Belajar Seumur Hidup

Saya bukanlah seorang murid di kelas yang layak dicontoh. Pernah nggak naik kelas, dikeluarkan dari sekolah, biang membolos waktu di SMP, mengajak teman sekelas ke Puncak di waktu pelajaran sekolah, dan kuliahpun sangat amat lammmmmmmmmaaaa… Saya tak pernah merencanakan bekerja sebagai dosen sebelum akhirnya pada tahun 1994 melamar di Kampus Tercinta, tempat saya pernah menuntut ilmu. Sayangnya saya tidak diterima mengajar di sana. Mungkin karena rekor lamanya kuliah di sana yang jarang tertandingi. Tahun 1996, saya ditawari mengajar di Program D3 FSUI (sebelum berganti menjadi FIB) UI, Depok. Saya mulai mengajar mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi dan Pengantar Ilmu Periklanan sebagai paket mata kuliah pilihan sejak awal tahun 1997. Bertahun-tahun kemudian, saya merangkap menjadi pengajar di Program Studi Komunikasi FISIP Universita Al Azhar Indonesia (UAI) di tahun 2006. Di masa mengajar itulah saya menemukan kenikmatan membuka ruang pikir mahasiswa saya. Menguak horison pikir yang mereka belum atau baru sedikit jelajahi.

Selama bertahun-tahun itu pula, sebenarnya saya lebih banyak berbagi pengetahuan dan pengalaman di luar ruang kuliah. Beberapa diantaranya masih berkesempatan bertemu hingga hari ini. Pertanyaannya tentu berbeda, tapi dalam banyak kesempatan obrolan itu saya masih “mengajar” mereka, termasuk memotivasi mereka. Bahkan saya beberapa kali diundang mengajar sebagai dosen tamu di kelas dimana mantan murid saya mengajar.

Tahun 2010 Program Diploma FIB UI tidak lagi menerima murid baru dan saya berhenti mengajar di sana, sementara di UAI saya masih mengajar seminggu sekali. Bulan Oktober 2013, untuk pertama kalinya saya berhenti bekerja sebagai dosen. Agak aneh awalnya, namun lama-lama terbiasa juga untuk tidak datang ke kampus.

Pada tahun 1998-an, seorang sahabat, komikus “Oom” Firman Rachim, mengatakan “Wid, eloe tuh guru. ‘Ampe kapan juga bawaan loe ngajarnerangin orang. Emang gitu peran loe.” Saat itu perkataan “Oom” Firman saya anggap sambil lalu saja, karena memang saya bekerja sebagai dosen. 15 tahun kemudian saya baru meng-amin-i perkataan “Oom” Firman, karena meski saya tak lagi bekerja sebagai dosen, dimanapun saya nongkrong, selalu ada saja orang datang bertanya. Kegiatan yang berjalan beriringan dengan hal tersebut adalah saya selalu menemukan orang yang menambah pengetahuan saya. Selalu ada saja hal yang saya bertambah paham atau baru tahu.

Di sisi lain, saya masih membaca buku untuk mencocokan apakah yang saya pahami dari mempelajari atau menganalisis itu benar, terutama yang berkaitan dengan ilmu dan praktik komunikasi. Alhamdulillah, sejak remaja saya mudah sekali menghubungkan satu informasi atau pengetahuan dengan pengetahuan yang lain, baik itu berupa kejadian, maupun suatu pemahaman. Semakin lama, semakin baik presisinya. Tentu tidak setiap pemikiran saya tepat adanya.

Beberapa bulan belakangan ini saya banyak bergaul dengan orang-orang yang berlatar belakang pendidikan pesantren, diantara mereka ada yang melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang Master di perguruan tinggi. Hal yang mengejutkan saya adalah begitu banyak ilmu pengetahuan yang mereka miliki mampu menjungkirkan kenyamanan saya dari tempat duduk di ruang pikir saya. Mulai dari ilmu sejarah, pengetahuan umum, hingga ilmu soal hidup. Sebenarnya saya belajar soal religi sejak tahun 1997 dan saya mendapatkan banyak hal. Namun belakangan ini berbagai uraian dari teman-teman lulusan pesantren ini begitu sering melontarkan saya ke pemikiran-pemikiran baru.

