Susah Jujur, Lebih Sering Nyasar

Semakin lama, saya semakin sering menggelengkan kepala karena bingung melihat sebuah kesulitan bisa berlarut-larut terjadi, semata karena orang yang memerlukan bantuan, perhatian, dorongan semangat, bahkan sampai kasih sayang, tidak mau berterus terang. Begitu tingginya gengsi, membuat hidup jadi makin sulit.

Dalam hidup ini, kita perlu orang lain. Kehadirannya bisa diperlukan karena kita butuh bantuan, ataupun kadangkala keberadaan orang tersebut membuat kita nyaman. Apapun alasannya, kehadiran sosok tertentu memang dibutuhkan dari waktu ke waktu. Mengutip kata Nirmala, “Semua orang butuh di-puk-puk.” Dan yang dimaksud “di-puk-puk” itu sendiri, mulai dari memang disentuh secara fisik, dijamah pikirannya, ditiup semangatnya, hingga dibelai spiritualnya. 

Butuh teman atau partner itupun bisa berkerangka romantisme, intelektual, spirit kebersamaan, dan seperti kakak-beradik. Saya beruntung tak punya hambatan dari dalam diri saya untuk menyambangi teman dan berbicara. Sering saya lihat orang gelisah karena tak punya kemudahan pribadi seperti itu. Akibatnya mirip orang kedinginan yang memeluk kakinya sendiri dan tetap menggigil.

Tak Mengenal Diri Sendiri

Sesekali orang perlu melihat dirinya sendiri, baik dengan bantuan cermin, maupun dengan pantulan batin. Salah satu kegunaannya adalah untuk mengenal dirinya sendiri. Banyak orang yang ternyata tak mengenal diri sendiri, entah karena memang tak mampu, egonya terlalu tinggi, atau hidupnya sudah direka orang lain, seringkali orangtua sendiri, sehingga orang tersebut hidup di dunia yang ia pikir demikian adanya. Akibatnya, ada saja orang yang membutuhkan orang lain untuk memberitahu siapa diri, sifat, kepribadian, preferensi, nilai luhur dan kebahagiaan yang ingin dicapai, motivasi dan seterusnya. Karena kita hidup di tengah masyarakat yang mempercayai hal-hal spiritual, termasuk klenis, akibatnya seseorang, atau bahkan banyak orang, bisa amat tersugesti dan menjadi pengikut sesosok figur dengan kemampuan mendominasi orang lain. Ada lagi yang lebih jauh daripada itu, yakni orang-orang yang berimam kepada hal yang gaib. Ya, tentu saja akan makin tersesat.

Kemudian ada empat kecenderungan yang terjadi. Pertama adalah info, data dan bukti mengenai kepribadian yang benar dan selalu dapat diperdebatkan. Kedua adalah sebuah kepribadian yang ingin dipercayai demikian adanya. Biasanya kemudian diikuti usaha mengarahkan kehidupan, perilaku, dengan segala aksesori agar sesuai dengan kepribadian yang diinginkan tersebut. Ketiga adalah kepribadian yang memang sudah dipersiapkan, direncanakan, dibangun, lengkap dengan berbagai fasilitasnya, dan termasuk juga hukuman yang dipersiapkan agar seseorang dapat dibentuk kepribadiaanya. Keempat, adalah kepribadian yang saya sering sebut sebagai cracked personality, maksudnya adalah kepribadian yang terbentuk karena sebuah trauma psikologis dan spiritual, dimana yang bersangkutan tidak menyadarinya. Keempat pengelompokan itu menurut pikiran saya, bukan atas dasar analisis psikilogis ilmiah, hehehehehe…..

Nah, dari empat kelompok tadi, tiga diantaranya memang tidak berdasarkan kejujuran akan kebenaran. Sayangnya lagi, analisis, yang dipresentasikan secara ilmiah oleh berbagai sumber dan media, sering diambil sebagian, atau dipahami semau penerima informasinya untuk dijadikan dasar kebenaran yang diinginkan, seperti halnya kelompok dua. Tentu saja, orang menjadi tak mengenal dirinya sendiri. Dalam kegelisahan, kegalauan yang sering tak disadari karena memang tak memahami diri sendiri, orang akan membangun perlindungan bagi dirinya sendiri, baik dari orang lain, maupun firasat dan nurani yang mengendus kebenaran, sehingga mengancam kepercayaannya sendiri. Itulah yang menyebabkan orang susah berterus terang bahwa ia memerlukan orang lain yang dengan tulus akan membantu dan mendampinginya. Bukan tidak mungkin pula karena biasa tersesat, jadi tak memahami bantuan orang yang mana. 

Bersabarlah untuk jujur melihat diri sendiri, ikhlas terhadap kelebihan dan kekurangan yang ada, lalu yakin mampu dengan sabar menemukan figur yang tepat. Kurang paham? Mungkin ini saatnya melihat sekeliling dan menemukan orang tepat mendengar dan menyampaikan, plus puk-puk tadi.

🙂

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s