Message Engineering 2

Salah satu hal yang dibahas dalam message engineering adalah packaging the mesage. Topik yang saya selalu sisipkan di dalam hampir setiap mata kuliah yang saya pernah ajar selama 17 tahun saya mengajar. 

Setiap orang berkomunikasi mengenai dirinya sendiri secara sadar, maupun tidak sadar. Pakaian yang dipilih seseorang untuk dikenakan sehari-haripun sudah menjadi bagian cara orang tersebut berkomunikasi mengenai dirinya. Ia bisa mengatakan apa pekerjaannya, warna apa yang ia suka, sifatnya, gaya hidupnya, dan lain-lain.

Setiap orang juga mengemas pesan yang disampaikan. Sebuah pengetahuan yang dipelajari karena memang manusia memiliki naluri untuk mempelajari dan naluri berkomunikasi. Hanya saja itu dilakukan sedemikian otomatisnya, sehingga ia tak menyadari kalau mengemas pesan sudah dikerjakan sehari-hari. Contoh yang paling mudah adalah kita menggunakan intonasi yang berbeda saat berbicara dengan orang yang berbeda atau pesan yang disampaikan berbeda. Saat  menyapa orang yang dikenal, kita akan menggunakan intonasi yang lebih akrab, lebih ringan. Sedangkan saat kita menyapa orang yang belum dikenal, secara otomatis, kita memilih kata dan intonasi yang menunjukan kesopanan.

Berpakaianpun akan berubah dan direncanakan ketika kita akan menghadiri sebuah acara. Kita akan mencari tahu tentang acara tersebut, dimana acaranya, kapan waktunya, siapa yang akan datang, sehingga kita dapat berpakaian yang sesuai dengan acara tersebut agar tak salah kostum, dan kita memilih pakaian yang menunjukan kita siapa.

Alasan mengemas pesan adalah karena adanya efek yang ingin kita capai dengan berkomunikasi. Pada aktivitas purposive communication yang efek komunikasinya memang telah ditentukan dan direncakan pencapaiannya, diperlukan data untuk mengemas pesan agar efek komunikasinya tercapai. 

Banyak perencanaan komunikasi membahas efek komunikasi yang direncanakan sambil lalu, padahal justru menguasai efek komunikasi yang direncanakan ini adalah hal yang esensial. Efek komunikasi menyangkut perasaan dan pikiran yang ingin ditimbulkan pada target. Pada tahap selanjutnya, efek komunikasi adalah perilaku target yang telah dirancang sebelumnya oleh perencana komunikasi. Oleh karena itu, memahami siapa target komunikasi merupakan keharusan. 

Profiling. Pada tulisan “Message Engineering” sebelumnya, saya menjelaskan soal profiling target komunikasi dengan media. Profiling tidak sekedar data demografis, geografis, dan psikografis. Pengetahuan mengenai kecenderungan, preferensi dan perilaku target amat diperlukan, termasuk value yang dipegang oleh target, siapa yang menjadi influencer, perilaku terhadap media, kata atau kalimat yang menarik perhatian dan memperngaruhi, kata atau kalimat yang membuat target komunikasi mengasosiasikan pada hal tertentu, dan banyak lagi. Kenali target komunikasi sebagaimana kita mengenali sahabat kita sendiri.

Setelah menetapkan pesan dan efek yang ingin ditimbulkan, dan berdasarkan profiling, baru kita memilih kemasan pesannya. Pada tahap ini yang harus menjadi bagian dari pertimbangan cara mengemas pesan adalah media mana yang paling efektif dan persuasif menghantarkan pesan pada saat yang telah direncanakan. Ada catatan soal waktu yang tepat dalam purposive communications.

Semakin baik penguasaan seorang atau tim perencana komunikasi akan hal-hal yang telah disebut di atas, semakin mudah menguasai proses komunikasi yang menimbulkan efek yang direncanakan. Bila demikian, tak perlu lagi hanya berpegang pada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam banyak pelajaran dan pengajaran komunikasi, karena seringkali kasusnya harus ditangani secara berbeda pula. Komunikasi bukan ilmu eksakta.

Membungkus Pesan

Berikut ini adalah beberapa contoh mengemas pesan dalam promosi;

  • Kita bisa dengan mudah mengenali sebuah produk sabun cuci sedang menyasar target SES tertentu. Bila produknya menyasar SES C+ hingga B+, ada figur pembantu di iklan sabun cuci tersebut. Bila menyasar kelas C ke bawah, biasanya role play-nya langsung ibu rumah tangga.
  • Untuk menjelaskan bahwa produk minuman telah berada di tengah kehidupan masyarakat sejak lama, iklan tersebut mengambil adegan mengenai kebiasaan atau nilai budaya yang berlaku di masyarakat.
  • Siaran mengenai datangnya bala bantuan pangan yang dikawal oleh pasukan tempur yang gagah bersenjata canggih diputar berulang-ulang untuk membuat pembenaran ikut campur militer di negara asing.
  • Karena ketaatan beragama sedang menjadi issue hangat dan mempunyai nilai tinggi di mata masyarakat, maka seorang politisi tampil dengan busana muslim dengan mencantumkan beberapa nama tokoh agama di spanduk dan billboard.
  • Saat menyampaikan ungkapan simpati terhadap suatu musibah, seseorang perlu mengenakan pakaian sederhana dengan warna gelap, dan bertutur dengan suara rendah.
  • Guna mendapat perhatian pentingnya generasi muda Indonesia untuk mencintai kekayaan alam dan budayanya, perlu diceritakan pesan mengenai keindahan dan aset Indonesia melalui media sosial.

Mengemas pesan bukanlah sesuatu yang asing bagi setiap orang. Menjadikannya sebagai bagian dari message engineering diperlukan pengetahuan dan ketajaman tersendiri.

Communication is magical. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s