Ngomongin Jazz Mesti Ngejazz

Seperti yang tertulis di judul, “Ngomongin Jazz Mesti Ngejazz”, maksudnya untuk mengomunikasikan musik jazz perlu banyak melakukan improvisasi. Pemikiran tersebut muncul saat saya mengunjungi persiapan SuddenJazz, hari Selasa, 24 Februari 2015. SuddenJazz adalah event mingguan yang digelar di hari Selasa. Berawal dari obrolan Toni Brillianto dan Andy “Gomez” Setiawan soal minimnya tempat ber-jam session bagi musisi jazz. Padahal, setiap musisi jazz perlu melakukan jam session sebagai bentuk latihan mereka untuk mendengar dan bermain dengan musisi jazz lainnya sehingga dapat berpadu dan menghasilkan permainan yang mengasyikan. Jam session sendiri dikenal luas dari lingkungan musik jazz, meski musisi dari jenis musik lainnya juga melakukannya. Jam session ibarat diskusi yang seru dengan menggunakan instrumen musik (dan vokal). Dengan mengajak Fanny Kuncoro, SuddenJazz pertama digelar di akhir bulan Maret 2010. Teman-teman musisipun menyambut gembira.

Seperti kegiatan Musik jazz lainnya, SuddenJazz bukanlah acara yang dibanjiri penonton sehingga secara komersial menyenangkan pemilik tempat penyelenggaraan SuddenJazz saban Selasa. Hadirin kebanyakan musisi. Tentu saja, SuddenJazz tidak dilirik sponsor produk, maupun perorangan. Padahal kegiatan seperti ini perlu ditopang dengan pendanaan yang memadai.
Sebetulnya, genre musik yang satu ini justru yang paling lentur diterima orang dari berbagai suku bangsa. Lahir dari perpaduan seni bermusik berbagai suku bangsa yang berkumpul di Amerika Serikat, dalam perkembangannya, musik jazz juga paling mudah membaur dengan jenis musik suku bangsa lain di dunia, termasuk seni musik di Nusantara. Namun demikian, musik jazz yang penuh kejutan, ‘tikungan’, terbuka terhadap intepretasi, kaya improvisasi, dan amat ekspresif, sering dianggap jenis musik yang amat njlimet. Tentu saja ini mengakibatkan pertunjukan musik jazz atau tempat-tempat yang menyajikan musik jazz tak pernah ramai pengunjung. Album yang dilansir musisinya sama saja adanya. Tak banyak peminatnya.
Uniknya di Indonesia, pertunjukan jazz yang sering dihadiri hanya oleh sedikit penikmat musik, namun tidak demikian festival jazz-nya. Festival tahunan Java Jazz Festival bertahan menembus sepuluh tahun penyelenggaraannya dan festival jazz adalah festival musik yang paling banyak digelar di berbagai kota di Indonesia. Java Jazz Festival sendiri dihadiri oleh 150,000 penonton dalam tiga hari pagelaran dengan multi-stages. Agaknya, penontoton mengincar pertunjukan artis terkenal, baik internasional, maupun Indonesia. Sebenarnya, banyak musisi jazz muda yang telah punya nama datang dan ber-jam session di SuddenJazz. Hanya saja mereka terkenal bagi pencinta jazz yang jumlahnya tak terlalu banyak. Wajar saja bila SuddenJazz tak juga mampu menyedot peminat dan menghasilkan dana yang dapat menyokong acara mingguan SuddenJazz.
Suatu malam Doni menghampiri saya untuk meminta urun pikir mengomunikasikan SuddenJazz agar lebih dikenal publik pencinta musik yang lebih luas. Saya, Doni, Nengah (Sister Duke), dan Toni mulai menggodok ide untuk membuat SuddenJazz lebih berbunyi. Caranya ya ngejazz tadi. Menyusun program yang dapat diimprovisasi, lalu mengomunikasikan dengan berbagai perubahan nada dan ritme agar mampu membuat publik yang lebih luas menengok.
Hal yang kerap diabaikan dalam memulai menyusun rencana komunikasi adalah menginventaris potensi. Percaya atau tidak, dari cerita Adib Hidayat, bos redaksi majalah Rolling Stone, anak muda yang ingin berkarir di musik, bila ditanya ingin jadi musisi apa, mereka menjawab dua jenis musik, metal dan jazz. Maka tidak mengherankan bila terlihat banyak musisi muda jazz bermunculan di Indonesia. Selain ingin tampil menjajal kemampuannya di panggung dan berhadapan dengan penonton, musisi muda ini juga semangat menelorkan album. Tak banyak lahan yang secara meriah menerima mereka dan SuddenJazz merupakan satu diantara sedikitnya lingkungan yang membuka diri untuk musisi penuh semangat ini. Mulai tahun ini, SuddenJazz akan bertambah perannya sebagai komunitas yang mempromosikan musisi jazz.
SuddenJazz juga akan mengembangkan basis komunitasnya dengan perantara media sosial untuk dapat menjangkau masyarakat musik yang lebih luas agar mereka datang ke SuddenJazz. Komunikasi massa itu rajanya adalah konten dan ratunya adalah media. Maka, dari hasil inventarisir tadi, diharapkan terkumpul materi untuk disajikan lewat media, dengan jasa “si-anak emas”, media sosial. Konten akan berisi seputar live show di SuddenJazz, sharing berbagai hal mengenai bermusik dan bisnis musik, musik klinik, dan masih banyak lagi yang ada di kepala.
Tanpa harus mempunyai keahlian meramal, dapat diperhitungkan munculnya kesulitan baru, yakni musisi me-manage sebuah event. Teman musisi pemrakasa SuddenJazz sudah mampu menunjukan kerjanya sehingga kegiatan ini bisa bertahan hingga memasuki usia lima tahun, namun untuk mengembangkannya tentu diperlukan keterlibatan teman-teman pencinta jazz, non musisi, yang punya kemampuan dan bersedia berurun upaya untuk mengembangkan SuddenJazz. Gotong royong. Hal yang juga dilakukan oleh Java Jazz Festival dan Ngayogjazz dengan melibatkan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing.
Tawaran pertama datang dari Bill Atan. Jagoan crowd control ini adalah pencinta musik jazz. Ia bisa mendatangi acara seperti SuddenJazz hanya untuk break dari kepenatan kesibukannya bekerja sehari-hari. Tujuan Bill yang utama adalah agar kegiatan seperti SuddenJazz tetap ada dan teman-temannya sesama pencinta jazz bisa datang dan ikut menikmati. Itu adalah momen yang istimewa untuk Bill. Ia membuka phonebook-nya mengontak network yang ia punya, agar mereka datang ke SuddenJazz. Bill bersemangat menyuarakan SuddenJazz. Ke depan, mungkin ada bantuan lain lagi yang bisa diberikan Bill.
Mudah-mudahan tulisan ini dibaca oleh teman-teman dan mendorong untuk bergotong royong bersama agar SuddenJazz bisa terus berlanjut, berkembang, dan menularkan virus jazz kemana-mana.
Well, suddenly everybody can become jazz.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s