Manipulasi (Message Engineering 3)

Cinta adalah hal yang paling munipulatif yang dialami manusia pada umumnya. Saat seseorang dilanda cinta, banyak hal yang tak disukai mendadak ditolerir. Cinta menaikan daya tahan terhadap penderitaan fisik, maupun mental. Harum bunga-bunga cinta membuat pandangan lebih indah dan optimis. Di sisi lain, gagal cinta menimbulkan kebencian, amarah, sifat dan pemikiran negatif yang menular.

Mahluk yang paling manipulatif adalah anak balita. Dengan wajah lugunya, ia bisa membuat orang dewasa melakukan apa saja, termasuk hal-hal yang bodoh. Senyum dan suara tertawanya bisa menebarkan keceriaan sebuah ruang. Wajahnya bisa membuat rindu orang yang sedang berada beribu-ribu mil jauhnya.

Manipulasi tidak selalu negatif, bahkan pengajaran agama mempraktekan hal ini sejak awal. Manipulasi membuat orang yang termanipulasi mempercayai dan melakukan hal-hal tertentu tanpa bertanya, termasuk hal yang baik. Misalnya, karena yakin masuk mendapat ganjaran kebaikan dari Tuhan, orang dengan senang hati berkontribusi dalam kegiatan religius. Dengan keyakinan yang sama seseorang memberikan sebagian pendapatannya untuk berbagi dengan orang yang kurang beruntung.

Dalam keseharian, manusia juga sering memanipulasi dirinya sendiri. Sebegitu seringnya menjadi kebiasaan yang tidak dirasa lagi sebagai manipulasi. Salah satu kalimat yang sering digunakan untuk memanipulasi diri sendiri adalah, “Nanti juga nggak apa-apa,” atau “Biar deh susah dulu, nanti hasilnya kan buat saya juga,” atau “Masa’ Tuhan nggak bakal nolong sih…” Setelah itu perasaan menjadi tenang dan optimisme tumbuh.

Memanipulasi Masyarakat

Memanipulasi rakyat adalah pekerjaan harian setiap Pemerintah di seluruh dunia. Kepala Negara hampir di setiap negara di penjuru bumi akan hadir di peringatan keagamaan. Saat menyampaikan sambutannya, Kepala Negara akan memasang wajah khusyu’ sebagai gambaran ia merasakan kalimat-kalimat religi yag dikutipnya. Bila ia mendengarkan ceramah, paket ekspresi yang sama ia gunakan untuk alasan yang kurang lebih sama. Pada saat demikian, Kepala Negara sedang memanipulasi penontonnya bahwa pemipin negeri itu memegang nilai-nilai religi dalam menjalankan kepemimpinannya.

Mungkin tidak banyak yang menyadari bila masyarakat melihat banyak kendaraan perang berlalu lalang di dalam kota, lengkap dengan pasukan bersenjata dan tampak gagah berani, justru timbul kepanikan dan ketakutan di bawah sadarnya. Masyarakat akan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Bila kendaraan tempur dan pasukan bersenjata tampak di berbagai tempat di sebuah kota, tanpa ada peristiwa upacara militer, ketegangannya lebih tinggi lagi. Saat pemandangan tersebut di beritakan oleh pers dengan berita yang simpang siur, masyarakat akan cenderung menghindari bepergian. Namanya psywar, dan itu efektif membuat penduduk sebuah kota takluk dalam ketakutannya sendiri, hal mana penting bagi Pemerintah yang berkuasa.

Memanipulasi rakyat juga sering dilakukan untuk membangun semangat berjuang, berkarya dan berprestasi. Kampanye dengan menggunakan kata “Ayo”, “Mari Kita”, “Pasti Bisa” dimaksudkan membakar semangat. Ajakan massif seperti ini dilakukan oleh Pemerintah, maupun swasta. Diikuti dengan billboard dengan desain orang yang berekspresi penuh semangat.

Eksposur berita dengan frekuensi yang tinggi juga memanipulasi pikiran. Dengan tingginya frekuensi, perencana komunikasi mengarahkan pikiran masyarakat kepada anggapan tingginya nilai berita. Saat masyarakat termanipulasi dan menganggap penting berita tersebut, mereka akan mengulang pemberitaan tersebut melalui media sosial dan via telepon. Akibatnya, masyarakat yang lebih luas akan merasa perlu mengakses seluruh atau sebagian dari informasi tersebut, tanpa mempertimbangkan berita orisinalnya. Inilah yang memunculkan rumor yang tak menentu. Dengan perencanaan yang baik dan dengan menggunakan pengarah berita lanjutan, berita yang dikembangkan oleh masyarakat bisa diarahkan ke efek tertentu.

Manipulation on Demand

Peercaya atau tidak, manusia sebagai individu, maupun sebagai masyarakat, memang cenderung menyediakan dirinya untuk dimanipulasi. Masyarakat di Indonesia, alih-alih berjuang memperbaiki nasibnya, cepatnya rasa frustrasi yang timbul membuat mereka berpaling kepada hal-hal yang religius, dimana dalam kisahnya sering menggambarkan mukjizat Tuhan. Masyarakat ingin keluar dari permasalahan secepat mungkin, bila perlu instan, tapi tidak menyalahi aturan agama. Akibatnya mereka menjuru kepada pemuka agama, atau orang yang memiliki ciri pemaham agama. Hingga bagian ini, sudah tercium bahwa masyarakat ini minta dimanipulasi, bukan? Pihak yang kemudian paling kerap memanfaatkan kesempatan ini adalah politisi.

Seberapa sering mendengar orang ‘galau’ dalam kisah asmaranya. Sebegitu ‘galau’-nya, tidak sedikit orang yang mencari penyedia mukjizat membuat orang dicintai banyak lawan jenisnya. Apapun yang diperintahkan ahli spiritual spesialis mukjizat cinta, dituruti oleh si pasien. Nilai sugesti begitu tinggi, membuat optimisme yang tinggi pula. Saat cinta berhasi bertaut, sebenarnya belum tentu karena hasil kerja kegaiban, bisa jadi karena rasa percaya diri yang menimbulkan magnet cinta. Tapi kadung percaya, cinta yang bertaut melipat-gandakan kepercayaan pasien kepada ‘orang pintar’-nya, dan sukarela pasien akan datang lagi untuk serial manipulasi berikutnya.

Merekayasa Pikir dan Rasa

Dalam tulisan Message Engineering sebelumnya, saya menekankan pentingnya pemahaman terhadap target komunikasi. SES, psikografi, behaviour, preferensi, nilai luhur, konsep kebahagiaan, influencer, akan memberitahukan kita faktor yang bisa memanipulasi target komunikasi.

Bagaimanapun, sebagian besar komunikasi massa adalah purposive communications, ada packaging message di situ. Manipulating people is apart from message engineering.

Bukan sulap, bukan sihir, ini hanya komunikasi yang memukau pikiran.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s