Sebagaimana kebanyakan orang di luar lingkungan pesantren, saya juga meyakini pendidikan formal yang direstui Pemerintah sudah amat ampuh. Pengetahuan dari pendidikan formal banyak dari kerangka pemikiran “Barat” yang dianggap lebih unggul dari cara pendidikan dan buah pemikiran dari tradisi “Timur” yang secara jelas dipropagandakan sebagai “negara dunia ketiga” yang tidak secanggih dan seakurat yang berasal dari “dunia Barat”. Saya juga baru tahu bahwa tokoh pendidikan nasional, seperti dr. Soetomo dan Ki Hajar Dewantara pernah menyatakan bahwa basis pendidikan Indonesia di masa depan adalah pesantren. Tentu konteksnya tidak semata pesantren yang mendasari semua pengajarannya kepada agama Islam, tapi pendidikan yang mengakar pada tradisi, adat isitadat, seni budaya, dan nilai luhur suku bangsa di Nusantara. Pemikiran yang ditentang dan dimenangkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana yang memang berpihak ke pemikiran “Barat”. Hingga kini, sistem pendidikan yang diakui secara resmi dan dibiayai oleh Pemerintah tetap yang mengacu ke sistem pemikiran dan pendidikan “Barat”. Pesantren diakui tapi tidak dianggap sebagai sistem pendidikan resmi negara dan hanya didanai bila melengkapi pendidikannya dengan sistem pendidikan yang disebut moderen oleh masyarakat.

Saya tidak membuat tulisan ini untuk mengkritisi hal tersebut, namun saya ingin menyampaikan bahwa di luar bangku sekolah formal ada pencetak pemikir bangsa ini yang memiliki pengetahuan yang luar biasa di Nusantara. Pendidikan yang tidak menaruh pengajaran agama sebagai keharusan pemenuhan nilai di rapor semata, tapi pengajaran pengetahuan imaji dan spiritual yang membuat lulusannya memahami ilmu tanpa mengenyampingkan asal muasal kegunaan ilmu pengetahuan yang semuanya berasal dari TUHAN. Tokoh-tokoh pendidik di pesantren mewajibkan muridnya untuk mendahulukan ibadah kepada TUHAN, dimana praktik ilmu digunakan semata-mata untuk mendekatkan manusia kepada Penciptanya. Dalam kerangka ini, ilmu pengetahuan tidak dipraktikan untuk menghasilkan efek negatif bagi masyarakat. Lebih daripada itu, harmoni yang tercipta dari praktik ilmu pengetahuan akan menjadi bagian yang melestarikan kehidupan sebagai bagian dari ibadah kepada TUHAN.

Pengajaran seperti ini telah ada di pemikiran dan sistem pendidikan pesantren berabad-abad yang lalu dan hingga kini, atau justru saat ini, makin dibutuhkan karena banyak kebencian dan perusakan terjadi di muka bumi, termasuk pemecah belahan kerukunan umat manusia di seluruh dunia.

Sayapun terhenyak atas kenyataan ini dan memaklumi bahwa tak akan cukup umur yang diberikan Sang Maha Kuasa untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang IA telah turunkan sejak menghadirkan manusia di alam fana. Selalu ada nilai manusia dan ketuhanan dalam setiap jejak ilmu pengetahuan. Saat ilmu pengetahuan menjauhkan manusia dengan hakekat manusia sebagai pengabdi TUHAN dan TUHAN itu sendiri, ilmu pengetahuan dapat membawa kepaa kehancuran. Hal yang memang telah Difirmankan oleh TUHAN sendiri melalui berbagai pendekatan agama atau kepercayaan manusia kepada TUHAN.

Saya menetapkan hidup untuk terus belajar dan berbagi hingga akhir hayat saya. Mungkin tak banyak yang saya bisa bagikan, tapi mudah-mudahan cukup untuk menyelamatkan saya di kehidupan berikutnya. Insya’ALLAH.

 

 

Advertisements

Pemilu dengan Nama TUHAN

Memasuki masa kampanye dan kemudian Pemilu, di udara Nusantara ada apatisme, harapan, sikap sinis, ketidakpercayaan, amarah, ambisi, dan banyak lagi. Memilih figur untuk mewakili suara, harapan, dan kemauan masyarakat memang sulit. Apalagi memilih Presiden dan Wakilnya yang akan memimpin negeri ini selama lima tahun ke depan.
Hal yang bahkan sering diabaikan masyarakat pemegang hak pilih adalah, sudahkah kita mengenal dengan baik kandidat anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), para Calon Presiden/Calon Wakil Presiden, dan kemudian menentukan pilihan dengan nurani yang jujur untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang lebih baik di lima tahun kemuka? Kesampingkan dulu soal janji-janji kampanye dan proses Pemilu dan penghitungan suara yang berjalan dengan jujur, baik, benar, dan lancar.
Sepanjang tahun 2014, media massa, terutama media sosial, dipenuhi kritik, apatisme, cerca, hasutan, bergantian dengan janji, pujian, pembelaan yang mengantri bersama data, fakta yang kerap kemudian disanggah atau dibantah dengan penyajian data yang tak kalah serunya. Kembali lagi pada masalah semula, sudahkan pemegang hak pilih mengenal kandidat untuk kemudian memilih yang dianggap paling bisa dipercaya secara moral dan kapasitas-kapabilitasnya.

