Pemilu dengan Nama TUHAN

Memasuki masa kampanye dan kemudian Pemilu, di udara Nusantara ada apatisme, harapan, sikap sinis, ketidakpercayaan, amarah, ambisi, dan banyak lagi. Memilih figur untuk mewakili suara, harapan, dan kemauan masyarakat memang sulit. Apalagi memilih Presiden dan Wakilnya yang akan memimpin negeri ini selama lima tahun ke depan.
Hal yang bahkan sering diabaikan masyarakat pemegang hak pilih adalah, sudahkah kita mengenal dengan baik kandidat anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), para Calon Presiden/Calon Wakil Presiden, dan kemudian menentukan pilihan dengan nurani yang jujur untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang lebih baik di lima tahun kemuka? Kesampingkan dulu soal janji-janji kampanye dan proses Pemilu dan penghitungan suara yang berjalan dengan jujur, baik, benar, dan lancar.
Sepanjang tahun 2014, media massa, terutama media sosial, dipenuhi kritik, apatisme, cerca, hasutan, bergantian dengan janji, pujian, pembelaan yang mengantri bersama data, fakta yang kerap kemudian disanggah atau dibantah dengan penyajian data yang tak kalah serunya. Kembali lagi pada masalah semula, sudahkan pemegang hak pilih mengenal kandidat untuk kemudian memilih yang dianggap paling bisa dipercaya secara moral dan kapasitas-kapabilitasnya.

Bersumpah
Peresmian penjabatan sebuah jabatan publik selalu didahului dengan sumpah yang dimulai dengan kata-kata, “Dengan nama TUHAN”. Ini adalah bagian awal dari pertanggung jawaban. Maka hal yang pertama harus diyakini oleh masyarakat adalah apakah kandidat yang akan dipilihnya beriman kepada TUHAN atau sekedar memiliki status beragama dan menjalankan ritual karena kepantasan.
Di dalam kehidupan masyarakat yang menganut kesetaraan, kita tidak memperkarakan agama apa yang dianut seorang kandidat. Hanya saja ada satu hal yang sama dalam ajaran agama adalah kemutlakan untuk beriman kepada SANG PENCIPTA. Takut, takluk, sehingga taat kepada perintah TUHAN, menjauhi laranganNYA dan menjalankan PerintahNYA. Secara laku mudah terlihat perbedaan ketaatan beragama seseorang, karena itu di Indonesia partai yang memancangkan nilai-nilai agama sebagai bagian dari promosinya yang paling banyak muncul. Ajaran agama yang kemudian diperdagangkan untuk meraih populeritas dan dukungan. Banyak pula yang berhasil mendapatkan perolehan suara, bahkan pengikut fanatis yang memuliakan tokoh partainya sehingga saat tokoh tersebut melakukan kesalahan, pendukungnya akan menghujat penegakan hukum sebagai perbuatan melawan agama.
Setelah berkali-kali Pemilu, partai nasionalis demokrat yang menyebarkan pesan sentimentil soal penderitaan dan yang mampu menyebarkan uang receh atau janji kemakmuran bisnis kepada pemegang hak suara, terbukti lebih sukses meraih perolehan suara. Partai pembawa ketaatan beragama pernah sempat berada di nomor urut bagus dalam perolehan suara, namun di kesempatan berikutnya surut, tersalib partai berkekuatan sentimentil penderitaan, penyebaran dana tunai, dan jani kemakmuran bisnis.
Beriman kepada TUHAN YANG MAHA ESA, syarat utama pemimpin negeri dan pemegang amanat. Sayangnya, pemberi amanat alias pemegang hak suara, masih lebih suka berendam di sentimen penderitaan, lebih suka uang receh, dan lebih tergiur janji kemakmuran. Dan itu adalah hal yang sangat manusiawi.
Dalam banyak ajaran agama, sering diperingatkan agar manusia harus mengutamakan ketaatan kepada TUHAN daripada kebutuhannya sebagai manusia. Ajaran yang memaklumi kelemahan manusiawi yang berkaitan dengan fisik ketimbang iman dan nurani yang tak tampak nyata.
Jadilah sebuah kewajaran yang menyakitkan ketika kandidat yang terpilih bukan berdasarkan ktriteria keimanannya kepada TUHAN. Di partai yang tak menggadang-gadang soal agama, bukan tidak ada yang memiliki keimanan kuat kepada TUHAN, tapi figur yang populer seringkali yang mampu tampil dengan pembawa sentimen penderitaan, termasuk berperan sebagai pembela rakyat yang menderita.
Dengan kenyataan seperti demikian, sumpah yang diikrarkan akan lebih dinilai pada materi yang dijanjikan daripada ketaatan pemenuhan janji karena keimanannya kepada TUHAN. Bila TUHAN mulai menjadi bayangan bukan keutamaan, tanggung jawab sebagai manusia yang diciptakan TUHAN tak dapat dijadikan pegangan. Setelah TUHAN yang MAHA TAHU dan MAHA ADIL tak menjadi Pengawas dan Hakim Tertinggi, akibatnya penyelewengan sumpah bisa aman selama tak terbukti. Agar tak terbukti, dilakukan penyelewengan bersama dengan keuntungan dibagi bersama. Sampai tahap ini, dipastikan sulit Pemilu menghasilkan wakil rakyat dan pemimpin negara yang melaksanakan mandatnya sebagai bagian dari ibadah kepada TUHAN.

