FITRAHNYA KEMERDEKAAN

Menjelang masuk bulan Ramadhan, saya sedikit nyinyir soal bagaimana orang berubah bungkus perilaku dan pakaian menjadi alim menurut Islam. Di sisi lain, saya posting di Twitter pertanyaan akankah orang tidak korupsi, dalam berbagai bentuknya, selama bulan puasa, karena ironisnya puasa dan lebaran sering menjadi alasan orang yang berwenang, khususnya pekerja pelayanan masyarakat, untuk meminta uang, termasuk dengan cara terang-terangan dengan membawa nama keluarga di rumah.

Jadi berpuasa dan berlebaran itu apa artinya buat mereka, bahkan sebagian besar umat Islam. Selama beberapa hari bulan Ramadhan tahun ini, saya banyak posting mengenai Tuhan, manusia, hubungan manusia dengan Tuhan, beribadah dan berdoa. Membaca itu, ada beberapa teman berpikir bila saya sudah menjalankan ibadah berpuasa dengan baik. Hanya dengan kalimat yang sejalan dengan suasana Ramadhan yang dibangun oleh pikiran masyarakat, maka saya terkesan beribadah dengan baik. Saya posting seperti itu memang karena juga terbawa suasana Ramadhan, tanpa harus mengutip kalimat dari Al Qur’an dan Hadits, saya menyatakan pemikiran dan perasaan saya. Posting tersebut juga tidak dilakukan untuk pencitraan dengan satu alasan sederhana, saya tidak ingin orang melihat saya sebagai orang muslim yang baik dan bisa jadi contoh. Saya tidak mau bertanggung jawab peran seperti itu.

Ada pengertian dan pemahaman yang diikuti dengan patuh mengenai puasa dan lebaran. Penjelasan dan dasar hukum disampaikan orang-orang yang dimaterai sebagai ahli agama lengkap dengan sebutan ustaz, kiai, habib, plus nama keluarga, pesantren dan perguruan tinggi menjadi pembenaran dari pengertian dan pemahaman yang dipatuhi, dan berakibat sedikit perbaikan iman dan ibadah sesaat. Saat bulan Ramadhan dan beberapa waktu di bulan Syawal.

Mempersiapkan diri memasuki masa ibadah puasa dilakukan sebelum Ramadhan, di banyak daerah perkotaan berkembang menjadi berbagai kegiatan ‘mumpung belum puasa’. Ada lagi kegiatan belanja besar-besaran untuk membuat ibadah puasa ngangenin. Menu disusun, bahan-bahan disiapkan. Belanja busana muslim/muslimah juga masuk daftar “menyambut Ramadhan”. Sementara organisasi yang mengatasnamakan Islam telah menegakkan panji-panji penertiban, memaksa semua orang menghormati orang berpuasa. Untuk yang satu ini saya berucap “Masya Allah!!!” Bagi saya pribadi, bila untuk beribadah orang memaksakan suasana khusus, sama saja orang tersebut mendeklarasikan dirinya “WOOOIIII IMAN KAMI PAYAH, JADI KAMI TAK BISA BERIBADAH KALAU TIDAK MEMAKASA SEMUA ORANG MEMBERIKAN KONDISI YANG BIKIN KAMI TERLIHAT TAQWA BERIBADAH!!!!” Deklarasi yang menghina diri sendiri. Ibadah itu urusan pribadi manusia dengan Tuhan.

Di sisi lain, deklarasi itu pula yang menyebabkan saya paham banyak pengikut agama Islam memerlukan ustaz, kiai, habib dalam beribadah. Patuh kepada imamnya tanpa menggunakan pikiran dan nurani. Keniscayaan yang jadi iman.