Bersumpah
Peresmian penjabatan sebuah jabatan publik selalu didahului dengan sumpah yang dimulai dengan kata-kata, “Dengan nama TUHAN”. Ini adalah bagian awal dari pertanggung jawaban. Maka hal yang pertama harus diyakini oleh masyarakat adalah apakah kandidat yang akan dipilihnya beriman kepada TUHAN atau sekedar memiliki status beragama dan menjalankan ritual karena kepantasan.
Di dalam kehidupan masyarakat yang menganut kesetaraan, kita tidak memperkarakan agama apa yang dianut seorang kandidat. Hanya saja ada satu hal yang sama dalam ajaran agama adalah kemutlakan untuk beriman kepada SANG PENCIPTA. Takut, takluk, sehingga taat kepada perintah TUHAN, menjauhi laranganNYA dan menjalankan PerintahNYA. Secara laku mudah terlihat perbedaan ketaatan beragama seseorang, karena itu di Indonesia partai yang memancangkan nilai-nilai agama sebagai bagian dari promosinya yang paling banyak muncul. Ajaran agama yang kemudian diperdagangkan untuk meraih populeritas dan dukungan. Banyak pula yang berhasil mendapatkan perolehan suara, bahkan pengikut fanatis yang memuliakan tokoh partainya sehingga saat tokoh tersebut melakukan kesalahan, pendukungnya akan menghujat penegakan hukum sebagai perbuatan melawan agama.
Setelah berkali-kali Pemilu, partai nasionalis demokrat yang menyebarkan pesan sentimentil soal penderitaan dan yang mampu menyebarkan uang receh atau janji kemakmuran bisnis kepada pemegang hak suara, terbukti lebih sukses meraih perolehan suara. Partai pembawa ketaatan beragama pernah sempat berada di nomor urut bagus dalam perolehan suara, namun di kesempatan berikutnya surut, tersalib partai berkekuatan sentimentil penderitaan, penyebaran dana tunai, dan jani kemakmuran bisnis.
Beriman kepada TUHAN YANG MAHA ESA, syarat utama pemimpin negeri dan pemegang amanat. Sayangnya, pemberi amanat alias pemegang hak suara, masih lebih suka berendam di sentimen penderitaan, lebih suka uang receh, dan lebih tergiur janji kemakmuran. Dan itu adalah hal yang sangat manusiawi.
Dalam banyak ajaran agama, sering diperingatkan agar manusia harus mengutamakan ketaatan kepada TUHAN daripada kebutuhannya sebagai manusia. Ajaran yang memaklumi kelemahan manusiawi yang berkaitan dengan fisik ketimbang iman dan nurani yang tak tampak nyata.
Jadilah sebuah kewajaran yang menyakitkan ketika kandidat yang terpilih bukan berdasarkan ktriteria keimanannya kepada TUHAN. Di partai yang tak menggadang-gadang soal agama, bukan tidak ada yang memiliki keimanan kuat kepada TUHAN, tapi figur yang populer seringkali yang mampu tampil dengan pembawa sentimen penderitaan, termasuk berperan sebagai pembela rakyat yang menderita.
Dengan kenyataan seperti demikian, sumpah yang diikrarkan akan lebih dinilai pada materi yang dijanjikan daripada ketaatan pemenuhan janji karena keimanannya kepada TUHAN. Bila TUHAN mulai menjadi bayangan bukan keutamaan, tanggung jawab sebagai manusia yang diciptakan TUHAN tak dapat dijadikan pegangan. Setelah TUHAN yang MAHA TAHU dan MAHA ADIL tak menjadi Pengawas dan Hakim Tertinggi, akibatnya penyelewengan sumpah bisa aman selama tak terbukti. Agar tak terbukti, dilakukan penyelewengan bersama dengan keuntungan dibagi bersama. Sampai tahap ini, dipastikan sulit Pemilu menghasilkan wakil rakyat dan pemimpin negara yang melaksanakan mandatnya sebagai bagian dari ibadah kepada TUHAN.

