Belajar Seumur Hidup

Saya bukanlah seorang murid di kelas yang layak dicontoh. Pernah nggak naik kelas, dikeluarkan dari sekolah, biang membolos waktu di SMP, mengajak teman sekelas ke Puncak di waktu pelajaran sekolah, dan kuliahpun sangat amat lammmmmmmmmaaaa… Saya tak pernah merencanakan bekerja sebagai dosen sebelum akhirnya pada tahun 1994 melamar di Kampus Tercinta, tempat saya pernah menuntut ilmu. Sayangnya saya tidak diterima mengajar di sana. Mungkin karena rekor lamanya kuliah di sana yang jarang tertandingi. Tahun 1996, saya ditawari mengajar di Program D3 FSUI (sebelum berganti menjadi FIB) UI, Depok. Saya mulai mengajar mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi dan Pengantar Ilmu Periklanan sebagai paket mata kuliah pilihan sejak awal tahun 1997. Bertahun-tahun kemudian, saya merangkap menjadi pengajar di Program Studi Komunikasi FISIP Universita Al Azhar Indonesia (UAI) di tahun 2006. Di masa mengajar itulah saya menemukan kenikmatan membuka ruang pikir mahasiswa saya. Menguak horison pikir yang mereka belum atau baru sedikit jelajahi.

Selama bertahun-tahun itu pula, sebenarnya saya lebih banyak berbagi pengetahuan dan pengalaman di luar ruang kuliah. Beberapa diantaranya masih berkesempatan bertemu hingga hari ini. Pertanyaannya tentu berbeda, tapi dalam banyak kesempatan obrolan itu saya masih “mengajar” mereka, termasuk memotivasi mereka. Bahkan saya beberapa kali diundang mengajar sebagai dosen tamu di kelas dimana mantan murid saya mengajar.

Tahun 2010 Program Diploma FIB UI tidak lagi menerima murid baru dan saya berhenti mengajar di sana, sementara di UAI saya masih mengajar seminggu sekali. Bulan Oktober 2013, untuk pertama kalinya saya berhenti bekerja sebagai dosen. Agak aneh awalnya, namun lama-lama terbiasa juga untuk tidak datang ke kampus.

Pada tahun 1998-an, seorang sahabat, komikus “Oom” Firman Rachim, mengatakan “Wid, eloe tuh guru. ‘Ampe kapan juga bawaan loe ngajarnerangin orang. Emang gitu peran loe.” Saat itu perkataan “Oom” Firman saya anggap sambil lalu saja, karena memang saya bekerja sebagai dosen. 15 tahun kemudian saya baru meng-amin-i perkataan “Oom” Firman, karena meski saya tak lagi bekerja sebagai dosen, dimanapun saya nongkrong, selalu ada saja orang datang bertanya. Kegiatan yang berjalan beriringan dengan hal tersebut adalah saya selalu menemukan orang yang menambah pengetahuan saya. Selalu ada saja hal yang saya bertambah paham atau baru tahu.

Di sisi lain, saya masih membaca buku untuk mencocokan apakah yang saya pahami dari mempelajari atau menganalisis itu benar, terutama yang berkaitan dengan ilmu dan praktik komunikasi. Alhamdulillah, sejak remaja saya mudah sekali menghubungkan satu informasi atau pengetahuan dengan pengetahuan yang lain, baik itu berupa kejadian, maupun suatu pemahaman. Semakin lama, semakin baik presisinya. Tentu tidak setiap pemikiran saya tepat adanya.

Beberapa bulan belakangan ini saya banyak bergaul dengan orang-orang yang berlatar belakang pendidikan pesantren, diantara mereka ada yang melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang Master di perguruan tinggi. Hal yang mengejutkan saya adalah begitu banyak ilmu pengetahuan yang mereka miliki mampu menjungkirkan kenyamanan saya dari tempat duduk di ruang pikir saya. Mulai dari ilmu sejarah, pengetahuan umum, hingga ilmu soal hidup. Sebenarnya saya belajar soal religi sejak tahun 1997 dan saya mendapatkan banyak hal. Namun belakangan ini berbagai uraian dari teman-teman lulusan pesantren ini begitu sering melontarkan saya ke pemikiran-pemikiran baru.

