Denny Sakrie, Teman Parkir Kami

Tidak ingat bagaimana kami berkenalan, yang saya ingat adalah obrolan panjang pertama kami terjadi di akhir paruh kedua tahun 2008, di kantor Pak Peter Gontha. Selain membicarakan musisi internasional yang akan tampil di Java Jazz Festival 2009, Denny Sakrie juga ngobrol soal bekerja sebagai freelance. Kesannya pada waktu itu, Denny masih ragu-ragu untuk tetap bekerja freelance atau balik lagi jadi penyiar tetap di radio. Kebetulan sepanjang karir saya adalah pekerja freelance. Tapi nggak tau juga kenapa dia jadikan saya referensi.

Setelah pertemuan itu, saya kerap ngobrol, guyonan, dan nggosip bersama Denny. Meski kami relatif akrab bila ngobrol, tapi kami sebenarnya tidak berteman baik dalam kehidupan pribadi. Kalau Denny kenal baik dengan Nirmala, itu karena Nirmala dulu mengurus kepentingan teman-teman wartawan dan penulis untuk Java Festival Production (JFP). Di sisi lain, saya hanya pernah diperkenalkan dan bertemu beberapa kali istri dan anak Denny Sakrie, tanpa kami ngobrol lebih jauh. Kamipun tak pernah bertukar cerita soal kehidupan pribadi, meski tidak melulu ngobrol pekerjaan.

Melalui media sosial, kami sering bertegur sapa, pertemuan bertambah frekuensi bila mendekati penyelenggaraan festival musik produksi JFP. Denny memang termasuk orang-orang khusus yang selalu disediakan ID Card. Seperti telah dikenal banyak orang, Denny selalu mendukung penyelenggaraan musik di Indonesia, disamping merupakan supporter tetap musisi Indonesia. Belum lagi, Denny Sakrie, mungkin satu-satunya pencatat sebagian besar peristiwa musik di Indonesia secara lengkap, tidak terbatas genre tertentu.

Parkir

Akhir 2010, berawal dari tegur sapa di Twitter, kami berdua dan Aldo bersepakat ketemu di Senayan City. Spot tongkrongan ditentukan pada waktunya. Jadilah akhirnya kami memilih café Tator yang menyajikan kopi sedap dan singkong bawang putih goreng yang enak.

Saat itu, saya baru bergabung di First Media. Pertama kali jadi pegawai kantoran, setelah hampir seluruh hidup bekerja saya menjadi freelance. Denny sibuk dengan menulis artikel dan buku, serta menjadi narasumber berbagai media. Aldo sedang beride pindah ke Medan, kalau nggak salah. Kesamaan kami adalah sedang “galau” mengenai hal yang sedang kami kerjakan dan akan kerjakan ke depan. Kami galau karena begitu banyak hal yang harus dikerjakan dan sebenarnya perlu gotong-royong banyak orang untuk menyelesaikan apa yang ada di pemikiran kami.

Kesimpulan obrolan sore hingga malam itu adalah, kami sepakat belajar dan menekuni apapun yang kita kerjakan, dimanapun tanah dipijak. Kami belajar memahami dimana kami “parkir”. Dan itulah kali pertama istilah “parkir” kami gunakan untuk menamai pertemuan kami.

“Parkir” menjadi waktu dimana kita ngobrol ngalor-ngidul soal musik, perkembangan musik, hal yang sedang kita kerjakan, hidup, nilai hidup, moral, saling memotivasi, dan… ini menu asyiknya, gosip!

Selain kami bertiga, ada saja teman yang ikut bergabung. Salah satu pembicaraan yang terjadi di “parkiran” adalah launching album “Bobby Limijaya 8 Horns with Budapest Jazz Orchestra” yang dibuat dalam bentuk sharing discussion.

