LAUNCHING ALBUM MUSIK

Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri launching album Indro Hardjodikoro The Finger di acara Jazz Spot di Kemang Timur. Salah satu obrolan di sisi lain acara adalah kurang antusiasnya sesi tanya jawab dengan media yang biasanya berbuntut lemahnya pemberitaan berkaitan dengan albumnya itu sendiri. Hal yang hampir selalu terjadi di setiap peluncuran album. Cerita lain lagi adalah di suatu acara bincang-bincang di Salihara, Irsa Destiwi mengkritisi soal minimnya liputan media akan karya dan kiprah musisi jazz di Indonesia yang dalam sepuluh tahun ini makin bagus permainannya dan makin banyak berkarya. Salah satu hal yang diungkapkan dalam pembicaraan tersebut adalah sedikitnya pengetahuan wartawan soal musik, apalagi musik yang dianggap rumit seperti musik jazz.

Faktor utama dari lemahnya tulisan soal musik di Indonesia untuk sisi manapun adalah langkanya penulis yang memahami ilmu musik. Lebih langka lagi yang bekerja sebagai wartawan. Akibatnya, penulisan soal musik hanya berkisar soal liputan acara atau catatan sejarah, bukan membicarakan karya. Di negara yang lebih maju iklim industri musiknya, terdapat lebih banyak penulis musik yang memperdalam ilmu musik, baik secara formal, maupun otodidak.

Obrolan dengan beberapa teman yang mencermati keadaan tersebut tertuju pada pemikiran yang kurang lebih sama, tidak selalu launching album musik perlu diliput oleh sejumlah besar media. Musik jazz misalnya, penikmatnya memang lebih kecil jumlahnya, tak sebanyak musik pop, misalnya. Banyaknya media yang diundang, tak berarti mereka akan hadir semua ke acara launching album. Kebanyakan pertimbangan media mengutus wartawannya datang meliput adalah berkaitan dengan musisi yang punya hajat. Bila dikenal luas oleh publik, selama ini kehidupannya banyak diliput media, dianggap akan dapat menarik perhatian audiens untuk mengikuti pemberitaan. Musiknya sendiri ditulis sambil lalu. Sekali lagi, karena kurangnya pengetahuan peliput dan penulis soal musik.

Hal yang mirip juga terjadi pada acara musik. Pihak organizer kebanyakan penggemar musik yang melibatkan musisi untuk membangun acara. Padahal produksi acara musik hidup, sebaiknya melibatkan produser yang memahami proses produksi acara musik dan memiliki pengetahuan kurasi musik. Akibatnya banyak acara musik yang berlangsung sukses dari skala serunya acara dan banyaknya penonton, bukan dari mutu acara dan musik yang disajikan.

Launching Album

Minimnya pengetahuan peliput acara launching album, menghasilkan hasil liputan yang ditulis pendek dari hasil mengadaptasi siaran pers. Diskusi yang dibangun melalui sesi tanya-jawab tak berjalan sehingga informasi yang tergalipun sedikit. Beruntung ada sosok seperti Dion Momongan, Bens Leo, atau dulu ada Almarhum Denny Sakrie yang bisa memancing pembicaraan dengan pertanyaan yang bagus, sehingga musisi dan produsernya dapat memberikan informasi lebih banyak. Namun kebanyakan acara launching album dibawakan oleh moderator yang terkenal meski pengetahuan mengenai musiknya minim juga. Acara konferensi pers dibawakan berdasarkan script yang tak dilengkapi pertanyaan yang dapat menggali informasi soal musik dan proses produksinya.

Kendala penulisan liputan tak terjadi di musisi musik pop, apalagi bila musisinya pandai bicara. Begitupun, tulisan yang dipublikasi media masih kurang mengulas soal sisi musik dan proses produksinya.

Salah satu jalan keluar yang dapat dilakukan adalah mengundang lebih sedikit wartawan dan diutamakan yang memiliki editor musik di medianya. Bentuk acaranya bisa dibuat seperti coffee break, dengan susunan meja yang dapat mengakomodir lalu lintas komunikasi yang akrab. Acara diselenggarakan di ruang yang lmemiliki akustik ruang yang baik. Selain musisi, produser, libatkan pula pengamat musik sebagai narasumber. Moderator tidak hanya di-brief bagaimana memandu acaranya, tapi sebelumnya diajak diskusi soal musisi, musik, dan albumnya sehingga product knowledge-nya mencukupi.

Skenario acara atau yang kerap disebut run down tidak hanya berisi susunan acara tapi dilengkapi informasi cukup dan pertanyaan pancingan yang didiskusikan sebelumnya. Hal ini dapat menghindari macetnya acara tanya-jawab. Konferensi pers kemudian dilaksanakan dengan desain acara seperti berdiskusi. Bentuk seperti ini, dengan jumlah wartawan yang lebih sedikit akan membuat jalannya acara lebih terfokus.

Salah satu yang kerap diabaikan dalam launching album adalah membicarakan lagu-lagu yang terdapat di dalam album. Seringkali, setiap lagu memiliki cerita menarik, termasuk dalam soal produksinya. Banyak cara bercerita soal lagu di album yang sedang diluncurkan. Dapat dengan memperdengarkan penggalan musiknya, lalu diikuti penjelasannya. Memainkan secara langsung live, dan musisinya memberikan penjelasan soal lagu dan proses produksinya.

Setelah acara diskusi, berikan waktu leluasa bagi wartawan untuk berbincang-bincang sambil menikmati hidangan bersama musisi.

Materi Informasi

Jangan pelit menulis informasi soal musisi, musiknya, serta album yang akan diluncurkan, terutama bila musisi atau band yang meluncurkan album bukan selebriti media massa. Tulis profil musisi, dari mulai nama lengkapnya, data pribadinya, pendidikan musiknya, perjalanan musiknya, instrumen yang dimainkan, jenis musik yang memengaruhinya. Tulis pula soal lagu dan ceritanya, meski saat di kenferensi pers akan dibicarakan lagi.

Ada wartawan yang menulis sendiri beritanya, ada pula yang penulisnya bukan peliput acara. Karena itu, siaran pers selain dicetak dan dibagikan pada saat konferensi pers, kirim juga via e-mail. Hal ini mengurangi resiko salah menulis keterangan, dan detil album yang diluncurkan. Semakin banyak informasi yang bisa dibagikan akan membuat pihak media lebih leluasa memilih sudut pemberitaan.

Kirimkan materi informasi melalui e-mail, lengkap dengan foto liputan, foto resmi dari musisi, dan foto cover albumnya, segera setelah acara. Tuliskan link situs yang menampilkan informasi lain soal musisi dan musiknya, termasuk kanal klip video lagu yang ada di album tersebut.

Materi informasi yang sama dikirimkan pula ke media elektronik dan digital yang bersedia mewawancara musisi dalam rangka peluncuran album yang bersangkutan.

Khusus bagi musisi beraliran musik yang memiliki selected audiences seperti musik jazz, metal, kontemporer, atau klasik, ada baiknya meluncurkan album di “sarang” musik tersebut biasa dimainkan. Misalnya, musisi jazz meluncurkan album di jazz club, dengan demikian suasana akan terbangun dengan sendirinya. Suasana tersebut akan lebih semarak bila penggemar dan musisi genre tersebut diundang secara terbatas.

Mudah-mudahan di kesempatan berikutnya peluncuran album musik dapat menghasilkan liputan yang lebih memadai.

Advertisements

One thought on “LAUNCHING ALBUM MUSIK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s