Aksesoris Kandidat
Hal yang paling mudah untuk melihat kepatuhan seseorang kepada TUHAN adalah dari perilaku ibadahnya. Itu pulalah yang bisa diperlihatkan sebagai bagian dari pencitraan sosok yang ingin bersaing sebagai kandidat dalam Pemilu. Lagi-lagi ini masalah yang dapat dilihat dan diperlihatkan. Beragamapun ada banyak sisi fisik yang bisa diperlihatkan, mulai dari pakaian hingga aksesorinya. Seseorang yang dikenal luas berkelakuan buruk dan melanggar aturan agama, kerap berdandan bagai seorang alim dan taat beragama. Faktor ‘mata’ memang sangat menentukan. Bagi orang yang tak dapat dengan cerdas memilih kandidat peserta Pemilu, apa yang terlihat menjadi faktor yang amat menentukan. Itu pula sebabnya, ketampanan atau kecantikan wajah, dapat menjadi nilai jual terpilihnya kandidat. Alasan yang sama pula, menyebabkan disebarnya foto kandidat dimana-mana. Wajah, nomor, nama itu saja yang perlu diingat. Kredibilitas, kapasitas, dan kapabilitas terlalu rumit untuk dipahami dan sangat mudah didebat. Apalagi sisi keimanan.
Hal yang kedua adalah kebaikan hati yang artinya memberikan sesuatu kepada pemegang hak pilih, termasuk uang tunai yang sebetulnya jumlahnya tak seberapa. Orang baik itu bila suka memberi. Itu adalah ukuran yang paling mudah dan paling sering digunakan dalam memilih kandidat. Pada saat kampanye, pemberian yang dihiasi dengan senyum ramah dan pesan-pesan yang mengarahkan pada wajah, nomor, dan nama tertentu, kerap disisipi dengan ancaman terselubung. Ancaman yang dihubungkan kepada tidak keberuntungan dan bahaya secara fisik. Karena itu mudah dipahami masyarakat.
Aksesori tambahan yang acapkali menjadi tujuan utama masyarakat hadir di keramaian kampanye adalah hiburan, termasuk penampilan selebriti di acara kampanye. Judul-judulannya adalah pesta perayaan, asosiasinya adalah kegembiraan. Partai dan kandidat membawa kegembiraan melalui perayaan yang seru. Hal yang lalai diingat, semua perayaan dan kegembiraan tersebut perlu biaya. Pada saat masyarakat memilih kandidat yang tidak tepat karena merasa telah diberi kegembiraan sesaat, maka biayanya adalah suara mereka membuat kandidat tersebut berkuasa selama lima tahun.
Kembali lagi mengenai wilayah ibadah, agama, dan seputarnya, tempat beribadah, perkumpulan agama semakin populer menjadi tempat tebar pesona partai dan kandidat. Lagi-lagi untuk memperlihatkan ketaatannya beragama, sekaligus jual citra fisik. Bila perwajahan kandidat bagus, menjadi cermin imaji pengikut agama tersebut sebagai pimpinan yang berpenampilan bagus. Bila kandidat tidak beruntung secara tampilan fisik, sisi kealimannya akan menjadi tata rias yang menghaluskan dan memperbaiki penampilan fisiknya.

Hujan Hujat
Aktivasi yang segera menyusul dan bersaing dengan promosi, umbar janji, dan pencitraan kandidat wakil rakyat dan Presiden/Wakil Presiden adalah kritik, sanggahan, hujat dan yang terburuk adalah fitnah dengan penistaan. Seperti halnya kegiatan promosi, pesan-pesan berlawanan juga datang bagai hujan badai. Ada saja pihak yang sangat menikmati hujan hujat, bahkan turut menambah isi dan percepatan perluasan hujan hujat. Terciptalah hutan hujat yang sangat menyesatkan. Figur kandidat yang beriman, memiliki kapasitas dan kapabilitas memimpin sering terperangkap dalam sesatnya hutan hujat.
Tidak bisa kita berharap setiap pemegang hak pilih mampu mengurai kekusutan informasi dan memilih yang akurat. Akibatnya figur yang secara moral dan kemampuan layak tampil memimpin menjadi sayup terdengar, namun tak dikenali dan jauh dari pilihan masyarakat.
Baik promosi, maupun pendiskreditan, hampir selalu berlatarbelakang uang. Komersial. Dan inilah yang terjadi, saat sebuah keputusan yang harus dimulai dari nurani dan diolah akal sehat di kehidupan yang adil dan beradab untuk mencapai kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menjadi sebuah keputusan yang didasari emosi atas dasar sentimen penderitaan untuk mencapai kegemerlapan duniawi tanpa memikirkan pertanggungjawaban di depan pengadilan akhirat.