Aksesoris Kandidat
Hal yang paling mudah untuk melihat kepatuhan seseorang kepada TUHAN adalah dari perilaku ibadahnya. Itu pulalah yang bisa diperlihatkan sebagai bagian dari pencitraan sosok yang ingin bersaing sebagai kandidat dalam Pemilu. Lagi-lagi ini masalah yang dapat dilihat dan diperlihatkan. Beragamapun ada banyak sisi fisik yang bisa diperlihatkan, mulai dari pakaian hingga aksesorinya. Seseorang yang dikenal luas berkelakuan buruk dan melanggar aturan agama, kerap berdandan bagai seorang alim dan taat beragama. Faktor ‘mata’ memang sangat menentukan. Bagi orang yang tak dapat dengan cerdas memilih kandidat peserta Pemilu, apa yang terlihat menjadi faktor yang amat menentukan. Itu pula sebabnya, ketampanan atau kecantikan wajah, dapat menjadi nilai jual terpilihnya kandidat. Alasan yang sama pula, menyebabkan disebarnya foto kandidat dimana-mana. Wajah, nomor, nama itu saja yang perlu diingat. Kredibilitas, kapasitas, dan kapabilitas terlalu rumit untuk dipahami dan sangat mudah didebat. Apalagi sisi keimanan.
Hal yang kedua adalah kebaikan hati yang artinya memberikan sesuatu kepada pemegang hak pilih, termasuk uang tunai yang sebetulnya jumlahnya tak seberapa. Orang baik itu bila suka memberi. Itu adalah ukuran yang paling mudah dan paling sering digunakan dalam memilih kandidat. Pada saat kampanye, pemberian yang dihiasi dengan senyum ramah dan pesan-pesan yang mengarahkan pada wajah, nomor, dan nama tertentu, kerap disisipi dengan ancaman terselubung. Ancaman yang dihubungkan kepada tidak keberuntungan dan bahaya secara fisik. Karena itu mudah dipahami masyarakat.
Aksesori tambahan yang acapkali menjadi tujuan utama masyarakat hadir di keramaian kampanye adalah hiburan, termasuk penampilan selebriti di acara kampanye. Judul-judulannya adalah pesta perayaan, asosiasinya adalah kegembiraan. Partai dan kandidat membawa kegembiraan melalui perayaan yang seru. Hal yang lalai diingat, semua perayaan dan kegembiraan tersebut perlu biaya. Pada saat masyarakat memilih kandidat yang tidak tepat karena merasa telah diberi kegembiraan sesaat, maka biayanya adalah suara mereka membuat kandidat tersebut berkuasa selama lima tahun.
Kembali lagi mengenai wilayah ibadah, agama, dan seputarnya, tempat beribadah, perkumpulan agama semakin populer menjadi tempat tebar pesona partai dan kandidat. Lagi-lagi untuk memperlihatkan ketaatannya beragama, sekaligus jual citra fisik. Bila perwajahan kandidat bagus, menjadi cermin imaji pengikut agama tersebut sebagai pimpinan yang berpenampilan bagus. Bila kandidat tidak beruntung secara tampilan fisik, sisi kealimannya akan menjadi tata rias yang menghaluskan dan memperbaiki penampilan fisiknya.

