Ngomongin Jazz Mesti Ngejazz

Seperti yang tertulis di judul, “Ngomongin Jazz Mesti Ngejazz”, maksudnya untuk mengomunikasikan musik jazz perlu banyak melakukan improvisasi. Pemikiran tersebut muncul saat saya mengunjungi persiapan SuddenJazz, hari Selasa, 24 Februari 2015. SuddenJazz adalah event mingguan yang digelar di hari Selasa. Berawal dari obrolan Toni Brillianto dan Andy “Gomez” Setiawan soal minimnya tempat ber-jam session bagi musisi jazz. Padahal, setiap musisi jazz perlu melakukan jam session sebagai bentuk latihan mereka untuk mendengar dan bermain dengan musisi jazz lainnya sehingga dapat berpadu dan menghasilkan permainan yang mengasyikan. Jam session sendiri dikenal luas dari lingkungan musik jazz, meski musisi dari jenis musik lainnya juga melakukannya. Jam session ibarat diskusi yang seru dengan menggunakan instrumen musik (dan vokal). Dengan mengajak Fanny Kuncoro, SuddenJazz pertama digelar di akhir bulan Maret 2010. Teman-teman musisipun menyambut gembira.

Seperti kegiatan Musik jazz lainnya, SuddenJazz bukanlah acara yang dibanjiri penonton sehingga secara komersial menyenangkan pemilik tempat penyelenggaraan SuddenJazz saban Selasa. Hadirin kebanyakan musisi. Tentu saja, SuddenJazz tidak dilirik sponsor produk, maupun perorangan. Padahal kegiatan seperti ini perlu ditopang dengan pendanaan yang memadai.
Sebetulnya, genre musik yang satu ini justru yang paling lentur diterima orang dari berbagai suku bangsa. Lahir dari perpaduan seni bermusik berbagai suku bangsa yang berkumpul di Amerika Serikat, dalam perkembangannya, musik jazz juga paling mudah membaur dengan jenis musik suku bangsa lain di dunia, termasuk seni musik di Nusantara. Namun demikian, musik jazz yang penuh kejutan, ‘tikungan’, terbuka terhadap intepretasi, kaya improvisasi, dan amat ekspresif, sering dianggap jenis musik yang amat njlimet. Tentu saja ini mengakibatkan pertunjukan musik jazz atau tempat-tempat yang menyajikan musik jazz tak pernah ramai pengunjung. Album yang dilansir musisinya sama saja adanya. Tak banyak peminatnya.
Uniknya di Indonesia, pertunjukan jazz yang sering dihadiri hanya oleh sedikit penikmat musik, namun tidak demikian festival jazz-nya. Festival tahunan Java Jazz Festival bertahan menembus sepuluh tahun penyelenggaraannya dan festival jazz adalah festival musik yang paling banyak digelar di berbagai kota di Indonesia. Java Jazz Festival sendiri dihadiri oleh 150,000 penonton dalam tiga hari pagelaran dengan multi-stages. Agaknya, penontoton mengincar pertunjukan artis terkenal, baik internasional, maupun Indonesia. Sebenarnya, banyak musisi jazz muda yang telah punya nama datang dan ber-jam session di SuddenJazz. Hanya saja mereka terkenal bagi pencinta jazz yang jumlahnya tak terlalu banyak. Wajar saja bila SuddenJazz tak juga mampu menyedot peminat dan menghasilkan dana yang dapat menyokong acara mingguan SuddenJazz.
Suatu malam Doni menghampiri saya untuk meminta urun pikir mengomunikasikan SuddenJazz agar lebih dikenal publik pencinta musik yang lebih luas. Saya, Doni, Nengah (Sister Duke), dan Toni mulai menggodok ide untuk membuat SuddenJazz lebih berbunyi. Caranya ya ngejazz tadi. Menyusun program yang dapat diimprovisasi, lalu mengomunikasikan dengan berbagai perubahan nada dan ritme agar mampu membuat publik yang lebih luas menengok.
Hal yang kerap diabaikan dalam memulai menyusun rencana komunikasi adalah menginventaris potensi. Percaya atau tidak, dari cerita Adib Hidayat, bos redaksi majalah Rolling Stone, anak muda yang ingin berkarir di musik, bila ditanya ingin jadi musisi apa, mereka menjawab dua jenis musik, metal dan jazz. Maka tidak mengherankan bila terlihat banyak musisi muda jazz bermunculan di Indonesia. Selain ingin tampil menjajal kemampuannya di panggung dan berhadapan dengan penonton, musisi muda ini juga semangat menelorkan album. Tak banyak lahan yang secara meriah menerima mereka dan SuddenJazz merupakan satu diantara sedikitnya lingkungan yang membuka diri untuk musisi penuh semangat ini. Mulai tahun ini, SuddenJazz akan bertambah perannya sebagai komunitas yang mempromosikan musisi jazz.
SuddenJazz juga akan mengembangkan basis komunitasnya dengan perantara media sosial untuk dapat menjangkau masyarakat musik yang lebih luas agar mereka datang ke SuddenJazz. Komunikasi massa itu rajanya adalah konten dan ratunya adalah media. Maka, dari hasil inventarisir tadi, diharapkan terkumpul materi untuk disajikan lewat media, dengan jasa “si-anak emas”, media sosial. Konten akan berisi seputar live show di SuddenJazz, sharing berbagai hal mengenai bermusik dan bisnis musik, musik klinik, dan masih banyak lagi yang ada di kepala.
Tanpa harus mempunyai keahlian meramal, dapat diperhitungkan munculnya kesulitan baru, yakni musisi me-manage sebuah event. Teman musisi pemrakasa SuddenJazz sudah mampu menunjukan kerjanya sehingga kegiatan ini bisa bertahan hingga memasuki usia lima tahun, namun untuk mengembangkannya tentu diperlukan keterlibatan teman-teman pencinta jazz, non musisi, yang punya kemampuan dan bersedia berurun upaya untuk mengembangkan SuddenJazz. Gotong royong. Hal yang juga dilakukan oleh Java Jazz Festival dan Ngayogjazz dengan melibatkan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing.
Tawaran pertama datang dari Bill Atan. Jagoan crowd control ini adalah pencinta musik jazz. Ia bisa mendatangi acara seperti SuddenJazz hanya untuk break dari kepenatan kesibukannya bekerja sehari-hari. Tujuan Bill yang utama adalah agar kegiatan seperti SuddenJazz tetap ada dan teman-temannya sesama pencinta jazz bisa datang dan ikut menikmati. Itu adalah momen yang istimewa untuk Bill. Ia membuka phonebook-nya mengontak network yang ia punya, agar mereka datang ke SuddenJazz. Bill bersemangat menyuarakan SuddenJazz. Ke depan, mungkin ada bantuan lain lagi yang bisa diberikan Bill.
Mudah-mudahan tulisan ini dibaca oleh teman-teman dan mendorong untuk bergotong royong bersama agar SuddenJazz bisa terus berlanjut, berkembang, dan menularkan virus jazz kemana-mana.
Well, suddenly everybody can become jazz.