Dengan Nama TUHAN
Di negeri yang sebagian besar kehidupan masyarakatnya masih sangat dipengaruhi ajaran TUHAN, dimana banyak hal dimulai dengan mengucapkan nama TUHAN, nilai yang telah diajarkan TUHAN justru paling sering diabaikan.
Saat ide membuat tulisan ini muncul, hanya ada satu pikiran di kepala saya soal Pemilu yang menentukan kehidupan di negeri ini lima tahun ke depan, yakni seandainya orang memahami dan menjalankan betul kata-kata “Dengan Nama TUHAN”, sehingga apapun yang diputuskan dan dilakukan setelahnya dapat membawa kebaikan bagi umat manusia. Di sisi lain, sesungguhnya apapun yang dimulai kata-kata “Dengan Nama TUHAN”, pada saat ada penyelewengan, sesedikit apapun itu, bakal membawa konsekuensi di dunia dan di akhirat. Dari hal itulah, timbul kekhawatiran bila kemampuan mengemas segala rupa ini sudah mengalihkan wajah batin dari TUHAN, meski fisiknya seperti menghadap TUHAN dan rumah-rumah ibadah tetap penuh. Apalagi kekuasaan institusi agama telah sejak berabad-abad yang lalu telah turut berkompetisi untuk berkuasa untuk kebesaran pemangku kekuasaannya. Mudah-mudahan masih ada manusia yang menjaga dan membela sumpah yang berawalan “Dengan Nama TUHAN”.

 

Kasih dan Sayang-NYA

Tulisan ini merupakan buah pikir obrolan dengan Jahja Sjahruddin dalam proses belajar tentang SANG KHALIQ. Apa yang terkandung di dalam tulisan berikut ini adalah pemahaman pribadi, bukan pengetahuan dari hasil olah keahlian dalam ilmu agama.

 

Kekuasaan yang Tak Terbataskan

Bagi mereka yang mengimani adanya TUHAN, mengakui Kekuasaan TUHAN yang tak terbatas, termasuk KekuasaanNYA untuk memaksa sebuah keadaan atau kejadian, karena IA adalah Yang MAHA BERKEHENDAK dan MAHA MENCIPTA. TUHAN tak berawal dan diawali, juga tak berakhir dan diakhiri, justru TUHAN mengawali segalanya. Itu adalah sebagian KehebatanNYA yang tak terhingga yang membuatNYA menjadi tak terbandingkan, tak terbantahkan, menaklukan segala. TUHAN adalah kemutlakan.

 

Namun demikian, dengan serba keserbaanNYA, TUHAN membiarkan ciptaanNYA untuk memilih sikap, termasuk menentangNYA. Banyak pula yang IA biarkan ciptaanNNYA (manusia) menggunakan sebagian kecil Kekuasaan dan NamaNYA untuk kepentingan manusia itu sendiri. Padahal, secara tegas TUHAN Berfirman bahwa segala ciptaan Diciptakan untuk semata-mata untuk menyembah DIRINYA. Dengan KekuasaanNYA pula, IA Ciptakan hawa nafsu, syahwat, bahkan iblis dan sekutunya. Hal ini berujung pada pembangkangan ciptaan kepada SANG PENCIPTA.

 

Karena KekuasaanNYA yang tak terbantahkan, TUHAN Menjatuhkan hukuman sebagai konsekuensi ciptaanNYA yang tidak mengabdi kepada Yang MAHA KUASA. TUHAN adalah Zat Yang MAHA  ADIL, dimana KeadilanNYA berdasarkan sifatNYA Yang MAHA TAHU. Jadi tak ada Keadilan yang berasal dariNYA mengandung kesalahan.

 

Diperintahkan untuk Berpikir

Beberapa waktu yang lalu, TUHAN memutuskan saya untuk sakit, karena kelalaian saya sendiri. Pada saat sakit, membuat saya berpikir dan menyimak kata-kata orang di sekeliling saya. Salah satunya adalah, “TUHAN bukan menegur kamu, karena bila IA menganggap kamu tak berguna, IA akan memanggil kamu pulang. TUHAN Menyediakan hidup yang lebih baik untuk kamu dan kamu harus mempersiapkan diri, jasmani maupun rohani, untuk dapat menjalankan kehidupan itu.” 

 

Saya tertegun atas pernyataan tersebut. Dan sakitpun ternyata bukan hukuman. Penjelasannya adalah karena TUHAN MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG. Konsekuensi kesalahan ada diakhir cerita, ketika manusia sudah tak diberi kesempatan memperbaiki diri lagi dan menjadi pengabdiNYA yang taat. Bahkan sakit bukan peringatan atau teguran, tapi KASIH DAN SAYANGNYA.