Hujan Hujat
Aktivasi yang segera menyusul dan bersaing dengan promosi, umbar janji, dan pencitraan kandidat wakil rakyat dan Presiden/Wakil Presiden adalah kritik, sanggahan, hujat dan yang terburuk adalah fitnah dengan penistaan. Seperti halnya kegiatan promosi, pesan-pesan berlawanan juga datang bagai hujan badai. Ada saja pihak yang sangat menikmati hujan hujat, bahkan turut menambah isi dan percepatan perluasan hujan hujat. Terciptalah hutan hujat yang sangat menyesatkan. Figur kandidat yang beriman, memiliki kapasitas dan kapabilitas memimpin sering terperangkap dalam sesatnya hutan hujat.
Tidak bisa kita berharap setiap pemegang hak pilih mampu mengurai kekusutan informasi dan memilih yang akurat. Akibatnya figur yang secara moral dan kemampuan layak tampil memimpin menjadi sayup terdengar, namun tak dikenali dan jauh dari pilihan masyarakat.
Baik promosi, maupun pendiskreditan, hampir selalu berlatarbelakang uang. Komersial. Dan inilah yang terjadi, saat sebuah keputusan yang harus dimulai dari nurani dan diolah akal sehat di kehidupan yang adil dan beradab untuk mencapai kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menjadi sebuah keputusan yang didasari emosi atas dasar sentimen penderitaan untuk mencapai kegemerlapan duniawi tanpa memikirkan pertanggungjawaban di depan pengadilan akhirat.

Dengan Nama TUHAN
Di negeri yang sebagian besar kehidupan masyarakatnya masih sangat dipengaruhi ajaran TUHAN, dimana banyak hal dimulai dengan mengucapkan nama TUHAN, nilai yang telah diajarkan TUHAN justru paling sering diabaikan.
Saat ide membuat tulisan ini muncul, hanya ada satu pikiran di kepala saya soal Pemilu yang menentukan kehidupan di negeri ini lima tahun ke depan, yakni seandainya orang memahami dan menjalankan betul kata-kata “Dengan Nama TUHAN”, sehingga apapun yang diputuskan dan dilakukan setelahnya dapat membawa kebaikan bagi umat manusia. Di sisi lain, sesungguhnya apapun yang dimulai kata-kata “Dengan Nama TUHAN”, pada saat ada penyelewengan, sesedikit apapun itu, bakal membawa konsekuensi di dunia dan di akhirat. Dari hal itulah, timbul kekhawatiran bila kemampuan mengemas segala rupa ini sudah mengalihkan wajah batin dari TUHAN, meski fisiknya seperti menghadap TUHAN dan rumah-rumah ibadah tetap penuh. Apalagi kekuasaan institusi agama telah sejak berabad-abad yang lalu telah turut berkompetisi untuk berkuasa untuk kebesaran pemangku kekuasaannya. Mudah-mudahan masih ada manusia yang menjaga dan membela sumpah yang berawalan “Dengan Nama TUHAN”.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s