Advertisements

Berkompetisi Dalam Keberadaban

Hari ini tanggal 7 Juli 2014, 2 hari sebelum hari pemungutan suara.
Hiruk-pikuk kampanye Pemilu sudah agak berkurang karena memasuki masa tenang, meski tidak demikian adanya di sosial media.
Hujat menghujat masih terjadi, demikian pula tuduh menuduh juga terus menderu di timeline. Masing-masing berargumen punya bukti, yang sebenarnya juga belum tentu bisa diverifikasi. Saya tak akan berkomentar soal kebenaran, kesahihan niat baik dan kemampuan para kandidat, saya tertarik utak-atik soal komunikasi saja.

Saya posting beberapa fakta di Path dan Twitter yang isinya kurang lebih begini;
Gerakan massif masyarakat selalu diberi nama Gerakan Rakyat, Tuntutan Rakyat, dan sejenisnya. Padahal tidak selalu demikian kenyataannya, karena hampir selalu ada kelompok elit, punya dana, perlu mengamankan kekuasaannya, yang ingin merubah sesuatu agar sesuai dengan kepentingannya.
Satu-satunya gerakan rakyat di Indonesia yang tidak disukai negeri kapitalis (dan kolonialis), namun tetap disusupi, adalah kemerdekaan Indonesia tahun 1945.
Gerakan rakyat tahun 1965 yang menumbangkan Orde Lama, didukung negara-negara Eropa Barat, Australia, dan Amerika Serikat. Bahkan banyak tulisan yang mengatakan badan intelejen negara-negara tersebut turut membantu dan mendanai kudeta terhadap Presiden Sukarno.
Gerakan rakyat tahun 1965 dicitrakan membawa harapan baru yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Gerakan rakyat ini melahirkan rezim Orde Baru dibawah pimpinan Jenderal dan pahlawan perang Suharto, yang kini dihujat, dimaki, dan dimusuhi sebagai kenistaan. Sebuah citra yang berbanding terbalik daripada di masa awal kekuasaannya.
Tahun 1974, ada gerakan rakyat lagi, yang lagi-lagi dipelopori generasi muda dan cerdas Indonesia. Belakangan hari diuraikan bahwa itu dilatar-belakangi persaingan dua perwira tinggi TNI. Masing-masing menggerakan jaringannya, perseteruan kelompok masyarakat terjadi, korban berjatuhan, penangkapan tanpa pengadilan dilakukan, berbagai diskusi digelar, produser dan sutradaranya aman-aman saja.
Reformasi tahun 1998 merupakan gerakan rakyat yang hingga kini digaungkan dengan keras seakan seluruh masyarakat berhutang budi kepada para pelaku gerakan rakyat tersebut. Setelah Suharto dijungkalkan dari kepemimpinannya, diganti Habibie yang pertanggungjawabannya ditolak wakil rakyat yang kompak berusaha menghilangkan kekuasaan Orde Baru. Terpilihlah Gus Dur, Kiai yang lempang, keras, bicara apa adanya, dan sangat visionaris sehingga seringkali kebanyakan orang tak paham maksud Beliau. Gagasan-gagasan Beliau membuat banyak pihak khawatir, diciptakanlah kesalahan yang disiar-luaskan, plus dengan eksposur kelemahan Beliau (dengan mudah orang iba melihat Gus Dur yang buta harus dituntun jalannya, sehingga memaklumi keterbatasannya dalam memimpin pemerintahannya, sehingga dimaklumi kesalahannya, dan lebih baik diturunkan dari kursi kekuasaan dengan dasar iba, sehingga pendukungnya yang berjumlah jutaan tidak tersinggung). Orang-orang yang merongrong kekuasaan dan menurunkan Gus Dur adalah orang-orang yang mengangkatnya, dan mereka masih berada di belakang gerakan rakyat tahun 2014, dengan tokoh pujaan baru.
Produser dan sutradara yang membuat gerakan rakyat tahun 2014 masih orang-orang yang sama, dan mereka mendalami kesaktiannya membuatan gerakan rakyat dari para guru yang hadir di Orde Baru.
Hal yang menggembirakan adalah gerakan rakyat tahun 2014 terjadi di koridor aturan negeri ini, mengganti kekuasaan di masa Pemilihan Umum. Gerakan ini juga meminimalkan atribut kelompok, termasuk partai, meski tidak demikian di salah satu kandidat yang begitu yakin dengan kekuatannya.

