Moment Seksi Pencitraan Diri

Tulisan ini tidak membicarakan mereka yang dengan tekun dan konsisten berperilaku dan berpakaian sebagaimana ketentuan Islam. Tulisan ini adalah keusilan saya menggoda teman, kolega, sahabat, dan saudara yang gemar bertampilan Islami, tampak bertingkahlaku suci sejenak, penuh uraian kalimat mulia. Saya tergoda menggoda karena saya suka menggoda. Huh…!! laki-laki penggoda!!!

Saban dekat Ramadhan, gema menjadi suci didendang dimana-mana. Semakin dekat Ramadhan semakin keras mengundang muslim-muslimah untuk berperilaku Islami, lengkap dengan aksesori pakaian. Ramadhan memang bulan yang istimewa, dan ini memang berdasar Firman ALLAH di Al-Qur’an. Jadi bukan perkara penafsiran, tapi jelas Firman ALLAH.

Di kehidupan dunia yang semakin mesra dengan perhitungan untung-rugi, berkembanglah kepopuleran saat bulan Ramadhan jadilah muslim-muslimah yang benar untuk menebus kekhilafan hidup di sisa hari dalam setahun (bisa kalender Islam, maupun Masehi).

Lifestyle dan perkembangan media sejalan beriringan mewangikan moment Ramadhan dan Lebaran ke berbagai penjuru perbincangan hingga harumnya mengundang selera bagi kuncup-kuncup pecinta populeritas yang semakin lama memang semakin subur tersebar, tak menjadi sasaran penebangan ilegal.

Etalase di media sosial memberikan percepatan eksposur yang lebih dahsyat dari media tv dan radio sekaligus. Saat program infoteinment melengkapi dirinya dengan berita dan visual dari media sosial, penampilan di muka publik dengan kelengkapan Islami menjadi semakin seksi dikonsumsi prestasi mengeksploitasi ekspresi diri.

Perdagangan tak mengenal Tuhan, apalagi agama. Promosi lebih memanfaatkan kecintaan orang akan citra dan positioning masyarakat, dan bisnispun mengguyurnya dengan iming-iming harga, hadiah, bonus, lengkap dengan khayal imaji pencitraan diri. Ini bersambut gayung dengan media massa yang memberikan pembenaran paparan yang menjadi bahan bakar agar rating membumbung dan ujungnya pendapatan iklan yang beriring memeriahkan moment khusus ini.

Mengangkat citra memang erat dengan moment, kemasan pesan, dan media. Semuanya ada di fase Ramadhan-Lebaran. Mencitrakan diri tak pernah diperhitungkan sebagai kewajiban yang harus dipenuhi untuk masuk Surga, dan tidak pula melanggar perintah ALLAH. Moment religius diambil jadi added value untuk berkompetisi di dunia eksistensi yang menjadi semakin lebih populer daripada mutu iman yang secara konsisten ditingkatkan. Ramadhan-Lebaran adalah moment seksi untuk pencitraan diri.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s