga, hadiah, bonus, lengkap dengan khayal imaji pencitraan diri. Ini bersambut gayung dengan media massa yang memberikan pembenaran paparan yang menjadi bahan bakar agar rating membumbung dan ujungnya pendapatan iklan yang beriring memeriahkan moment khusus ini.

Mengangkat citra memang erat dengan moment, kemasan pesan, dan media. Semuanya ada di fase Ramadhan-Lebaran. Mencitrakan diri tak pernah diperhitungkan sebagai kewajiban yang harus dipenuhi untuk masuk Surga, dan tidak pula melanggar perintah ALLAH. Moment religius diambil jadi added value untuk berkompetisi di dunia eksistensi yang menjadi semakin lebih populer daripada mutu iman yang secara konsisten ditingkatkan. Ramadhan-Lebaran adalah moment seksi untuk pencitraan diri.

 

Message Engineering

Saya tidak tahu apakah istilah ini benar-benar ada atau tidak, tapi saya menggunakannya, karena ini adalah salah satu keahlian yang saya punyai. 

Sejak masa kuliah, saya mempelajari strategi penggunaan media dan karenanya saya menyadari pentingnya konten dalam hal ini memilih dan mendesain pesan. Karena di sisi lain, menurut saya purposive communications, seperti halnya kehumasan dan periklanan adalah mengemas pesan. Disebut purposive communications karena efek dari komunikasinya telah ditentukan lebih dahulu. Untuk keperluan komunikasi seperti ini diperlukan pengumpulan data semaksimal mungkin untuk melihat berbagai perspektif efek komunikasi dan sisi pesan yang bisa dibuat. Itu yang membuat saya selalu mencari terus data dan kemungkinan yang dapat dilakukan dalam mendesain pesan. Salah satu cara yang saya lakukan adalah mengajukan berbagai pertanyaan mengenai kegiatan komunikasi dan tujuan (baca: efek) yang diinginkan.

Hal lain yang saya pertimbangkan adalah siapa yang dijadikan target komunikasi. Kemudian mengeksplorasi perilaku komunikasi target tersebut, termasuk perilakunya terhadap pemilihan pesan dan media yang dijadikan sumber. Untuk itu saya melakukan profiling terhadap target komunikasi untuk mengetahui:

  • gaya hidup
  • pergaulan
  • spending
  • why they spend
  • informasi apa yang menarik
  • bahasa apa yang digunakan
  • siapa yang menjadi influencer
  • perilaku terhadap media
  • kesukaan
  • preferensi
  • kapan memerlukan informasi
  • dimana dan kapan mereka membicarakan sebuah topik
  • mengapa mereka membicarakan topik tertentu
  • media apa yang digunakan untuk menyampaikan pesan
  • kepada siapa mereka menyampaikan pesan
  • siapa yang menyimak mereka

Pengetahuan seperti ini amat berguna untuk mendesain pesan dan memilih media sebagai penyampai, sekaligus pengemas pesan. Berkaitan dengan media, ada beberapa halyang perlu diingat, yaitu 

  • Pada dasarnya media adalah penghantar pesan. Berarti harus dipastikan sifat dasar media yang ada; pesan seperti apa yang efisien dihantar oleh media tersebut; siapa sasarannya; berapa media tersebut dapat memapar pesan kepada audiens.
  • Hubungan media dengan target sasaran, seperti arti media bagi penggunanya. Ada orang yang selalu menyalakan tv begitu sampai rumah, karena ia perlu mendengarnya meski tidak menontonnya. Orang yang lain lagi menggunakan radio sebagai sumber informasi yang up to date, oleh karenanya ia hanya mendengarkan stasiun radio berita di mobilnya. Hal lain lagi adalah fakta bahwa banyak orang yang begitu terikat dengan smartphone-nya untuk mendapat up date berita, termasuk dari teman-temannya. Berkaitan dengan hubungan media-terget sasaran, harus dilihat pula media apa yang dipercayai sebagai sumber berita, dan karena di era digital memungkin masyarakat melakukan penyebaran berita dan berinteraksi, makan pemahaman media yang digunakan target sasaran dalam berkomunikasi kepada khalayak ramai juga menjadi penting.
  • Kebijakan redaksional media perlu mendapat perhatian berkaitan dengan cara mendesain pesan. Pada media konvensional seperti radio, tv, majalah, koran akan lebih mudah melihat bagaimana media yang memiliki target sasaran yang sama memilih issue dan bahasa yang berbeda untuk disiarkan medianya. Di era digital, ada banyak jenis kemasan pesan yang bisa dimuat, disiarkan dan kemudian publik re-broadcast informasi dalam beragam desainnya. Bukan hanya multiplying broadcast yang didapat, tapi juga mutiplying effects. Media sosial adalah salah satu yang memberikan keleluasaan kepada pengguna yang juga sekaligus audiensnya untuk mengeksplor  isi pesan, kemasan pesan dan penyiaran pesan. Di sini bahayanya adalah tidak-terkendalinya efek yang muncul. Misalnya posting di media sosial tentang adegan seorang figur yang melakukan tindakan tak pantas yang disiarkan secara langsung oleh media tv. Posting dan reposting dengan merubah konten aslinya akan menjadi viral yang pada kali penyiaran tertentu menghilangkan informasi sebenarnya. Akbatnya yang terekspos lain, seperti figur yang ada di adegan tersebut, sehingga figur tersebut mendapat promosi gratis yang meningkatkan populeritasnya.