Gerakan rakyat selalu dipersenjatai dengan amunisi hak asasi. Muncul dari kelompok independen yang seringkali didanai oleh yayasan di negara lain atau dari sumber dana tak jelas. Mesin tempurnya adalah media massa. Gerakan rakyat dari awal kemerdekaan juga memanfaatkan penguasaan media massa. Sebelum gerakan rakyat tahun 1998, penguasaan siaran radio menjadi utama. Tahun 1998, televisi dan radio menjadi juara peran utama dan peran pembantu utama. maka tahun 2014, setelah dirintis sejak tahun 2012, sosial media mengambil alih pemeran utama penyalur isyu, baru kemudian televisi dan radio. Media cetak selalu mendapat porsi khusus, meski tidak tampil di depan.

Pergerakan isyu melalui sosial media yang kemudian acapkali diwartakan oleh televisi dan radio, amat liar dan kerap dimaklumi bila kemudian akurasinya terbukti buruk. Karena kepemilikan dan redaksionalnya individu, maka sering muatannya subyektif. Namun demikian, silang menyilang informasi seperti ini memang amat seru dan diminati publik, apalagi dibumbui penulisan yang yang emosional, penuh drama, info akan segera merebak ke penjuru arah dan terkesan tak terkendali. Mirip-mirip dengan kesukaan masyarakat Indonesia terhadap film. Dramatis, seksi, sadis, seram, atau horor sekalian.

Media berita digital dan laman website yang kerap dianggap sebagai sumber berita membuat kesan sebagai pelegalisir info yang berkeliaran. Melalui akun sosial media mereka, info disuntikan ke dalam keriuhan peredaran informasi, sehingga membuat rambu-rambu lalu lintas informasi diabaikan.

Media berita dan banyak website komersial lainnya menangguk pendapatan dari penjualan ruang iklan, dan di sinilah potensi pengaruh pengarahan isyu bisa dilakukan. Tidak langsung memang, ada banyak cara melakukannya, termasuk dengan pendekatan pribadi. Sah? Tentu saja. Praktek tersebut sudah biasa dilakukan di negara lain, apalagi di negara kapitalis, yang banyak menghalalkan cara penguasaan apapun. Penguasaannya dilakukan dengan kapital. Media massa di Indonesia sebagian besar dikuasai oleh Biro Iklan asal negara yang sepanjang sejarah moderen dikenal sebagai negara imperialis.

Salah satu kekuatan kekuasaan rejim Suharto selama 32 tahun adalah penguasaan komunikasi massa, termasuk menguasai jaringan media komunikasi. Kelompok terbesar ahli komunikasi yang dengan leluasa bereksperimen dan mengaplikasikan pengetahuannya adalah intelejen militer (dan kepolisian). Selain lebih dipercaya oleh penguasa, kelompok ini punya dana, sumber daya manusia, dan jaringan, disamping memang dimanfaatkan oleh penguasa.

Pihak lain yang amat fasih dalam mengemas pesan dan penyaluran isyu adalah negara-negara maju yang selama ini telah bereksperimen di negerinya sendiri dan di negeri orang melalui jaringan intelejennya yang menumpang di perusahaan-perusahaan mereka yang membuka perwakilan di berbagai negara. Banyak pihak yang sebenarnya mengetahui bahwa diantara ekspatriat di negeri kita ini adalah agen badan intelejen negaranya.

Di posting saya yang lain, saya tulis bahwa negara kapitalis yang gemar menguasai negeri lain, terutama sumber kekayaannya, selalu berusaha memegang kekuasaan tersebut. Sementara di sisi lain, di Indonesia selalu ada individu dan kelompok yang ambisinya memperkaya diri.

Menguasai media massa, jago mengemas pesan, punya banyak pengalaman, dan memiliki dana untuk menggerakan kekuasaan dan keahlian orang. Praktek gerakan rakyat di negeri lain berhasil menjatuhkan rejim penguasa, dan menghasilkan peran saudara, lalu menyisakan rakyat yang miskin, menderita, bodoh (karena proses pendidikan terganggu peperangan), dan berhutang. Uluran bantuan akan datang dari negeri kapitalis yang beberapa tahun belakangan ini tak bisa menggerakan uangnya di dalam negeri karena krisi ekonomi. Para pemilik modal dari negara tersebut ikut rombongan bantuan negara, memberikan utang kepada negara yang dilanda perang saudara. Sebagai pembayar utang, diberikan hak mengelola kekayaan alam negeri tersebut. Melalui bantuan pendidikan disusupi cara berpikir agar sesuai dan mendukung penguasaan negeri kapitalis. Media massa disesaki hiburan yang bermuatan pesan dan nilai yang disesuaikan kebutuhan penguasa kapital. Sementara itu, melalui manuver yang lain, rakyat di negara pelaku perang saudara tetap dibuat bersiteru, dengan tajuk yang tetap sama, hak asasi.

Indonesia berkali-kali dihantam dan dipancing ke arah yang sama. Kegelisahan yang diarahkan ke pecahnya perang saudara. Berkali-kali pula letupan itu terjadi. Isyu utamanya selalu sama, hak asasi dengan praktek keadilan sosial, dan berwujud kemakmuran yang merata. Bencana sosial yang memakan korban jiwa diletup oleh berbagai isyu, ekonomi sosial, agama, suku dan lain-lain.

Hebatnya, negeri ini walau guncang ke sana kemari, mirip dihantam bencana alam, namun hingga kini harga mati Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap berdiri. NKRI tetap bertahan karena penguasa, dalam hal ini Presiden dan perangkat pemerintahannya, rakyat yang punya toleransi tinggi, dan militer beserta kepolisian yang menjaga ketertiban dan keamanan. Perekat dari ketiga unsur itu adalah tanah air dan kebangsaan. Tiap kali perlu ada upaya melapisi perekat itu dengan pesan melalui media massa, termasuk sosial media. Masyarakat Indonesia juga perlu acara yang mempersatukan dan mengekspresikan rasa untuk kemudian disebarluaskan.

