#kopindonesia

Tinggal di jalan Benda sejak tahun 2011, begitu banyak tempat jajanan yang saya kunjungi, namun kedai kopi yang bernama aneh Kopi Dimana? baru saya sambangi pada bulan April 2013. Itupun karena ada teman di kantor sedang ngopi di situ. Padahal Kopi Dimana? terletak persis di samping tempat saya tinggal.

Ari, si empunya kedai kopi, bukan hanya seorang peminikmat kopi, ia pelajari seluk beluk kopi dan mempraktekannya. Ari me-roasting dan mem-brewing sendiri kopi yang disajikan di Kopi Dimana? Ia mencintai kopi bagai seorang kekasih. Sifat masing-masing varietas kopi, cara menanam, asal daerah perkebunan amat bervariasi. 

Di Kopi Dimana? berkumpul pula orang-orang ‘ajaib’ dari berbagai latar belakang, ada blogger, pekerja film, musisi, politisi, wartawan, pedagang, ahli IT, peramal, pemilik kedai (bukan Kopi Dimana?), pemilik kedai kopi lainnya (termasuk dari luar kota), EO, pegawai periklanan, dan entah apa lagi. Kesamaannya satu, kami semua penyuka kopi. Dan bukan sembarang kopi, tapi kopi hasil bumi Nusantara yang bermutu tinggi dan wennnaaaak banget rasané.

Dari obrolan soal kopi, cupping, dan berbagai informasi tentang kopi dan bisnis kopi di Indonesia, kembali terlihat kekayaan Nusantara yang terbengkalai, tak terekspos sehingga kurang dikenal ‘keampuhannya’ oleh masyarakat umum. Peminum kopi di Indonesia, meski kebanyakan masih menikmati kopi yang diseduh, dikenal sebagai ‘kopi tubruk’, belakangan mengonsumsi kopi dalam kemasan sachet. Isi kemasan sachet yang semakin populer berisi campuran kopi+gula (+cream) yang terlalu manis. 

Karena orang Indonesia kebanyakan, termasuk saya, tak paham mana kopi yang bermutu, maka seringkali mengabaikan cita rasa kopi yang diminum. Ari menceritakan dan memberi saya kesempatan icip-icip kopi hasil racikannya. Rasanya memang beda. Potensi bahaya yang muncul adalah selera kopi saya melonjak tuntutannya, sehingga kopi yang biasa saya minum di berbagai tempat lain rasanya tak sedap lagi.

Hal lain yang luput dari perhatian publik adalah tempat dan merek kopi yang menjadi favorit berasal dari luar negeri, padahal merek-merek terkenal tersebut banyak yang berbahan dasar kopi hasil bumi Indonesia. Bukan hanya tak mengenal hasil kopi bumi sendiri, tapi kita lebih mengenal kebiasaan minum kopi dari brand luar negeri. Dari situlah asal muasal saya berpikir soal hashtag (#) kopindonesia (ditulis dengan menggabung akhiran huruf “i” di akhir kata kopi dan awalan dari kata Indonesia). Mengapa demikian? Karena #kopindonesia adalah sebuah istilah yang menggambarkan perhatian dan kecintaan penikmat kopi terhadap kopi Indonesia.

Memanfaatkan media sosial, obrolan, pemikiran, potret keadaan, kekaguman, dan informasi soal kopi Indonesia dapat dibagi dengan pengenal #kopindonesiaHashtag dan pembicaraan mengenai berbagai hal yang terhubung dengan kopi (Indonesia) berasal dari penikmat kopi, bukan pesanan atau rekaan dari pemilik bisnis kopi. Informasi yang disebarkan memang dari kacamata penikmat kopi.

Tanpa berandai-andai, penyebaran ceritam #kopindonesia diharapkan menjadi asupan info kepada masyarakat luas tentang dahsyatnya kopi, khususnya kopi hasil bumi Nusantara.

Aktivitas komuniakasi massa seperti ini bertujuan menyebarkan kecintaan terhadap Indonesia, dan kopi adalah salah satu aset kekayaan alam Nusantara yang sepatutnya dicintai dan dibanggakan.

Menyebarkan Aroma Kepulan Cinta

Bagi penikmat kopi, saat menceritakan nikmat dan dahsyatnya rasa kopi asal Nusantara akan menyisipkan cinta di dalam pesannya. Keindahan yang terbit karena cinta mudah dikenali oleh banyak penikmat kopi lainnya. Bila setiap orang bersedia sedikit menambahkan #kopindonesia, cerita kecintaan tersebut akan memudah menyebar dan mudah ditelusuri.

Sruput kopi diantara obrolan, posting pesan di media sosial dengan #kopindonesia tautkan kecintaan terhadap kopi dengan penikmat lainnya. Mudah-mudahan kopi hasil bumi Nusantara dapat menjadi tuan rumah yang keren di tanah asalnya.

 

Advertisements

One thought on “#kopindonesia

  1. Saya suka kalimat “Potensi bahaya yang muncul adalah selera kopi saya melonjak tuntutannya, sehingga kopi yang biasa saya minum di berbagai tempat lain rasanya tak sedap lagi.”

    Dan benar, sekarang kalo mau ngopi harus milih-milih, nggak kaya dulu lagi.. Ternyata lidah juga bisa makin pintar ya om..
    Mari kita tuntut “Kopi Dimana?” atas kejadian ini..!! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s