Positioning Indonesia: Negara Kaya Budaya

Sebuah fenomena yang terjadi di dunia ini adalah ketika krisis pangan dan keuangan terjadi. Persaingan global antarnegara menjadi makin seru justru dalam semangat bekerja sama untuk menanggulangi krisis. Dalam persaingan global, Indonesia yang tidak dalam kondisi baik, memerlukan suatu positioning yang dapat diterima oleh negara lain dan masyarakat dunia.

Kekayaan budaya adalah satu hal yang dimiliki Indonesia tanpa harus bersusah payah karena merupakan warisan leluhur. Bisa dikatakan Indonesia adalah negara yang paling kaya dalam keragaman budaya. Demikian pula dengan benda hasil budaya atau peristiwa alamiah yang dimiliki Indonesia dianggap mempunyai nilai tinggi oleh warga dunia.

Batik, gamelan, tenun ikat, tarian, kopi luwak, dan ukiran bukan hanya dianggap luar biasa, tapi juga bergengsi. Untungnya, berbagai ragam budaya yang ada dari ujung Sumatra hingga ke ujung Papua disebut sebagai kebudayaan Indonesia. Kedahsyatan beberapa kekayaan budaya ini bahkan telah dicuri hak ciptanya oleh negara lain.

Membawa kebudayaan Indonesia ke panggung dunia bukan perkara proyek pemasaran pariwisata Indonesia. Pekerjaan besar ini memerlukan keseriusan tiap pihak yang saling mendukung (terintegrasi) dan terus menerus bekerja mengeksplorasi dan mengembangkan aset Indonesia. Ini bukanlah pekerjaan satu proyek ke proyek yang lain dengan jeda waktu yang tidak jelas, dan hanya menguntungkan agen penguasa jabatan.

Seiring dengan berkembang pesatnya budaya pop materialistis yang berasal dari Barat, ketertarikan, bahkan pengetahuan generasi muda Indonesia terhadap kekayaan budaya asli negerinya amatlah minim. Tidak banyak yang tahu bahwa kain Batik telah diperdagangkan secara internasional pada abad XV, atau bahwa musik orkestrasi gamelan Jawa (Ketawang Puspawarna) dan gambar penari Bali termasuk materi yang dibawa misi luar angkasa AS untuk berkomunikasi dengan makhluk ekstraterestrial.

Tidak banyak pula yang mendalami tarian, pertunjukan drama, dan musik tradisional yang tiap kali dipertunjukkan di luar negeri selalu dipadati penonton.

Memberdayakan seni budaya merupakan pekerjaan rumah yang tidak perlu menunggu bantuan dari badan independen atau perwakilan asing tapi harus dilakukan sendiri dengan alokasi biaya pemerintah dan perusahaan nasional.

Alokasi ini tidak sekadar bagian dari corporate social resposibility (CSR) tapi lebih sebagai kewajiban sebagai pewaris negeri. Karena ada fakta yang menyedihkan bahwa beberapa ahli budaya atau seni tradisional Indonesia kini justru warga negara asing yang meneliti kekayaan Indonesia tersebut.

Buku-buku ilmiah yang mengulas kekayaan milik Indonesia lebih banyak dihasilkan dan dikoleksi oleh institusi pendidikan di luar negeri daripada di negeri sendiri. Ini memalukan. Di negara lain, perusahaan yang mendukung gerakan seni budaya mendapat fasilitas istimewa dari pemerintah, seperti keringanan pungutan pajak.

Jika saja padepokan yang menggali seni budaya di Indonesia menjamur seperti pesantren atau sekolah agama lainnya di Indonesia, maka ilmu pengetahuan tentang kekayaan Indonesia ini tidak terancam eksistensinya. apabila tempat pertunjukan seni tradisional dan kontemporer serta ruang pameran bisa merebak setengah dari jumlah tempat dugem di kota besar, pasti para pekerja seni akan menjadi profesi yang mampu menghidupi pelakunya.