Penguasaan peredaran informasi bagaikan perang. Sejarah Nusantara telah mewariskan fakta bangsa kita kalah dalam modal dana, meski negeri ini kaya aset alam. Tapi kita punya aset manusia dengan spirit persatuan dan kemerdekaan yang kuat. Perlawanan sesungguhnya adalah melawan kolonialisme moderen yang dilakukan negeri kapitalis-kolonialis. Itu hanya dapat dilakukan jika kita belajar, bekerja keras, bersatu dalam gotong royong, bukan melawan dengan permusuhan. Berkompetisi dalam keberadaban.

Sembari kita sebagai rakyat mengawasi penegakan kejujuran dalam pemungutan suara dan penghitungan suara Pemilu, kita bisa menyebarkan virus kebangsaan, belajar, kerja keras, dan gotong royong, melalui akses media massa yang kita miliki untuk berkompetisi dalam keberadaban.

Pemilu dengan Nama TUHAN

Memasuki masa kampanye dan kemudian Pemilu, di udara Nusantara ada apatisme, harapan, sikap sinis, ketidakpercayaan, amarah, ambisi, dan banyak lagi. Memilih figur untuk mewakili suara, harapan, dan kemauan masyarakat memang sulit. Apalagi memilih Presiden dan Wakilnya yang akan memimpin negeri ini selama lima tahun ke depan.
Hal yang bahkan sering diabaikan masyarakat pemegang hak pilih adalah, sudahkah kita mengenal dengan baik kandidat anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), para Calon Presiden/Calon Wakil Presiden, dan kemudian menentukan pilihan dengan nurani yang jujur untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang lebih baik di lima tahun kemuka? Kesampingkan dulu soal janji-janji kampanye dan proses Pemilu dan penghitungan suara yang berjalan dengan jujur, baik, benar, dan lancar.
Sepanjang tahun 2014, media massa, terutama media sosial, dipenuhi kritik, apatisme, cerca, hasutan, bergantian dengan janji, pujian, pembelaan yang mengantri bersama data, fakta yang kerap kemudian disanggah atau dibantah dengan penyajian data yang tak kalah serunya. Kembali lagi pada masalah semula, sudahkan pemegang hak pilih mengenal kandidat untuk kemudian memilih yang dianggap paling bisa dipercaya secara moral dan kapasitas-kapabilitasnya.

Bersumpah
Peresmian penjabatan sebuah jabatan publik selalu didahului dengan sumpah yang dimulai dengan kata-kata, “Dengan nama TUHAN”. Ini adalah bagian awal dari pertanggung jawaban. Maka hal yang pertama harus diyakini oleh masyarakat adalah apakah kandidat yang akan dipilihnya beriman kepada TUHAN atau sekedar memiliki status beragama dan menjalankan ritual karena kepantasan.
Di dalam kehidupan masyarakat yang menganut kesetaraan, kita tidak memperkarakan agama apa yang dianut seorang kandidat. Hanya saja ada satu hal yang sama dalam ajaran agama adalah kemutlakan untuk beriman kepada SANG PENCIPTA. Takut, takluk, sehingga taat kepada perintah TUHAN, menjauhi laranganNYA dan menjalankan PerintahNYA. Secara laku mudah terlihat perbedaan ketaatan beragama seseorang, karena itu di Indonesia partai yang memancangkan nilai-nilai agama sebagai bagian dari promosinya yang paling banyak muncul. Ajaran agama yang kemudian diperdagangkan untuk meraih populeritas dan dukungan. Banyak pula yang berhasil mendapatkan perolehan suara, bahkan pengikut fanatis yang memuliakan tokoh partainya sehingga saat tokoh tersebut melakukan kesalahan, pendukungnya akan menghujat penegakan hukum sebagai perbuatan melawan agama.
Setelah berkali-kali Pemilu, partai nasionalis demokrat yang menyebarkan pesan sentimentil soal penderitaan dan yang mampu menyebarkan uang receh atau janji kemakmuran bisnis kepada pemegang hak suara, terbukti lebih sukses meraih perolehan suara. Partai pembawa ketaatan beragama pernah sempat berada di nomor urut bagus dalam perolehan suara, namun di kesempatan berikutnya surut, tersalib partai berkekuatan sentimentil penderitaan, penyebaran dana tunai, dan jani kemakmuran bisnis.
Beriman kepada TUHAN YANG MAHA ESA, syarat utama pemimpin negeri dan pemegang amanat. Sayangnya, pemberi amanat alias pemegang hak suara, masih lebih suka berendam di sentimen penderitaan, lebih suka uang receh, dan lebih tergiur janji kemakmuran. Dan itu adalah hal yang sangat manusiawi.
Dalam banyak ajaran agama, sering diperingatkan agar manusia harus mengutamakan ketaatan kepada TUHAN daripada kebutuhannya sebagai manusia. Ajaran yang memaklumi kelemahan manusiawi yang berkaitan dengan fisik ketimbang iman dan nurani yang tak tampak nyata.
Jadilah sebuah kewajaran yang menyakitkan ketika kandidat yang terpilih bukan berdasarkan ktriteria keimanannya kepada TUHAN. Di partai yang tak menggadang-gadang soal agama, bukan tidak ada yang memiliki keimanan kuat kepada TUHAN, tapi figur yang populer seringkali yang mampu tampil dengan pembawa sentimen penderitaan, termasuk berperan sebagai pembela rakyat yang menderita.
Dengan kenyataan seperti demikian, sumpah yang diikrarkan akan lebih dinilai pada materi yang dijanjikan daripada ketaatan pemenuhan janji karena keimanannya kepada TUHAN. Bila TUHAN mulai menjadi bayangan bukan keutamaan, tanggung jawab sebagai manusia yang diciptakan TUHAN tak dapat dijadikan pegangan. Setelah TUHAN yang MAHA TAHU dan MAHA ADIL tak menjadi Pengawas dan Hakim Tertinggi, akibatnya penyelewengan sumpah bisa aman selama tak terbukti. Agar tak terbukti, dilakukan penyelewengan bersama dengan keuntungan dibagi bersama. Sampai tahap ini, dipastikan sulit Pemilu menghasilkan wakil rakyat dan pemimpin negara yang melaksanakan mandatnya sebagai bagian dari ibadah kepada TUHAN.