Sebagaimana kebanyakan orang di luar lingkungan pesantren, saya juga meyakini pendidikan formal yang direstui Pemerintah sudah amat ampuh. Pengetahuan dari pendidikan formal banyak dari kerangka pemikiran “Barat” yang dianggap lebih unggul dari cara pendidikan dan buah pemikiran dari tradisi “Timur” yang secara jelas dipropagandakan sebagai “negara dunia ketiga” yang tidak secanggih dan seakurat yang berasal dari “dunia Barat”. Saya juga baru tahu bahwa tokoh pendidikan nasional, seperti dr. Soetomo dan Ki Hajar Dewantara pernah menyatakan bahwa basis pendidikan Indonesia di masa depan adalah pesantren. Tentu konteksnya tidak semata pesantren yang mendasari semua pengajarannya kepada agama Islam, tapi pendidikan yang mengakar pada tradisi, adat isitadat, seni budaya, dan nilai luhur suku bangsa di Nusantara. Pemikiran yang ditentang dan dimenangkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana yang memang berpihak ke pemikiran “Barat”. Hingga kini, sistem pendidikan yang diakui secara resmi dan dibiayai oleh Pemerintah tetap yang mengacu ke sistem pemikiran dan pendidikan “Barat”. Pesantren diakui tapi tidak dianggap sebagai sistem pendidikan resmi negara dan hanya didanai bila melengkapi pendidikannya dengan sistem pendidikan yang disebut moderen oleh masyarakat.

Saya tidak membuat tulisan ini untuk mengkritisi hal tersebut, namun saya ingin menyampaikan bahwa di luar bangku sekolah formal ada pencetak pemikir bangsa ini yang memiliki pengetahuan yang luar biasa di Nusantara. Pendidikan yang tidak menaruh pengajaran agama sebagai keharusan pemenuhan nilai di rapor semata, tapi pengajaran pengetahuan imaji dan spiritual yang membuat lulusannya memahami ilmu tanpa mengenyampingkan asal muasal kegunaan ilmu pengetahuan yang semuanya berasal dari TUHAN. Tokoh-tokoh pendidik di pesantren mewajibkan muridnya untuk mendahulukan ibadah kepada TUHAN, dimana praktik ilmu digunakan semata-mata untuk mendekatkan manusia kepada Penciptanya. Dalam kerangka ini, ilmu pengetahuan tidak dipraktikan untuk menghasilkan efek negatif bagi masyarakat. Lebih daripada itu, harmoni yang tercipta dari praktik ilmu pengetahuan akan menjadi bagian yang melestarikan kehidupan sebagai bagian dari ibadah kepada TUHAN.

Pengajaran seperti ini telah ada di pemikiran dan sistem pendidikan pesantren berabad-abad yang lalu dan hingga kini, atau justru saat ini, makin dibutuhkan karena banyak kebencian dan perusakan terjadi di muka bumi, termasuk pemecah belahan kerukunan umat manusia di seluruh dunia.

Sayapun terhenyak atas kenyataan ini dan memaklumi bahwa tak akan cukup umur yang diberikan Sang Maha Kuasa untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang IA telah turunkan sejak menghadirkan manusia di alam fana. Selalu ada nilai manusia dan ketuhanan dalam setiap jejak ilmu pengetahuan. Saat ilmu pengetahuan menjauhkan manusia dengan hakekat manusia sebagai pengabdi TUHAN dan TUHAN itu sendiri, ilmu pengetahuan dapat membawa kepaa kehancuran. Hal yang memang telah Difirmankan oleh TUHAN sendiri melalui berbagai pendekatan agama atau kepercayaan manusia kepada TUHAN.

Saya menetapkan hidup untuk terus belajar dan berbagi hingga akhir hayat saya. Mungkin tak banyak yang saya bisa bagikan, tapi mudah-mudahan cukup untuk menyelamatkan saya di kehidupan berikutnya. Insya’ALLAH.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s