Dari Pancasila Sampai Ilmu Komunikasi Dan Kemasan

Tiap kali mendengar cerita bagaimana negeri ini dikerjai bangsa lain, tiap kali pula harus menelan kenyataan bahwa kita tak melakukan perlawanan dengan baik dan cerdas. KemajuanTeknologi Ilmu Komunikasi (TIK) sering dibicarakan, namun tak cukup dimanfaatkan untuk melakukan counter dalam peperangan pengaruh dengan negara lain, terutama bangsa Eropa dan Amerika Serikat.

Sejak lama sebenarnya,  sudah dimaklumi bahwa untuk menguasai dunia diharuskan menguasai jalur dan arus informasi a.k.a. komunikasi. Sebelum ada kemajuan TIK yang mengakibatkan kekuatan media massa menjadi begitu hebatnya, terutama setelah diberlakukannya internet untuk publik dunia, penguasa di Eropa dan Amerika Serikat sudah memahami pentingnya penguasaan catatan sejarah dan data untuk dapat memahami bangsa dan daerah yang ingin dikuasainya. Bahkan sejak sebelum Masehi, kesadaran itu sudah mulai muncul.Karena itulah mereka mengumpulkan informasi yang diperoleh dari para pedagang dan pelaut yang melakukan perjalanan ke berbagai penjuru dunia. Hal yang sama sebenarnya telah dilakukan oleh bangsa India dan Cina, hanya saja tiap kali berganti generasi, catatan-catatan tersebut dimusnahkan dengan maksud menghapuskan sisa-sisa kejayaan penguasa sebelumnya.

Bangsa-bangsa di Eropa telah berabad-abad melakukan penjelajahan darat dan laut, mengumpulkan data dan benda peninggalan sejarah untuk kemudian dikumpulkan, dipelajari, disusun menjadi catatan informasi yang terintegrasi. Di masa koloniaisme, mereka semakin merajalela mengambil catatan dan peninggalan sejarah dengan paksa,mengelabui, atau membelinya. Mereka juga melakukan penggalian arkeologi diberbagai penjuru dunia, hingga kini. Catatan yang terintegrasi tersebut kemudian ditafsirkan dan dijadikan bahan untuk penulisan ulang sesuai dengan kepentingan mereka.

Bila pusat ilmu pengetahuan dan penelitian di Asia di masa lalu misalnya, banyak hancur karena bencana alam atau pergantian penguasa, di Eropa masih banyak yang berhasil bertahan dan terus melanjutkan kerjanya, sehingga menghasilkan banyak tulisan.Itu juga yang mengakibatkan ilmu pengetahuan kemudian banyak berkiblat ke Eropa dan juga Amerika Serikat. Dengan demikian, para pelajar kita merujuk kepada dasar pemikiran Barat untuk mendapatkan legetimasi pengetahuan dan penelitian mereka.

Kemasan informasi melalui media massa makin menarik, terutama setelah lahirnya media elektronik, apalagi kemasan audio-visual. Penyebaran pemahaman dan penggantian nilai kehidupan digeser melalui kemasan pesan yang menarik. Hal ini semakin dibenarkan dengan bungkus hak asasi yang membuat orang digoda untuk keluar dari local wisdom. Pergeseran nilai tidak hanya dibawa oleh gerakan sosial-politik, namun lebih manjur ketika menyusup dalam bungkusan gaya hidup yang ditumpangi kepentingan pemasaran dan perdagangan.Para professional yang ahli di bidang ini adalah mereka yang jago dalam ilmu kemasan, antara lain ahli komunikasi pemasaran.

Bangsa Belanda yang beratus tahun menjajah Nusantara telah menuliskan kembali sejarah bangsa dan tanah di Nusantara. Tulisan dengan tafsir yang sesuai dengan kepentingan penjajah ini, juga dilakukan oleh para pujangga tradisional, terutama yang berada di lingkungan istana, karena pihak Belanda telah membantu raja untuk berkuasa atau mempertahankan kekuasaannya. Akibatnya, banyak sekali para ilmuawan Indonesia yang mendasari pengetahuannya selama belajar, maupun meneliti pada catatan-catatan ini. Masyarakat umum juga kerap berpegang pada cerita yang diwariskan pendahulunya tanpa menyadari bahwa cerita tersebut merupakan rekayasa penjajah. Salah satu tujuan dari pihak Belanda adalah memecah belah bangsa di Nusantara.

MencariAkar

Untuk menemukan peninggalan atau cerita asli tentu perlu waktu bertahun-tahun, bahkan berabad-abad. Belum lagi kendala perdebatan soal kebenarannya. Namun hal tersebut harus mulai dilakukan oleh ahli di bidangnya masing-masing.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah kembali kepada nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh para pendiri negara ini, yaitu Pancasila. Kelima sila tersebut tidak melulu berkaitan dengan kehidupan bernegara, namun juga dalam kehidupan manusia Indonesia sebagai individu, bagian dari masyarakat, bangsa, dan warga dunia.Nilai dan semangat yang bisa dikutip dari kelima sila tersebut adalah kebebasan individu untuk menjadi kreatif, berkarya, berkontribusi, bersatu,bergotong-royong, untuk dapat menjadi kekuatan mandiri dalam berkompetisi dengan bangsa lain di dunia.