Aksesoris Kandidat
Hal yang paling mudah untuk melihat kepatuhan seseorang kepada TUHAN adalah dari perilaku ibadahnya. Itu pulalah yang bisa diperlihatkan sebagai bagian dari pencitraan sosok yang ingin bersaing sebagai kandidat dalam Pemilu. Lagi-lagi ini masalah yang dapat dilihat dan diperlihatkan. Beragamapun ada banyak sisi fisik yang bisa diperlihatkan, mulai dari pakaian hingga aksesorinya. Seseorang yang dikenal luas berkelakuan buruk dan melanggar aturan agama, kerap berdandan bagai seorang alim dan taat beragama. Faktor ‘mata’ memang sangat menentukan. Bagi orang yang tak dapat dengan cerdas memilih kandidat peserta Pemilu, apa yang terlihat menjadi faktor yang amat menentukan. Itu pula sebabnya, ketampanan atau kecantikan wajah, dapat menjadi nilai jual terpilihnya kandidat. Alasan yang sama pula, menyebabkan disebarnya foto kandidat dimana-mana. Wajah, nomor, nama itu saja yang perlu diingat. Kredibilitas, kapasitas, dan kapabilitas terlalu rumit untuk dipahami dan sangat mudah didebat. Apalagi sisi keimanan.
Hal yang kedua adalah kebaikan hati yang artinya memberikan sesuatu kepada pemegang hak pilih, termasuk uang tunai yang sebetulnya jumlahnya tak seberapa. Orang baik itu bila suka memberi. Itu adalah ukuran yang paling mudah dan paling sering digunakan dalam memilih kandidat. Pada saat kampanye, pemberian yang dihiasi dengan senyum ramah dan pesan-pesan yang mengarahkan pada wajah, nomor, dan nama tertentu, kerap disisipi dengan ancaman terselubung. Ancaman yang dihubungkan kepada tidak keberuntungan dan bahaya secara fisik. Karena itu mudah dipahami masyarakat.
Aksesori tambahan yang acapkali menjadi tujuan utama masyarakat hadir di keramaian kampanye adalah hiburan, termasuk penampilan selebriti di acara kampanye. Judul-judulannya adalah pesta perayaan, asosiasinya adalah kegembiraan. Partai dan kandidat membawa kegembiraan melalui perayaan yang seru. Hal yang lalai diingat, semua perayaan dan kegembiraan tersebut perlu biaya. Pada saat masyarakat memilih kandidat yang tidak tepat karena merasa telah diberi kegembiraan sesaat, maka biayanya adalah suara mereka membuat kandidat tersebut berkuasa selama lima tahun.
Kembali lagi mengenai wilayah ibadah, agama, dan seputarnya, tempat beribadah, perkumpulan agama semakin populer menjadi tempat tebar pesona partai dan kandidat. Lagi-lagi untuk memperlihatkan ketaatannya beragama, sekaligus jual citra fisik. Bila perwajahan kandidat bagus, menjadi cermin imaji pengikut agama tersebut sebagai pimpinan yang berpenampilan bagus. Bila kandidat tidak beruntung secara tampilan fisik, sisi kealimannya akan menjadi tata rias yang menghaluskan dan memperbaiki penampilan fisiknya.

Hujan Hujat
Aktivasi yang segera menyusul dan bersaing dengan promosi, umbar janji, dan pencitraan kandidat wakil rakyat dan Presiden/Wakil Presiden adalah kritik, sanggahan, hujat dan yang terburuk adalah fitnah dengan penistaan. Seperti halnya kegiatan promosi, pesan-pesan berlawanan juga datang bagai hujan badai. Ada saja pihak yang sangat menikmati hujan hujat, bahkan turut menambah isi dan percepatan perluasan hujan hujat. Terciptalah hutan hujat yang sangat menyesatkan. Figur kandidat yang beriman, memiliki kapasitas dan kapabilitas memimpin sering terperangkap dalam sesatnya hutan hujat.
Tidak bisa kita berharap setiap pemegang hak pilih mampu mengurai kekusutan informasi dan memilih yang akurat. Akibatnya figur yang secara moral dan kemampuan layak tampil memimpin menjadi sayup terdengar, namun tak dikenali dan jauh dari pilihan masyarakat.
Baik promosi, maupun pendiskreditan, hampir selalu berlatarbelakang uang. Komersial. Dan inilah yang terjadi, saat sebuah keputusan yang harus dimulai dari nurani dan diolah akal sehat di kehidupan yang adil dan beradab untuk mencapai kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menjadi sebuah keputusan yang didasari emosi atas dasar sentimen penderitaan untuk mencapai kegemerlapan duniawi tanpa memikirkan pertanggungjawaban di depan pengadilan akhirat.

