Kasih dan Sayang-NYA

Tulisan ini merupakan buah pikir obrolan dengan Jahja Sjahruddin dalam proses belajar tentang SANG KHALIQ. Apa yang terkandung di dalam tulisan berikut ini adalah pemahaman pribadi, bukan pengetahuan dari hasil olah keahlian dalam ilmu agama.

 

Kekuasaan yang Tak Terbataskan

Bagi mereka yang mengimani adanya TUHAN, mengakui Kekuasaan TUHAN yang tak terbatas, termasuk KekuasaanNYA untuk memaksa sebuah keadaan atau kejadian, karena IA adalah Yang MAHA BERKEHENDAK dan MAHA MENCIPTA. TUHAN tak berawal dan diawali, juga tak berakhir dan diakhiri, justru TUHAN mengawali segalanya. Itu adalah sebagian KehebatanNYA yang tak terhingga yang membuatNYA menjadi tak terbandingkan, tak terbantahkan, menaklukan segala. TUHAN adalah kemutlakan.

 

Namun demikian, dengan serba keserbaanNYA, TUHAN membiarkan ciptaanNYA untuk memilih sikap, termasuk menentangNYA. Banyak pula yang IA biarkan ciptaanNNYA (manusia) menggunakan sebagian kecil Kekuasaan dan NamaNYA untuk kepentingan manusia itu sendiri. Padahal, secara tegas TUHAN Berfirman bahwa segala ciptaan Diciptakan untuk semata-mata untuk menyembah DIRINYA. Dengan KekuasaanNYA pula, IA Ciptakan hawa nafsu, syahwat, bahkan iblis dan sekutunya. Hal ini berujung pada pembangkangan ciptaan kepada SANG PENCIPTA.

 

Karena KekuasaanNYA yang tak terbantahkan, TUHAN Menjatuhkan hukuman sebagai konsekuensi ciptaanNYA yang tidak mengabdi kepada Yang MAHA KUASA. TUHAN adalah Zat Yang MAHA  ADIL, dimana KeadilanNYA berdasarkan sifatNYA Yang MAHA TAHU. Jadi tak ada Keadilan yang berasal dariNYA mengandung kesalahan.

 

Diperintahkan untuk Berpikir

Beberapa waktu yang lalu, TUHAN memutuskan saya untuk sakit, karena kelalaian saya sendiri. Pada saat sakit, membuat saya berpikir dan menyimak kata-kata orang di sekeliling saya. Salah satunya adalah, “TUHAN bukan menegur kamu, karena bila IA menganggap kamu tak berguna, IA akan memanggil kamu pulang. TUHAN Menyediakan hidup yang lebih baik untuk kamu dan kamu harus mempersiapkan diri, jasmani maupun rohani, untuk dapat menjalankan kehidupan itu.” 

 

Saya tertegun atas pernyataan tersebut. Dan sakitpun ternyata bukan hukuman. Penjelasannya adalah karena TUHAN MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG. Konsekuensi kesalahan ada diakhir cerita, ketika manusia sudah tak diberi kesempatan memperbaiki diri lagi dan menjadi pengabdiNYA yang taat. Bahkan sakit bukan peringatan atau teguran, tapi KASIH DAN SAYANGNYA.

 

KEKUASAAN YANG TAK TERHINGGA berwujud KASIH DAN SAYANG. Kembali kepada pelajaran awal yang sering diucap, selalu mengawali, tapi lalai dipahami keluasan KASIH DAN SAYANG SANG MAHA PENGASIH DAN MAHA PENYAYANG. Bertaubatpun diberikan kesempatan di waktu paling kritis, menjelang jiwa Dipanggil pulang. KekuasaanNYA pula yang memberikan kesempatan manusia untuk memilih tidak bertaubat. Sedemikian BerkuasaNYA sehingga Kasih dan SayangNYA membuat ciptaanNYA boleh memilih.

 

Hakekat dari bersyukur adalah tidak membantah KekuasaanNYA, karena manusia sudah melihat Kasih dan Sayang TUHAN yang luas tak terhingga. Karena demikian adanya, saya kembali belajar memahami arti cinta, dimana kasih dan sayang bersulam nafsu. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s