 

KEKUASAAN YANG TAK TERHINGGA berwujud KASIH DAN SAYANG. Kembali kepada pelajaran awal yang sering diucap, selalu mengawali, tapi lalai dipahami keluasan KASIH DAN SAYANG SANG MAHA PENGASIH DAN MAHA PENYAYANG. Bertaubatpun diberikan kesempatan di waktu paling kritis, menjelang jiwa Dipanggil pulang. KekuasaanNYA pula yang memberikan kesempatan manusia untuk memilih tidak bertaubat. Sedemikian BerkuasaNYA sehingga Kasih dan SayangNYA membuat ciptaanNYA boleh memilih.

 

Hakekat dari bersyukur adalah tidak membantah KekuasaanNYA, karena manusia sudah melihat Kasih dan Sayang TUHAN yang luas tak terhingga. Karena demikian adanya, saya kembali belajar memahami arti cinta, dimana kasih dan sayang bersulam nafsu. 

Moment Seksi Pencitraan Diri

Tulisan ini tidak membicarakan mereka yang dengan tekun dan konsisten berperilaku dan berpakaian sebagaimana ketentuan Islam. Tulisan ini adalah keusilan saya menggoda teman, kolega, sahabat, dan saudara yang gemar bertampilan Islami, tampak bertingkahlaku suci sejenak, penuh uraian kalimat mulia. Saya tergoda menggoda karena saya suka menggoda. Huh…!! laki-laki penggoda!!!

Saban dekat Ramadhan, gema menjadi suci didendang dimana-mana. Semakin dekat Ramadhan semakin keras mengundang muslim-muslimah untuk berperilaku Islami, lengkap dengan aksesori pakaian. Ramadhan memang bulan yang istimewa, dan ini memang berdasar Firman ALLAH di Al-Qur’an. Jadi bukan perkara penafsiran, tapi jelas Firman ALLAH.

Di kehidupan dunia yang semakin mesra dengan perhitungan untung-rugi, berkembanglah kepopuleran saat bulan Ramadhan jadilah muslim-muslimah yang benar untuk menebus kekhilafan hidup di sisa hari dalam setahun (bisa kalender Islam, maupun Masehi).

Lifestyle dan perkembangan media sejalan beriringan mewangikan moment Ramadhan dan Lebaran ke berbagai penjuru perbincangan hingga harumnya mengundang selera bagi kuncup-kuncup pecinta populeritas yang semakin lama memang semakin subur tersebar, tak menjadi sasaran penebangan ilegal.

Etalase di media sosial memberikan percepatan eksposur yang lebih dahsyat dari media tv dan radio sekaligus. Saat program infoteinment melengkapi dirinya dengan berita dan visual dari media sosial, penampilan di muka publik dengan kelengkapan Islami menjadi semakin seksi dikonsumsi prestasi mengeksploitasi ekspresi diri.

Perdagangan tak mengenal Tuhan, apalagi agama. Promosi lebih memanfaatkan kecintaan orang akan citra dan positioning masyarakat, dan bisnispun mengguyurnya dengan iming-iming harga, hadiah, bonus, lengkap dengan khayal imaji pencitraan diri. Ini bersambut gayung dengan media massa yang memberikan pembenaran paparan yang menjadi bahan bakar agar rating membumbung dan ujungnya pendapatan iklan yang beriring memeriahkan moment khusus ini.

Mengangkat citra memang erat dengan moment, kemasan pesan, dan media. Semuanya ada di fase Ramadhan-Lebaran. Mencitrakan diri tak pernah diperhitungkan sebagai kewajiban yang harus dipenuhi untuk masuk Surga, dan tidak pula melanggar perintah ALLAH. Moment religius diambil jadi added value untuk berkompetisi di dunia eksistensi yang menjadi semakin lebih populer daripada mutu iman yang secara konsisten ditingkatkan. Ramadhan-Lebaran adalah moment seksi untuk pencitraan diri.

 

….. (nama yang kupanggil di dalam hati)

“Lihatlah Hari Berganti

Namun Tiada Seindah Dahulu

Datanglah aku Ingin Bertemu

Untukmu aku Bernyanyi

Untuk Ayah Tercinta
aku Ingin Bernyanyi”

itu adalah potongan lirik dari lagu “Ayah” karya Oom Rinto Harahap.

Here I am. With my capacity, my capability, segala achievement saya. Kecil besar, selalu ada bersitan warisan ayah saya, yang saya panggil ‘Bapak’.