Dengan Nama TUHAN
Di negeri yang sebagian besar kehidupan masyarakatnya masih sangat dipengaruhi ajaran TUHAN, dimana banyak hal dimulai dengan mengucapkan nama TUHAN, nilai yang telah diajarkan TUHAN justru paling sering diabaikan.
Saat ide membuat tulisan ini muncul, hanya ada satu pikiran di kepala saya soal Pemilu yang menentukan kehidupan di negeri ini lima tahun ke depan, yakni seandainya orang memahami dan menjalankan betul kata-kata “Dengan Nama TUHAN”, sehingga apapun yang diputuskan dan dilakukan setelahnya dapat membawa kebaikan bagi umat manusia. Di sisi lain, sesungguhnya apapun yang dimulai kata-kata “Dengan Nama TUHAN”, pada saat ada penyelewengan, sesedikit apapun itu, bakal membawa konsekuensi di dunia dan di akhirat. Dari hal itulah, timbul kekhawatiran bila kemampuan mengemas segala rupa ini sudah mengalihkan wajah batin dari TUHAN, meski fisiknya seperti menghadap TUHAN dan rumah-rumah ibadah tetap penuh. Apalagi kekuasaan institusi agama telah sejak berabad-abad yang lalu telah turut berkompetisi untuk berkuasa untuk kebesaran pemangku kekuasaannya. Mudah-mudahan masih ada manusia yang menjaga dan membela sumpah yang berawalan “Dengan Nama TUHAN”.

 

Namanya Glenn

Tulisan ini saya buat karena teringat ulang tahun Glenn Fredly Deviano Latuihamallo, Senin, 30 September lalu, yang undangan perayaannya, dengan segala maaf, gagal saya penuhi. Paparan berikut adalah Glenn dari sisi yang saya tahu dan saya pikir.

Pertemuan langsung pertama di awal tahun 200-an, di sebuah studio di daerah Jakarta Selatan. Saya bersama teman-teman kerja yang kebetulan teman Glenn, menyambangi studio tempat ia berlatih. Diantara pembicaraan, ia masuk ke studio dan terkadang bernyanyi sambil bermain piano. Saya lupa ia lagi membuat lagu apa, tapi liriknya amat romantis. Dan begitulah Glenn, ia memang dikenal luas dengan karyanya yang romantis. 

Pertemuan berikutnya tahun 2007, dalam rangka persiapan Java Jazz Festival. Sambutan jabat tangan disambut hangat, cara bicaranya yang riuh bersemangat, khas Nyong Ambon. Selain memang matanya yang belok, matanya membelalak saat bicara dengan antusias, dengan berbagai rujukan dan flashback. Saya juga memperhatikan lesung pipit yang membuat senyum manisnya dan memahami bagaimana banyak penggemar dari kaum Hawa kepincut.

Pada pertemuan kedua ini, saya mengenal sisi Glenn sebagai anak bangsa yang gelisah. Ia mengkritisi keterpurukan ekonomi masyarakat, ketidakadilan sosial-politik-ekonomi di berbagai daerah Indonesia. Setelah itu, beberapa kali saya bertemu dengan Glenn, dan ia lebih banyak bicara soal kepedulian sosialnya daripada musiknya, paling tidak dengan saya. 

Tahun lalu, seminggu sebelum show besarnya di Istora Senayan, Glenn lumayan intens ngobrol dengan saya. Sebagian besar pembicaraan itu soal sikap kritisnya terhadap Pemerintah dari jaman dulu sampai sekarang yang tidak juga mengupayakan dengan sungguh-sungguh keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tak peduli suku, agama, dan letak geografisnya. Bila sudah bicara hal seperti itu, mata Glenn makin membelalak, badannya maju, dengan wajah serius. Senyum manisnya jarang terlihat. Hal yang mirip, juga terjadi beberapa minggu setelahnya saat ia membicarakan peluncuran album DVD “Glenn Fredly & Bakuucakar Live at Lokananta”. Dalam peluncuran album DVD tersebut, lagi-lagi Glenn menyisipkan pesan dengan keras soal pengabaian aset dan salah satu soko guru dunia musik Indonesia pada masanya.

Glenn Fredly gigih menyuarakan kepedulian sosial. Ia tahu betul ia didengar ratusan ribu, atau bahkan jutaan penggemarnya. Ia menularkan kepedulian sosial, menyampaikan informasi yang jarang muncul di media massa pada umumnya. Glenn menjadikan dirinya media. Sebetulnya sudah banyak musisi internasional yang melakukan hal serupa, di Indonesia meski Glenn bukan satu-satunya, namun ia konsisten melakukan hal tersebut tanpa menjadi politisi di partai atau aktivis LSM. Glenn Fredly tetap seorang musisi-penyanyi dan juga anggota masyarakat yang kritis. 

Dalam bermusikpun, Glenn konsisten dengan sikap menghargai musisi senior dan peduli akan kehidupan mereka. Beberapa waktu sebelum hari ulang tahunnya, ia menengok Oom Rinto Harahap yang sedang sakit. Setelah itu ia bersama bassist Yance Manusama menggelar pertunjukan “Remembering Christ Kaihatu” yang rencananya akan dibawa rekaman dan ditampilkan di Java Jazz Festival 2014.

Glenn tidak hanya menyanyikan lagu cinta yang romantis, di setiap kesempatan ia menularkan rasa cinta tanah air, Nusantara. Ia juga menggugah rasa percaya diri bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang hebat, bukan hanya di masa lalu, tapi juga di masa depan. Glenn menitipkan pesan agar bangsa Indonesia harus berkarya apik untuk dapat bersaing dengan bangsa lain di dunia.

Glenn Fredly, selamat ulang tahun Bung. Semoga tular gugah cintamu membangkitkan bangsa ini.

 

FITRAHNYA KEMERDEKAAN

Menjelang masuk bulan Ramadhan, saya sedikit nyinyir soal bagaimana orang berubah bungkus perilaku dan pakaian menjadi alim menurut Islam. Di sisi lain, saya posting di Twitter pertanyaan akankah orang tidak korupsi, dalam berbagai bentuknya, selama bulan puasa, karena ironisnya puasa dan lebaran sering menjadi alasan orang yang berwenang, khususnya pekerja pelayanan masyarakat, untuk meminta uang, termasuk dengan cara terang-terangan dengan membawa nama keluarga di rumah.

