Unsur Dasar Komunikasi yang Sering Luput Dipikirkan

Unsur komunikasi saya pelajari sejak semester pertama kuliah di IISIP Jakarta. Mata kuliahnya adalah Dasar-dasar Ilmu Komunikasi, saya tak tahu siapa yang menyusun materi kuliah tersebut, konon disusun oleh Rektor Kampus Tercinta pada waktu itu, Drs. A.M. Hoetasoehoet. Saya mengenal beliau sebagai guru yang pemikirannya sangat mendasar dan mendalam soal prinsip komunikasi, dasar yang saya bawa hingga sampai saat ini.

Unsur komunikasi massa pada pokoknya adalah 

Komunikator – orang yang menyampaikan pesan

Isi Pesan 

Media

Komunikan – orang yang menerima pesan

Efek – hal yang ditimbulkan setelah menerima pesan

Dalam pemahaman saya, faktor yang sangat mendasar pada unsur di atas adalah manusia. Pada praktek perencanaan komunikasi bertujuan (purposive communications) dewasa ini, manusia dianalisis sebagai obyek, padahal dari sisi efek, yang dipengaruhi dan menjadi multi-efek dari efek adalah manusia.

Kembali kepada pengetahuan yang diajarkan dalam Dasar-dasar Komunikasi, manusia diurai sebagai mahluk yang berakal, memiliki naluri, konsep kebahagiaan, nilai luhur, dibesarkan dalam kelompok sosial yang memiliki perilaku sosial dan nilai masyarakat sendiri yang mengarahkan pada kecenderungan berperilaku, preferensi, influencer, standar kepuasan dan seterusnya.

Maka salah satu tugas pokok seorang perencana komunikasi adalah memahami manusia sebagai individu, sebagai mahluk sosial, dan sekaligus sebagai bagian dari masyarakat. Kegagalan memahami hal ini akan mengancam efek yang direncanakan susah dicapai, karena tanpa memahami tidak dapat menyusun rencana kegiatan komunikasi yang dapat memicu efek yang ditetapkan sebelumnya.

Saat manusia hanya sebatas data angka, perencana komunikasi tidak “memanusiakan” target komunikasi yang punya independensi bereaksi terhadap isi pesan yang ia terima. Perlu kemampuan membaca dan menerjemahkan data soal target komunikan dan menjadikannya profil, dimana di dalamnya adalah kecenderungan perilaku dan perkiraan reaksi yang timbul setelah menerima pesan.

Di tulisan lain dalam blog ini, saya sudah menyebutkan bahwa purposive communication  yang manapun selalu melakukan pengemasan pesan. Pemilihan kemasan pesan termasuk memilih komunikator yang ditampilkan, bentuk dan isi pesan, media massa yang dipilih sebagai penghantar pesan, semuanya dikemas untuk menimbulkan efek yang ditetapkan dari target komunikan. Itu yang menyebabkan bentuk komunikasi seperti ini juga merupakan aktivitas merekayasa perilaku.

Isi Pesan

Sebelum mengolah dan mengemas isi pesan, mutlak perlu memahami produk yang ingin kita sampaikan bentuk komunikasinya. Produk bisa berupa barang, jasa, ataupun gagasan. Selalu ada data soal produk, namun sudahkah pengetahuan mengenai produk tersebut dieksplor semaksimal mungkin, sehingga ditemukan proposisi yang tepat mewakili produk di dalam kepala target konsumen.

Dari proposisi tersebut ada kata kunci yang bisa diekplorasi hingga ditemukan pesan dan kemasan yang tepat digunakan untuk merebut perhatian target komunikan. Perencanaan kemasan pesan tersebut termasuk media yang paling tepat dan persuasif untuk menghantar pesan. Jadi pemilihan media banyak ditentukan oleh pengembangan kreatif kemasan pesan, selain penetapan target komunikan dan efek yang ingin ditimbulkan.

Media

keutamaan media adalah alat penghantar isi pesan. Masing-masing media memiliki kelebihan dan kekurangan, perilaku yang dipengaruhi editorialnya, target komunikan (dan pengguna) media, kecederungan perilaku pengguna media, preferensi, timgkat kepercayaan dan lain-lain. Jangan terpesona dengan ke-moderen-an media, sebab tiap media memiliki keterbatasan dan kelebihan dalam membawa pesan dan menimbulkan pengaruh (persuasi) dan efek.

Sebelum memilih media penghantar pesan, perencana komunikasi harus menganalisis berbagai media yang tersedia dan ketepatannya sebagai penghantar isi pesan, termasuk media sebagai bagian kemasan isi pesan.

Efek

Kerap kali unsur komunikasi yang satu ini dianggap pencapaian, tapi bukan bagian utama dari perencanaan komunikasi. Padahal justru unsur ini termasuk yang paling awal ditetapkan. 

Salah satu faktor yang menjadi dasar penetapan efek adalah target komunikannya. Ini menunjukan bahwa penguasaan faktor manusia menjadi esensial. Efek yang ditetapkan harus masih dalam jangkauan kemampuan bereaksi target komunikan sesuai dengan profil yang telah disusun sebelumnya.

 

Unsur komunikasi di atas bisa jadi sudah dihafal oleh banyak praktisi komunikasi atau penuntut ilmu komunikasi. Sayangnya, karena dianggap sebagai dasar, unsur komunikasi justru tidak mendapat ruang yang cukup untuk dibahas secara dalam dan akurat.

Tips saya, jangan pernah mengabaikan unsur dasar komunikasi, karena yang mendasar itu adalah unsur yang menjadikan komunikasi di masa ini terjadi.

 

 

Advertisements

One thought on “Unsur Dasar Komunikasi yang Sering Luput Dipikirkan

  1. Karena lebih mudah melihat dan mengikuti yang hingar bingar daripada memahami intinya. Sudah menjadi alamnya para pelajar sekarang kurang suka mempelajari dasar dari ilmu yang mereka pelajari, mereka lebih suka menjebakkan diri kedalam sisi “aplikasi” sehingga kadang ketika diajak berpikir mengenai intisari apa yang mereka pikir mereka pikirkan atau lakukan mereka malah bingung sendiri, karena tidak paham dasar-dasar ilmunya sendiri. (pengalaman ini dari ngobrol dengan adik-adik kelas saya di FH).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s