Dalam keseharian sebenarnya saya jarang bertemu dengan Denny dan Aldo. “Parkir”-pun jadwalnya tak tentu, tergantung kesempatan luangnya. Kadang saya dan Aldo ngobrol, Denny sibuk mondar-mandir menjadi narasumber berbagai media. Pernah pula, Denny diwawancara di sebelah kami.

Hal yang membuat kami erat dengan “parkir”, karena kami selalu mengolah pikir dan gelisah oleh begitu banyak hal yang tidak berjalan sebagaimana sebaiknya. Kami sama-sama bawel soal berbagai hal. Salah satu yang berkali-kali kita singgung adalah minimnya catatan perjalanan musik di Indonesia. Soal ini, Denny ahlinya. Aldo juga banyak tahu sejarah, sedang saya hanya sepotong di sana-sini. Saya banyak belajar dari penjelasan Denny.

Menutup Pertemuan dengan Berkaraoke

Awal bulan Desember, Denny mengusulkan “parkir” sebelum tutup tahun 2014. Kami memang sudah lama tidak “parkir” bertiga. Denny dan Aldo sebetulnya lebih kerap bertemu dan ngobrol. Disepakatilah tanggal pertemuan pada 24 Desember.

Seperti yang selalu terjadi, saya mendarat di café Tator paling awal. Menyusul Aldo yang datang dengan Kara Mindy. Kemudian menyusul, Pipit Djatma dan Cut Memey yang memperdengarkan single dari Cut Memey yang baru dilansir di media digital. Noey dari Java Jive juga sempat mampir dan berfoto bersama.

Saya beberapa kali menanyakan perkembangan buku perjalanan musik yang sedang ditulis Denny Sakrie, “100 Tahun Perjalan Musik Indonesia”. Denny menjelaskan, dia masih terus mendapatkan data baru yang mempengaruhi penulisan buku tersebut, sehingga belum juga selesai. Pertanyaan seputar buku masih saya sampaikan sewaktu kita berjalan ke arah karaoke. Hal yang memang tidak biasa saat “parkir” malam itu. Aldo dari sore sudah mengajak berkaraoke untuk mengakhiri “parkir” malam itu. Denny awalnya enggan, tapi kami berhasil membujuknya.

Sekitar 15 menit pertama, kami seperti orang bodoh tak mampu mengoperasikan remote untuk berkaraoke. Ketika akhirnya kami bisa berkaraoke, Aldo dan Denny yang banyak memilih lagu. Kami bertiga bernyanyi-nyanyi, sementara Kara dan Nirmala yang juga bersama kami hanya senyum-senyum melihat kami.

Untuk pertama kalinya, kami semua mendengarkan suara Denny Sakrie menyanyi. Cukup bagus dengan segala falsetto mengikuti lagu Bee Gees. Tidak sesempurna tuntutan Teh Iie kalau jadi juri, tapi lumayan merdu. Lagu dari grup Toto, Stevie Wonder, Broery Pesolima, dinyanyikan dengan lancar. Saya tidak tahu apakah Denny memang hafal lirik lagu seperti paham perjalanan karir musisi yang lagunya dinyanyikan, atau semata membaca teks liriknya. Dia menyanyi dengan penuh perasaan, sambil diselingi tawa kami bertiga.

Lewat tengah malam, kami pulang. Denny naik taksi pertama yang ada, karena rumahnya paling jauh. Bersalaman dan berjanji untuk “parkir” di bulan pertama 2015, lalu Denny menutup pintu taksi. Itulah terakhir kami semua melihat Denny. Denny tak akan datang “parkir” bersama kami lagi, ia dipanggil Pemilik Hidup untuk mendahului kami “parkir” di alam berikutnya. Sabtu tanggal 3 Januari 2015, saya diberitahu Denny Sakrie meninggal dunia. Saya dan Aldo kehilangan saudara “parkir” kami yang sarat dengan informasi dan ide.

“Mas Den, sabar ya menunggu kami parkir di tempat baru.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s