….. (nama yang kupanggil di dalam hati)

“Lihatlah Hari Berganti

Namun Tiada Seindah Dahulu

Datanglah aku Ingin Bertemu

Untukmu aku Bernyanyi

Untuk Ayah Tercinta
aku Ingin Bernyanyi”

itu adalah potongan lirik dari lagu “Ayah” karya Oom Rinto Harahap.

Here I am. With my capacity, my capability, segala achievement saya. Kecil besar, selalu ada bersitan warisan ayah saya, yang saya panggil ‘Bapak’.

Meski ada teman yang mewarisi warisan bidang kesaktian ayahnya, saya adalah orang yang tidak bekerja di bidang yang sama persis dengan ayah saya, kecuali mungkin…… saya juga dosen sebagaimana beliau semasa hidupnya. Dan pekerjaan itu saya cintai sebagaimana ayah saya membaktikan dirinya sebagai pengajar. Ada satu hal yang saya temui setelah bertahun saya mengajar, membuka pikiran orang adalah sesuatu yang nikmat dan, saya merasakan sebagai kewajiban. Bisa berjuta cara membuka pikiran. Mengajar, memberi contoh, mendemonstrasikan, mendiskusikan, meng-imaji-kan, memberi kesempatan, menyemangati, memotivasi, memberi dukungan, memberi ruang, dan banyak lagi.

Bidang yang saya ajar dan saya praktekan untuk mencari uang amat berbeda dengan ayah saya. Paling tidak saya yakin hingga beberapa tahun yang lalu. Saya murni bergerak di bidang komunikasi, sedang ayah saya almarhum adalah seorang arkeolog, seorang museumolog, dan pemaham kebudayaan. Belakangan, saya mengerti, ternyata banyak warisan yang diberikan ayah saya, tanpa saya merasa menerimanya.

Cinta, tidak melupakan muasal (sejarah), passion, ketuhanan, keikhlasan, kerja keras, dan berbagi, itulah deretan warisan ayah saya. 

Cinta Dan Pengabdian
Cinta bisa diteorikan menjadi tulisan panjang, tapi cinta yang saya pahami, ditemukan. Perlu waktu untuk menemukan cinta kita terhadap sesuatu. Cinta mirip-mirip iman, diterima akal, diyakini hati dan dipraktekan. Baca, mendengarkan, dan berdiskusi membuat saya tahu filosofi dan praktek komunikasi. Ketika bicara mengenai simbol/kemasan pikir dan rasa, saya kental berurusan dengan budaya. Ayah saya, selama hidupnya, mematrikan paham kebudayaan di dinding, tiang, atap rumah pikir dan hati anak-anaknya. Dan meniupkan jiwa cinta akar budaya dan nilai di hati kami, anak-anaknya. 

Dengan cara yang otoriter, kami diajarkan senyawa demokrasi dengan nilai-nilai Indonesia. Sebuah keterbukaan pikiran dan hati, sehingga kita mampu menyerap banyak hal, memilahnya, mensarikannya, dan membentuk apa yang kemudian jadi milik kita. Karena itu adalah cipta kita sendiri, maka kita mencintainya, seperti saya mencintai ‘komunikasi’.Saya mencumbunya tiap ada kesempatan.

Saat pengetahuan jadi kemampuan, kemampuan jadi keahlian, dan keahlian menjadi pencapaian, saya lupa bertanya, darimana arahan ini. Pengetahuan agama dan filosofi ayah saya yang disampaikan dengan tutur, membuka pintu ruang ikhlas. Kebesaran Tuhan untuk memberi kemampuan, bakat dan kesempatan untuk berkembang membuat saya memahami bahwa pencapaian saya adalah untuk diabdikan. Di situ saya mengenal pemahaman spirit and passion. Saya tidak bertanya dua kali lagi untuk terus menerapkan pencapaian saya, karena kita hanya meminjam. Sebuah warisan nilai ‘gigih’ yang diwariskan ayah saya yang tidak religius, tapi berketuhanan. Sama seperti beliau, saya melakukan untuk tanah air dan bangsa saya yang telah memberi ruang bagi saya untuk menjadi saya.

Menjadi Dewasa
Pemandangan Reza Puspo berdiri di hadapan peti jenasah ayahandanya, menjentikkan api pikir di benak saya. “This is me, father. I am standing here as myself, a son that you raised to become someone, even though not necessarily a person that you dreamed of. But, here I am, I can take all the responsibilities that might come to my shoulder. And yes, I can say, I am a person that you can be proud of.” 

Sebuah imaji akan diriku sendiri di depan ayahku yang sudah berpulang. Sebuah rangkaianstatement yang Indra Lesmana bisa sampaikan kepada ayahnya, sebetik detik bayangan yang ada di kepala saya ketika membicarakan lagu “Ayah” yang pernah dinyanyikan Indra.

Di tiap jengkal pencapaian, ada serat ayah. Di setiap jengkalnya. Di tiap helaan jeda untuk menarik nafas kepuasan. Ayah yang telah menyusupkan cinta agar kita sesuai dengan mimpinya, dan menerimanya ketika kita tak serupa dengan bayangannya.

Kini kita membuka ruang bagi sesama untuk mencintai. Kami, putra-putri dari seorang ayah, tidak selalu contoh yang tepat, tapi kami memberi kepala, rasa dan ruang bagi siapapun untuk menemukan cinta dan diri. Untuk menjadi seseorang yang mampu membagi sesuatu kelak.

Untuk setiap ayah yang telah memberikan warisnya, kami ada di tengah manusia untuk membangkit cinta atas siapa mereka dan apa kerja mereka. Terima kasih untuk kemampuan itu. Terima kasih Tuhan untuk kehadiran seorang ayah bagi kami.

(Tulisan ini dipersembahkan untuk Almarhum Bambang Sumadio, Harsono Djoened Pusponegoro, Sjahruddin, Bambang Singgih dan Jack Lemmers)

Jakarta, 4 April 2010, di sore dengan seberkas tilasan hujan 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s