Meski ada teman yang mewarisi warisan bidang kesaktian ayahnya, saya adalah orang yang tidak bekerja di bidang yang sama persis dengan ayah saya, kecuali mungkin…… saya juga dosen sebagaimana beliau semasa hidupnya. Dan pekerjaan itu saya cintai sebagaimana ayah saya membaktikan dirinya sebagai pengajar. Ada satu hal yang saya temui setelah bertahun saya mengajar, membuka pikiran orang adalah sesuatu yang nikmat dan, saya merasakan sebagai kewajiban. Bisa berjuta cara membuka pikiran. Mengajar, memberi contoh, mendemonstrasikan, mendiskusikan, meng-imaji-kan, memberi kesempatan, menyemangati, memotivasi, memberi dukungan, memberi ruang, dan banyak lagi.

Bidang yang saya ajar dan saya praktekan untuk mencari uang amat berbeda dengan ayah saya. Paling tidak saya yakin hingga beberapa tahun yang lalu. Saya murni bergerak di bidang komunikasi, sedang ayah saya almarhum adalah seorang arkeolog, seorang museumolog, dan pemaham kebudayaan. Belakangan, saya mengerti, ternyata banyak warisan yang diberikan ayah saya, tanpa saya merasa menerimanya.

Cinta, tidak melupakan muasal (sejarah), passion, ketuhanan, keikhlasan, kerja keras, dan berbagi, itulah deretan warisan ayah saya. 

Cinta Dan Pengabdian
Cinta bisa diteorikan menjadi tulisan panjang, tapi cinta yang saya pahami, ditemukan. Perlu waktu untuk menemukan cinta kita terhadap sesuatu. Cinta mirip-mirip iman, diterima akal, diyakini hati dan dipraktekan. Baca, mendengarkan, dan berdiskusi membuat saya tahu filosofi dan praktek komunikasi. Ketika bicara mengenai simbol/kemasan pikir dan rasa, saya kental berurusan dengan budaya. Ayah saya, selama hidupnya, mematrikan paham kebudayaan di dinding, tiang, atap rumah pikir dan hati anak-anaknya. Dan meniupkan jiwa cinta akar budaya dan nilai di hati kami, anak-anaknya. 

Dengan cara yang otoriter, kami diajarkan senyawa demokrasi dengan nilai-nilai Indonesia. Sebuah keterbukaan pikiran dan hati, sehingga kita mampu menyerap banyak hal, memilahnya, mensarikannya, dan membentuk apa yang kemudian jadi milik kita. Karena itu adalah cipta kita sendiri, maka kita mencintainya, seperti saya mencintai ‘komunikasi’.Saya mencumbunya tiap ada kesempatan.

Saat pengetahuan jadi kemampuan, kemampuan jadi keahlian, dan keahlian menjadi pencapaian, saya lupa bertanya, darimana arahan ini. Pengetahuan agama dan filosofi ayah saya yang disampaikan dengan tutur, membuka pintu ruang ikhlas. Kebesaran Tuhan untuk memberi kemampuan, bakat dan kesempatan untuk berkembang membuat saya memahami bahwa pencapaian saya adalah untuk diabdikan. Di situ saya mengenal pemahaman spirit and passion. Saya tidak bertanya dua kali lagi untuk terus menerapkan pencapaian saya, karena kita hanya meminjam. Sebuah warisan nilai ‘gigih’ yang diwariskan ayah saya yang tidak religius, tapi berketuhanan. Sama seperti beliau, saya melakukan untuk tanah air dan bangsa saya yang telah memberi ruang bagi saya untuk menjadi saya.

Menjadi Dewasa
Pemandangan Reza Puspo berdiri di hadapan peti jenasah ayahandanya, menjentikkan api pikir di benak saya. “This is me, father. I am standing here as myself, a son that you raised to become someone, even though not necessarily a person that you dreamed of. But, here I am, I can take all the responsibilities that might come to my shoulder. And yes, I can say, I am a person that you can be proud of.” 

Sebuah imaji akan diriku sendiri di depan ayahku yang sudah berpulang. Sebuah rangkaianstatement yang Indra Lesmana bisa sampaikan kepada ayahnya, sebetik detik bayangan yang ada di kepala saya ketika membicarakan lagu “Ayah” yang pernah dinyanyikan Indra.

Di tiap jengkal pencapaian, ada serat ayah. Di setiap jengkalnya. Di tiap helaan jeda untuk menarik nafas kepuasan. Ayah yang telah menyusupkan cinta agar kita sesuai dengan mimpinya, dan menerimanya ketika kita tak serupa dengan bayangannya.

Kini kita membuka ruang bagi sesama untuk mencintai. Kami, putra-putri dari seorang ayah, tidak selalu contoh yang tepat, tapi kami memberi kepala, rasa dan ruang bagi siapapun untuk menemukan cinta dan diri. Untuk menjadi seseorang yang mampu membagi sesuatu kelak.