Alasan mengapa bangsa lain ingin sekali menguasai Nusantara adalah karena Nusantara ini kaya dan sumber yang luar biasa. Bukan hanya alamnya, tapi pemikiran dan filosofinya. Nusantara dan bangsa yang tinggal di atasnya sebenarnya amat kuat dan dapat mempengaruhi dunia. Itu pula sebabnya bangsa lain harus mengacau hidup dan harmoni kehidupan di Nusantara. Menarik bangsa di Nusantara dari akarnya, memberikan nilai kehidupan yang disiapkan bangsa lain, kemudian bangsa asing yang mendulang segala kekayaan yang terkandung di Nusantara untuk mengembangkan kehidupan bangsa mereka sendiri, lalu memperdagangkannya kepada bangsa di Nusantara.

Cara melawannya, seperti yang telah diungkapkan di atas adalah kembali nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Nurani (self-conscious) menjadi syarat utama. Itu pula yang dititipkan di Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama tersebut berisi mengenai ketuhanan, bukan soal agama. Memahami Keesaan TUHAN dimulai dari nurani, bila tidak hanya tafsir-tafsir yang sering disesatkan oleh akal untuk kepentingan individu dan kelompok.

Sinar nurani yang selalu bicara kebenaran sering kali terhalang oleh jelaga ego, kekhawatiran, kebutuhan dan keinginan duniawi. Dari sini saja mulai terlihat bagaimana mempengaruhi pikiran dengan pengetahuan yang diarahkan untuk kepentingan bangsa lain sudah tercium gelagatnya. Lalu nilai dan peragaan gaya hidup yang dimuliakan akan semakin mengentalkan jelaga yang menghalangi nurani.

Nurani pula yang mengantar pada nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dimana nilai ini akan membentuk nilai Persatuan Indonesia. Peradaban dilandasi dengan ilmu pengetahuan dan ini telah diajarkan oleh nenek moyang manusia di seluruh dunia. Itu yang  menyebabkan pustaka yang menjadi pusat informasi berada di pusat spiritual, seperti komplek candi, pura, gereja, dan masjid, atau pusat spiritual dari masa sebelum agama-agama yang dikenal di dunia ini lahir. Karena agama seharusnya menjadi sumber kebijakan. Namun sekali lagi, kekuasaan dan keserakahan kerap membelokan nilai-nilai ini menjadi pembenaran penguasaan hak orang lain.

Jadi, sejak awal nurani harus menjadi jiwa dari ilmu pengetahuan. Nilai luhur dan ilmu pengetahuan diletakan sebagai dasar dari peradaban yang kemudian dikembangkan dengan kreativitas akal-budi untuk menjadi karya.

Daripada berdebat dan mempermasalahkan keberuntungan pihak lain, ada baiknya menggali kembali sumber kekayaan yang telah Dianugerahkan TUHAN kepada bangsa di Nusantara. Di titik ini diperlukan kesabaran, keikhlasan dalam menggali. Disamping itu, perlu pula ketelitian dan kebijaksanaan dalam memahami dan menerima hasilnya. Kebenaran bisa bersifat relatif dan perlu waktu untuk dapat diterima umum. Guna mendapatkan hasil yang baik diperlukan gotong-royong banyak pihak untuk berkontribusi. Itulah spirit dari Sila Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Apa yang dikenal masyarakat sebagai sinergi dan emerging power sebetulnya terkandung pada nilai gotong-royong. Hal mana harus dimulai dari itikad baikd an kesepakatan yang dilandasi nurani.

Dengan dasar kemanusiaan, keadilan, dan keberadaban akan dicapai tujuan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Catatan penting dari tujuan ini adalah keadilan sosial tidak berarti kekayaan yang sama bagi seluruh manusia.

Ilmu Komunikasi Dan Kemasan

Dalam kurun lebih dari 20tahun terakhir, ilmu komunikasi menjadi salah satu ilmu yang paling popular dituntut mahasiswa di penjuru negeri. Penyebabnya, antara lain, adalah karena pekerjaan di bidang komunikasi mempromosikan dirinya sendiri dan ini sejalan dengan merebaknya bisnis di bidang media massa.

Banyak lulusan ilmu komunikasi tak serta merta membuat komunikasi menjadi kekuatan di Nusantara untuk membangun kepercayaan diri bangsa dan mempromosikan Nusantara dan kehebatannya kepada bangsa sendiri. Para professional di bidang komunikasi sibuk bekerja mempromosikan produk komersial merek-merek dagang yang pun kebanyakan asing.

Di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, ada kumpulan ahli ilmu komunikasi dan ilmu kemasan yang bergotong royong untuk membangun kekuatan komunikasi bagi negerinya. Di Indonesia, hal ini dilakukan sebatas di institusi militer atau badan yangmengurusi ketertiban dan keamanan negeri ini. Contoh sederhana saja, banyak prestasi anak bangsa, atau acara yang mengangkat seni budaya tidak terdata, atau tersiar dengan baik. Kegiatan komunikasi masih amat diabaikan, diakukan seadanya, tanpa melibatkan pemikiran ahlinya. Informasi yang sederhana dapat dikemas menjadi informasi yang mampu membangkitkan kebanggaan dan mengandung bobot persuasif, lalu disebarluaskan dengan penggunaan media yang direncanakan.Tindak komunikasi seperti ini dapat mempengaruhi masyarakat luas, sekaligus dapat menjadi bentuk counter positif dari curahan informasi yang dikirimkan bangsa lain  ke Nusantara.

Kolonialisme era sekarang tidak mengharuskan pendudukan secara fisik. Senjata utama infiltrasi adalah media dengan peluru kemasan isi pesan. Tanpa perlawanan dan pertahanan dengan persenjataan dan amunisi yang sama kuatnya, Nusantara akan selalu menjadi sasaran empuk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s