Beratnya Jadi Perempuan

Di depan saya ada satu anak perempuan usia 3 tahun lebih dan satuanak laki-laki dengan umur beberapa bulan yang lebih muda. Anak perempuan itu berambut keriting, berkulit gelap, jidat jenong, dan hidung pesek. Bila ia tersenyum, ruangan bisa sepuluh kali lebih terang dan hidup lebih cerah. Anaknya cerewet, lincah, dan tidak rewel. Namanya Shafa.

Anak laki-laki yang berlarian kemana-mana mengikuti Shafa, bernama Sammy.  Putih, berhidung mancung, berambut hitam lebat. Ia senang berteriak-teriak, dan sepanjang waktu Nenek yang mengasuhnya berseru mengkhawatirkan Sammy terjatuh. Sammy yang memang cranky, sebenarnya tak perlu dikhawatirkan karena dia hanya berlaku sebagaimana anak-anak seumurnya, senang berlarian, berteriak-teriak, dan sedikit bully. Hanya saja si-Nenek sudah terlalu kepayahan untuk ngemong anak seumur itu.

Shava yang berada di tempat itu bersama nenek dan ibunya yang cantik, berjilbab dengan paduan warna sesuai dengan pakaiannya, mengomentari kelakuan Shafa dengan komentar yang sebenarnya tidak menyenangkan.

“Jangan lari-lari terus, nanti jatuh, ‘idung-nya tambah pesek lagi…”

“Shafa, sini jidatnya yang jenong dilap dulu, keringetan tuh…”

“Shafa, kamu deket-deket­ Sammy jadi makin keliatan item. Kamu sih kulitnya ikut Abi, nggak kayak Umi, jadi item deh… Nanti kalau gede dirawat ya Nak, biar nggak item-item banget.”

Saya tertegun mendengarkan komentar dan gurauan yang diarahkan keShafa. Sebenarnya sejak lama saya paham kalau perempuan lebih banyak mengalami tekanan mental dari lingkungan sosial terdekatnya, seperti keluarga dan lingkungan seputar rumah, hingga dalam pergaulan di pekerjaan atau pertemanan yang lebih luas.

Laki-laki tidak punya kebiasaan mengomentari negatif penampilan laki-laki lainnya. Mereka mengomentari perempuan. Sedangkan perempuan mengomentari penampilan perempuan lain dengan lebih kritis daripada mengomentari penampilan laki-laki. Perempuan akan lebih mengomentari penampilan laki-laki pada saat hadir dengan perempuan.

Demikian pula tuntutan sosial dalam kehidupan pribadi. Laki-laki seringkali dituntut soal keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan mencari uang. Tuntutan yang lebih panjang diarahkan kepada perempuan, seperti  penampilan, selera berpakaian, tingkah laku, pertanyaan soal kapan menikah, kapan punya anak dan seterusnya. Dan itu diajukan dengan lebih tajam saat perempuan mengkritisi perempuan lain.

Saat perempuan berambisi dalam prestasi dan pekerjaan, hal tersebut bisa mengundang pandangan negatif, padahal di jaman ini perempuan bekerja sudah menjadi hal yang lumrah. Di sisi lain, perempuan harus bekerja berkali-kali lebih keras untuk dapat disejajarkan dengan laki-laki. Apalagi bila ia telah berumahtangga, perempuan masih dituntut menjamin manajemen rumah tangganya dengan baik, selain harus bekerja di kantor. Saat kemampuan di dua dunia tersebut sudah berhasil dilakukan, orang-orang di sekitarnya masih menuntut perempuan untuk tampil dengan cantik.

Saya juga sering mendengar orang berkomentar soal pasangan. Bila perempuannya cantik dan pasangannya tidak begitu menarik penampilannya, maka komentarnya adalah betapa beruntungnya sang laki-laki. Bila yang terjadi sebaliknya, komentarnya adalah betapa tidak beruntungnya laki-laki tersebut.

Kembali melihat Shafa yang sebenarnya tidak kurang suatu apapun, namun sejak kecil orang-orang terdekatnya menanamkan ketidakpercayaan diri karena penampilan fisik Shafa dianggap tidak dapat diunggulkan. Tak ada satu orangpun di dunia ini bisa memilih bagaimana bentuk fisiknya saat dilahirkan. Mencela  hal tersebut sama dengan mencela Sang Pencipta. Sebuah kejahatan. Disamping itu, orang-orang dewasa di sekitar Shafa telah menaruh investasi yang buruk di kejiwaan Shafa. Banyak orang dewasa menghakimi keberadaan anak kecil tanpa memikirkan dampaknya.

Mudah-mudahan Shafa tumbuh dewasa dan menjadi perempuan hebat. Karena kehidupan ini menjadi hebat dengan hadirnya perempuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s