Untuk setiap ayah yang telah memberikan warisnya, kami ada di tengah manusia untuk membangkit cinta atas siapa mereka dan apa kerja mereka. Terima kasih untuk kemampuan itu. Terima kasih Tuhan untuk kehadiran seorang ayah bagi kami.

(Tulisan ini dipersembahkan untuk Almarhum Bambang Sumadio, Harsono Djoened Pusponegoro, Sjahruddin, Bambang Singgih dan Jack Lemmers)

Jakarta, 4 April 2010, di sore dengan seberkas tilasan hujan 

YAKIN

Hahahahahahaha……
saya selalu tertawa kalau merenungkan kepercayaan diri a.k.a. yakin.

Yakin gue…!!!

Hahahahaha….
Yakin yang gimana nih….?????

Yakin tidak datang begitu saja. Yakin tanpa kejujuran, bisa jadi ge-er. Jujur tanpa keyakinan dalam keikhlasan dan kesabaran, bisa jadi itu menipu diri sendiri.

Itu sebabnya saya kadang secara sadar menggunakan keyakinan untuk mengusir keraguan karena sebenarnya terlalu malas untuk, dengan sabar, mengupasi masalah dengan kejujuran dan menerimanya dengan ikhlas. Akhirnya keyakinan itu gamang di saat-saat tertentu. Jadi ragu, khawatir, membanding-bandingkan, tambah tak percaya diri, dan kemudian tenggelam dalam kubang pertanyaan.

Seharusnya kita ikhlas untuk jujur akan segala sesuatunya karena itulah yang kita punya. Dan dengan keyakinan bahwa kita telah ikhlas diberi kemampuan oleh Sang Penguasa, kita bisa sabar melalui apapun. Kita ikhlas dan jujur diberi kemampuan, ikhlas untuk berproses sehingga tetap terjaga sabarnya karena yakin kita pasti mencapai yang kita inginkan.

Penyakitnya,kita sudah terburu membuat daftar keluh kesah, amarah, dan merasa hidup ini tidak adil. Ya… seperti juga yang saya kerap lakukan. Huuuuuuu…………….

Mudah-mudahan yakin saya tak pernah akan saya gadaikan karena lelah atau khayal yang saya pikir nyata.

IKHLAS

Kebanyakan orang, pak Kiai sekalipun, menghubungkan kata ikhlas dengan kerelaan melepaskan sesuatu yang kita miliki, atau kesediaan menjalankan nasib. Jarang sekali yang menghubungkan ikhlas dengan keteguhan hati untuk melakukan yang terbaik.

Mari bersepakat bahwa ikhlas itu adalah kesediaan menerima takdir. Sekarang mari kita lihat takdir kita, diberi hidup, diberi rasa, diberi otak untuk berpikir, diberi kesempatan untuk belajar, diberi kesempatan bekerja, diberi kesempatan untuk berbagi, diberi kesempatan untuk beramal, diberi kesempatan untuk menjadi hebat, diberi kemampuan untuk mencintai, diberi waktu untuk memperbaiki, diberi kesempatan untuk berubah, diberi kesempatan membahagiakan hidup diri sendiri, diberi…., diberi…., diberi…., diberi…., di….be…ri….
tak akan habis pemberian Tuhan pada kita.
Sayangnya kita cenderung berpikir negatif, membicarakan hal-hal yang buruk, senang berkutat dengan kesialan, asyik mengurai kekurang beruntungan.

Saya menamatkan pemahaman teori kata ikhlas, tapi belum juga mampu menjadi master. Masih gemar menggulati ketidak sabaran dan melamun di gerbang jujur. Keyakinan saya seperti lampu yang kurang suplai listrik, redup kadang remang-remang.

Karena ketika kita berjarak dengan jujur, akan sulit bersabar dan menuai yakin. Akhirnya, lebih banyak mengembara di nasib yang sedang berkelana. Banyak mencoba tapi jarang bertemu hasil dan ketenangan dalam kepuasan hidup diri sendiri.

Saya masih asyik berlomba dengan kegelisahan. Terkadang dia ada di depan saya, lain waktu berada sejajar di samping, dan ada kalanya saya harus melihat kaca spion karena dia sedang memburu saya. Namun gelisah itu adalah fatamorgana yang mengasyikan. Membuat saya lupa, dan sibuk memuaskan hati ketika dia berhasil saya lampaui, padahal dia setia untuk bersiap menyusul saya.

Itu yang membuat saya belum dapat ikhlas dan tenang. Saya belum sepenuhnya bahagia dengan hidup saya sendiri. Masih gelisah.