 

Penguasa proyek

Kenyataan yang memilukan adalah kegiatan eksplorasi seni hanya menjadi proyek yang mendatangkan kemakmuran bagi penguasa proyek. Sementara pekerja seni hanya mendapat upah yang sekadar cukup untuk urusan rumahtangga.

Padahal mereka memerlukan ongkos lebih untuk terus mampu membiayainya berkreativitas. Menjadikan kekayaan seni budaya Indonesia lebih ‘berbicara’ kepada publik dunia adalah pekerjaan rumah banyak pihak yang mengaku mencintai bangsa dan Tanah Airnya.

Positioning ‘negara kaya budaya’ sebetulnya merupakan praktik dari Bhineka Tunggal Ika. Kegunaannya, pertama, ke dalam sebagai suatu identitas kebangsaan dan negara. Kedua, keluar sebagai positioning yang membedakan Indonesia dari negara mana pun di dunia. Indonesia memiliki diversity budaya yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Tak ada satu negara pun di dunia yang seperti Indonesia.

Beberapa pengusaha atau dengan atas nama badan usahanya telah sepenuh hati mendukung kehidupan seni budaya bangsa, hanya saja yang diperlukan lebih banyak lagi pengusaha atau badan usaha.

Sebuah kewajaran apabila perusahaan nasional yang masuk dalam 1.000 perusahaan yang menguntungkan di dunia untuk memanfaatkan kekayaan budaya Indonesia sebagai kemasan citra dengan mendukung (baca: membiayai) gerakan pertunjukan budaya Indonesia di panggung dunia.

Langkah yang dapat membuat publik dunia datang menyaksikan langsung kekayaan seni budaya Indonesia di tempat asalnya. Sebuah perjalanan bisnis yang terintegrasi dengan perjalanan wisata. Kalau biasanya orang mengatakan Don’t mix business with pleasure maka di Indonesia, hati yang senang karena perjalanan wisata dapat menghasilkan kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan. Make the business with the pleasure.

‘Negara Kaya Budaya’ bukan sekedar positioning dalam rangka Tahun Kunjungan Pariwisata Indonesia. Penggunaan positioning ini merupakan cara Indonesia menempatkan diri ke dalam benak pasar dunia. Penghantarnya adalah pertunjukan seni budaya Indonesia.

Kunjungan pada kegiatan seperti Showcase Indonesian Performing Art yang akan diselenggarakan pada akhir Juli di TIM Jakarta dapat menjadi langkah awal. Acara tersebut bisa jadi membelalakkan mata masyarakat Indonesia yang datang akan kekayaan budaya Tanah Airnya sendiri.

Acara tersebut merupakan bentuk aktual dari usaha membawa kedahsyatan keindahan seni pertunjukan budaya Indonesia ke dunia. Beberapa undangan dan peminat acara ini datang dari luar negeri. Mereka adalah para kurator seni, produser, dan event organizer dari berbagai negara.

Pelaku usaha Indonesia dapat menjadikan acara seperti ini sebagai penjajakan pemanfaatan dunia seni Indonesia untuk dijadikan perangkat melobi atau promosi ke berbagai pusat bisnis di dunia.

Melalui keragaman seni budaya Indonesia, pendekatan bisnis menjadi sangat unik dan berbeda dengan cara yang dilakukan pengusaha negara lain. Keunikan yang menjadi milik pengusaha Indonesia, misalnya saja, produk kreativitas desainer kain Indonesia.

‘Negara Kaya Budaya’ merupakan positioning yang dapat digunakan sepanjang masa. Kekhasan dari positioning yang tak dapat ditiru oleh negara lain dan dapat menjadi semacam statement akan keragaman potensi yang ada di Indonesia. Sebuah jati diri yang ‘menjual’.

Advertisements

2 thoughts on “Positioning Indonesia: Negara Kaya Budaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s