Message engineering menjadi semakin menarik bagi saya karena penggunaan integrated communications melalui integrated media dan multidesign message memang sangat mengasyikan. Dengan menetapkan efek yang diinginkan, perencanaan kegiatan komunikasi dibangun sesuai dengan urutan reaksi yang ditimbulkan oleh pesan yang direkayasa. Seperti sihir, target sasaran berpikir, berperasaan dan bertingkahlaku seperti yang direncanakan. 

Communications is a magic. I love being a magician.

Belajar Bijak Bekerja

Setiap orang punya standar dalam pekerjaannya, yang mana menurut beberapa kawan standar yang saya tetapkan terlalu tinggi. Padahal menurut saya itu sewajarnya saja karena orang harus memberikan yang terbaik. Begitulah yang saya hadapi sebagai persoalan, bila saya berpikir soal strategi komunikasi, selalu jadi kelewat serius. Alhasil seringkali saya terpaksa harus mengikuti tuntutan permintaan yang tak sesuai dengan permintaan lingkungan. Saya juga sudah banyak mengurangi kerja yang “turun” langsung ke detil karena saya bisa marah karena kesalahan-kesalahan yang seharusnya tak perlu terjadi.

Pemikiran ini muncul lagi ke permukaan karena kemarin ( 6 Juli 2013), saya ngobrol dengan Nirmala, Titi Rusdi dan Oon, soal menetapkan idealnya menyelesaikan sebuah pekerjaan. Oon, sahabat saya yang menjadi otak di belakang perusahaan app developer 7Langit, punya kecenderungan yang sama dengan saya. Kami dengan mudahnya bersepakat soal standar kerja dan hasil yang bisa dicapai. Sedangkan Nirmala dan Titi lebih relaistis, kalau tidak mau dikatakan pragmatis. Mereka yang biasa berurusan langsung dengan klien punya pandangan yang berorientasi kepada keberhasilan bisnis. Tak ada yang salah dengan argumen mereka, meski membuat dahi saya dan Oon menggernyit karena harus menurunkan kualitas kerja atau mengurangi kemampuan pikir kami. 

Baik Nirmala, maupun Titi, punya pendapat sama dengan alasan yang sama, yakni klien seringkali tidak mengerti apa yang mereka inginkan. Dari penjelasan Nirmala, Titi, mupun Oon, saya melihat bahwa apa yang dimengerti kebanyakan klien dan orang agensi sering hanya kulit dari ilmu komunikasi. Saya sendiri tidak berpikir saya jago, tapi kenyataannya memang yang banyak diminta hanya aksesori hasil yang bisa dicapai dalam sebuah aktivitas komunikasi. Menyedihkan, dan itulah fakta yang semakin sulit dirubah karena hanya sebatas itulah yang diminta. 

Tiga tahun bekerja di perusahaan layanan tv berbayar dan jaringan layanan internet, saya juga melihat hal yang sama. Raasanya gemas melihat kegiatan promosi yang dilakukan yang menurut saya masih di level belajar. Padahal perusahaan tersebut bisa muncul hebat sekali. Ada dua faktor lagi yang saya harus maklumi membuat perencanaan kegiatan promosi jadi berat dilakukan sebagaimana mestinya. Pertama adalah budget yang ditentukan oleh tokoh yang tak memahami pentingnya promosi. Faktor kedua adalah tuntutan terhadap promosi yang memberikan hasil peningkatan penjualan segera. Promosi harus menghasilkan meningkatnya penjualan, saya setuju, tapi tidak seketika, terutama untuk bentuk marketing public relationspenetrasi untuk menjangkau pasar potensial, revitalizing market, dan bantuk corporate communications yang mendukung pemasaran. Memang ada bentuk promosi yang mengarah kepada bentuk direct marketing dan dapat diukur keberhasilannya segera.

Saya dan Oon adalah profesional yang menginginkan proses dan hasil kerja yang bagus dan indah. Agaknya kami berdua harus menyiasati cara berbisnis. Orang seperti Nirmala dan Titi harus mengantarai kami dengan pekerjaan. Diperlukan pula tim yang menerjemahkan pemikiran dan gagasan kami dengan eksekusi agar kerja lebih fleksibel. Itulah yang mengakhiri obrolan kami berempat. Nirmala menitip pesan, “Kamu nggak boleh berhenti memikirkan apapun yang kamu pikir harus dibuat. Don’t make all these stop you from thinking what’s best.