Islam mensyaratkan beriman kepada Allah dulu, untuk itu wajib bersumpah atas kesaksian “Tiada tuhan selain Allah”  yang harus dilakukan dengan seluruh jiwa-raga. Hanya Allah penguasa tertinggi, tak tertaklukan, tak tertandingi, mengetahui segalanya, menentukan, disembah, tempat mengabdi,  paling pengasih, paling penyayang, dimintai pertolongan, dimintai perlindungan, paling memberikan kesejahteraan, dan paling adil. Dengan beriman dan bersumpah seperti itu, manusia akan berperikemanusiaan yang adil dan beradab. Tak berniat, berpikir apalagi berlaku jahat. Tanpa keyakinan jiwa-raga akan syarat keimanan dan ke-islam-an yang utama dan pertama tersebut, nilai keimanan dan rukun Islam yang berikutnya tak membuat manusia menjadi baik dan benar di mata Allah dan menjadi Wakil Allah di kehidupan di dunia.

Merdeka

Kalau tak salah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus, baru tahun ini diperingati di bulan Syawal, setelah selama empat tahun selalu diperingati dalam bulan Ramadhan, bulan yang seharusnya menjadi waktu bagi pemeluk agama Islam untuk merenung, memahami, dan mengusahakan dengan segala upaya kembali kepada fitrahnya manusia. Manusia, bila ia memenuhi syarat utama dan pertama sebagai orang Islam, maka ia tak punya niat, pikiran dan kelakuan yang jahat terhadap kehidupan dimana dia hidup, termasuk kepada manusia lain. Karena itu, jika sebagian besar penduduk Indonesia pemeluk agama Islam, setelah empat tahun melalui peringatan Hari Kemerdekaan dengan kembali kepada kefitrahan manusia, kehidupan rakyat Indonesia sudah manusiawi, adil dan beradab. PASTI!

Saat pemahaman arti kemerdekaan tidak berlandaskan, berorientasi dan bertujuan pada fitrahnya manusia, maka Hari Kemerdekaan akan menjadi peringatan yang penuh asesori, tak punya arti selain perayaan yang menghabiskan biaya, yang tidak akan mewariskan hakekat arti kemerdekaan kepada generasi selanjutnya dan pada akhirnya arti kemerdekaan ditentukan oleh masyarakat yang lebih dominan, menguasai dan mengatur lalu lalang informasi, tanpa pernah secara tulus mereka melakukan apapun demi kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Masyarakat dominan ini tak selalu bersuku dan berbangsa, mereka adalah masyarakat penyembah dan pengabdi “kenikmatan hidup saat masih hidup”. Merdeka adalah menikmati hidup semaksimal mungkin selagi sempat. Masyarakat ini akan mempertahankan dan memperpanjang waktu kekuasaan menikmati hidup dengan mengabaikan manusia lain yang tidak masuk di kelompok ini.

Jadi, peringatan Hari Kemerdekaan itu memberikan kemerdekaan masyarakat yang mana? Jelas bukan semua rakyat Indonesia. Arti dan ruang kemerdekaan diterjemahkan sebagai hak menuntut, menuntut, menuntut, tanpa niat pemenuhan tuntutan oleh siapapun, termasuk yang menuntut. Karena menuntut, apalagi kalau dengan emosi, itu nikmat dan memunculkan adrenalin, menimbulkan excitement, ekstasi dan membuat ketagihan.

Peringatan kemerdekaan menjadi highlight dan dibangun menjadi sebuah keagungan, sebagaimana acara Idul Fitri dengan dengan kewajiban bersilaturahmi, khususnya kepada keluarga dan itu artinya mudik,  juga acara halal bihalal berapapun ongkosnya. Hakekat kembali kefitrah manusia yang merdeka tak pernah benar-benar diaplikasikan secara iman dan perilaku.

Saya bukan pelaku ibadah yang baik, saya baru sampai meyakini dan berpegang teguh pada sumpah saya atas keimanan saya kepada Allah, satu-satunya yang saya anggap tuhan. Dalam keterbatasan itu, saya terus berdoa semoga orang Islam yang juga rakyat Indonesia ini akan bisa dengan fitrahnya sebagai manusia hidup berkemanusiaan dan sejahtera seadil-adilnya. Saya tahu itu tak akan terjadi segera, bahkan mungkin tidak dalam kehidupan saya di dunia ini. Bermodalkan nurani, pikiran dan sedikit usaha, saya senang berdoa tiap hari. Allah Maha Pemberi Keputusan dan Pengabul yang Terbaik. 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s