Jadi berpuasa dan berlebaran itu apa artinya buat mereka, bahkan sebagian besar umat Islam. Selama beberapa hari bulan Ramadhan tahun ini, saya banyak posting mengenai Tuhan, manusia, hubungan manusia dengan Tuhan, beribadah dan berdoa. Membaca itu, ada beberapa teman berpikir bila saya sudah menjalankan ibadah berpuasa dengan baik. Hanya dengan kalimat yang sejalan dengan suasana Ramadhan yang dibangun oleh pikiran masyarakat, maka saya terkesan beribadah dengan baik. Saya posting seperti itu memang karena juga terbawa suasana Ramadhan, tanpa harus mengutip kalimat dari Al Qur’an dan Hadits, saya menyatakan pemikiran dan perasaan saya. Posting tersebut juga tidak dilakukan untuk pencitraan dengan satu alasan sederhana, saya tidak ingin orang melihat saya sebagai orang muslim yang baik dan bisa jadi contoh. Saya tidak mau bertanggung jawab peran seperti itu.

Ada pengertian dan pemahaman yang diikuti dengan patuh mengenai puasa dan lebaran. Penjelasan dan dasar hukum disampaikan orang-orang yang dimaterai sebagai ahli agama lengkap dengan sebutan ustaz, kiai, habib, plus nama keluarga, pesantren dan perguruan tinggi menjadi pembenaran dari pengertian dan pemahaman yang dipatuhi, dan berakibat sedikit perbaikan iman dan ibadah sesaat. Saat bulan Ramadhan dan beberapa waktu di bulan Syawal.

Mempersiapkan diri memasuki masa ibadah puasa dilakukan sebelum Ramadhan, di banyak daerah perkotaan berkembang menjadi berbagai kegiatan ‘mumpung belum puasa’. Ada lagi kegiatan belanja besar-besaran untuk membuat ibadah puasa ngangenin. Menu disusun, bahan-bahan disiapkan. Belanja busana muslim/muslimah juga masuk daftar “menyambut Ramadhan”. Sementara organisasi yang mengatasnamakan Islam telah menegakkan panji-panji penertiban, memaksa semua orang menghormati orang berpuasa. Untuk yang satu ini saya berucap “Masya Allah!!!” Bagi saya pribadi, bila untuk beribadah orang memaksakan suasana khusus, sama saja orang tersebut mendeklarasikan dirinya “WOOOIIII IMAN KAMI PAYAH, JADI KAMI TAK BISA BERIBADAH KALAU TIDAK MEMAKASA SEMUA ORANG MEMBERIKAN KONDISI YANG BIKIN KAMI TERLIHAT TAQWA BERIBADAH!!!!” Deklarasi yang menghina diri sendiri. Ibadah itu urusan pribadi manusia dengan Tuhan.

Di sisi lain, deklarasi itu pula yang menyebabkan saya paham banyak pengikut agama Islam memerlukan ustaz, kiai, habib dalam beribadah. Patuh kepada imamnya tanpa menggunakan pikiran dan nurani. Keniscayaan yang jadi iman.

Islam mensyaratkan beriman kepada Allah dulu, untuk itu wajib bersumpah atas kesaksian “Tiada tuhan selain Allah”  yang harus dilakukan dengan seluruh jiwa-raga. Hanya Allah penguasa tertinggi, tak tertaklukan, tak tertandingi, mengetahui segalanya, menentukan, disembah, tempat mengabdi,  paling pengasih, paling penyayang, dimintai pertolongan, dimintai perlindungan, paling memberikan kesejahteraan, dan paling adil. Dengan beriman dan bersumpah seperti itu, manusia akan berperikemanusiaan yang adil dan beradab. Tak berniat, berpikir apalagi berlaku jahat. Tanpa keyakinan jiwa-raga akan syarat keimanan dan ke-islam-an yang utama dan pertama tersebut, nilai keimanan dan rukun Islam yang berikutnya tak membuat manusia menjadi baik dan benar di mata Allah dan menjadi Wakil Allah di kehidupan di dunia.

Merdeka

Kalau tak salah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus, baru tahun ini diperingati di bulan Syawal, setelah selama empat tahun selalu diperingati dalam bulan Ramadhan, bulan yang seharusnya menjadi waktu bagi pemeluk agama Islam untuk merenung, memahami, dan mengusahakan dengan segala upaya kembali kepada fitrahnya manusia. Manusia, bila ia memenuhi syarat utama dan pertama sebagai orang Islam, maka ia tak punya niat, pikiran dan kelakuan yang jahat terhadap kehidupan dimana dia hidup, termasuk kepada manusia lain. Karena itu, jika sebagian besar penduduk Indonesia pemeluk agama Islam, setelah empat tahun melalui peringatan Hari Kemerdekaan dengan kembali kepada kefitrahan manusia, kehidupan rakyat Indonesia sudah manusiawi, adil dan beradab. PASTI!

Saat pemahaman arti kemerdekaan tidak berlandaskan, berorientasi dan bertujuan pada fitrahnya manusia, maka Hari Kemerdekaan akan menjadi peringatan yang penuh asesori, tak punya arti selain perayaan yang menghabiskan biaya, yang tidak akan mewariskan hakekat arti kemerdekaan kepada generasi selanjutnya dan pada akhirnya arti kemerdekaan ditentukan oleh masyarakat yang lebih dominan, menguasai dan mengatur lalu lalang informasi, tanpa pernah secara tulus mereka melakukan apapun demi kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Masyarakat dominan ini tak selalu bersuku dan berbangsa, mereka adalah masyarakat penyembah dan pengabdi “kenikmatan hidup saat masih hidup”. Merdeka adalah menikmati hidup semaksimal mungkin selagi sempat. Masyarakat ini akan mempertahankan dan memperpanjang waktu kekuasaan menikmati hidup dengan mengabaikan manusia lain yang tidak masuk di kelompok ini.

Jadi, peringatan Hari Kemerdekaan itu memberikan kemerdekaan masyarakat yang mana? Jelas bukan semua rakyat Indonesia. Arti dan ruang kemerdekaan diterjemahkan sebagai hak menuntut, menuntut, menuntut, tanpa niat pemenuhan tuntutan oleh siapapun, termasuk yang menuntut. Karena menuntut, apalagi kalau dengan emosi, itu nikmat dan memunculkan adrenalin, menimbulkan excitement, ekstasi dan membuat ketagihan.

Peringatan kemerdekaan menjadi highlight dan dibangun menjadi sebuah keagungan, sebagaimana acara Idul Fitri dengan dengan kewajiban bersilaturahmi, khususnya kepada keluarga dan itu artinya mudik,  juga acara halal bihalal berapapun ongkosnya. Hakekat kembali kefitrah manusia yang merdeka tak pernah benar-benar diaplikasikan secara iman dan perilaku.

Saya bukan pelaku ibadah yang baik, saya baru sampai meyakini dan berpegang teguh pada sumpah saya atas keimanan saya kepada Allah, satu-satunya yang saya anggap tuhan. Dalam keterbatasan itu, saya terus berdoa semoga orang Islam yang juga rakyat Indonesia ini akan bisa dengan fitrahnya sebagai manusia hidup berkemanusiaan dan sejahtera seadil-adilnya. Saya tahu itu tak akan terjadi segera, bahkan mungkin tidak dalam kehidupan saya di dunia ini. Bermodalkan nurani, pikiran dan sedikit usaha, saya senang berdoa tiap hari. Allah Maha Pemberi Keputusan dan Pengabul yang Terbaik. 

 

 

Gus Dur, Sang Garuda Indonesia

Sejak bertahun-tahun yang lalu, saya melihat Gus Dur sebagai pribadi yang merepresentasikan Indonesia. Lahir sebagai seorang muslim yang kuat dengan nilai-nilai filosofi tradisional dari keluarga pemikir dan memimpin kelompok besar orang yang menganut strata dalam tatanan hidup sosial. Meski demikian sikap dan hatinya selalu dipelihara untuk dekat dengan strata masyarakat yang terendah. Masyarakat kebanyakan.

Sebagai orang muda, Gus Dur mengejar ilmu secara formal, bukan semata mengandalkan jalur informal dan pencapaian melalui pendekatan kontemplatif. Beliau tumbuh dengan logika dan analogi yang bisa diperdebatkan. Hal mana, juga menjadi kesenangan beliau untuk berlatih-tanding pikiran. Namun demikian, Gus Dur juga tidak menanggalkan dunia kegaiban yang menyelimuti kehidupan masyarakat Indonesia.Bukan perkara setan atau tahayul, Gus Dur memahami kehidupan itu memiliki dua sisi. Bahkan Gus Dur menguasai kemampuan sisi metafisik tersebut, dan ini membuatnya menjadi sosok yang kontroversial, walau sebenarnya orang Indonesia, bahkan Asia pada umumnya, masih menggunakan serat tradisional yang mengurat pada kehidupan metafisik.

Gus Dur yang egaliter, memperlihatkan kehidupan bersahaja, sebangun dengan kebanyakan rakyat Indonesia yang masih miskin. Gus Dur juga menguasai bahasa asing, bahkan anaknya menguasai lebih dari satu bahasa asing. Kemampuan mengadaptasi pergaulan internasional dan perubahan tatanan kehidupan moderen juga diperlihatkan Gus Dur. Ia berteman dengan semua orang dari semua bangsa dan aliran idealisme. Gus Dur yang sederhana juga tidak anti kemapanan dan teknologi yang memberikan kemewahan akan kenyamanan.

Dan Gus Dur tidak berbalut pencitraan yang direkayasa. Apa yang ditampilkan adalah pencapaian. Seloroh dan guyonnya bisa menyitir kerumitan, maupun menggugat dalam kesederhanaan.Menyindir kehidupan orang Indonesia yang suka membelitkan kehidupan dengan kerumitan, meski hal yang dipermasalahkan dapat diselesaikan dengan keikhlasan.

Gus Dur sebagai pemimpin, sayapnya melindungi masyarakat lebih teduh dari pohon besar, lebih gagah dari banteng, lebih kuat dari perisai demokrasi, dan lebih berwarna dari panji-panji kedaerahan. Ke-Indoenesia-an Gus Dur bukan lagi berupa tameng Pancasila, tapi tertanam di dalam dada dan mengalir di penjuru nadinya. Kesantunannya terbuka, merunduk ketika bicara kepada sesuatu yang patut dihormati, berdiri tegak ketika membela kebenaran. Ketika harus menjadi guru, Gus Dur berbahasa dengan tutur yang mudah dicerna dengan gugat pikiran yang lembut. Di saat lain sebagai kritisi, Gus Dur bisa mengatakan kenyataan dengan telanjang kata. Membuatnya dikutuki lawan berpikir. Gus Dur tidak pernah mempermasalahkan itu, karena beliau memahami perbedaan pendekatan.

Sekitar Maghrib, 30 Desember 2009, Gus Dur pergi. Garuda Indonesia yang telah berpuluh tahun mengawal pendewasaan bangsa Indonesia membumbung tinggi, menanti di ruang tunggu untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Tegurannya tak akan terdengar lagi, hadirnya tak menggugat lagi. Tinggal pemikirannya yang menjadi pekerjaan rumah untuk dibuahi dan dipanen kelak.

Gus Dur, Sang Garuda Indonesia. Garudaku sebagai bangsa Indonesia!