Gus Dur, Sang Garuda Indonesia

Sejak bertahun-tahun yang lalu, saya melihat Gus Dur sebagai pribadi yang merepresentasikan Indonesia. Lahir sebagai seorang muslim yang kuat dengan nilai-nilai filosofi tradisional dari keluarga pemikir dan memimpin kelompok besar orang yang menganut strata dalam tatanan hidup sosial. Meski demikian sikap dan hatinya selalu dipelihara untuk dekat dengan strata masyarakat yang terendah. Masyarakat kebanyakan.

Sebagai orang muda, Gus Dur mengejar ilmu secara formal, bukan semata mengandalkan jalur informal dan pencapaian melalui pendekatan kontemplatif. Beliau tumbuh dengan logika dan analogi yang bisa diperdebatkan. Hal mana, juga menjadi kesenangan beliau untuk berlatih-tanding pikiran. Namun demikian, Gus Dur juga tidak menanggalkan dunia kegaiban yang menyelimuti kehidupan masyarakat Indonesia.Bukan perkara setan atau tahayul, Gus Dur memahami kehidupan itu memiliki dua sisi. Bahkan Gus Dur menguasai kemampuan sisi metafisik tersebut, dan ini membuatnya menjadi sosok yang kontroversial, walau sebenarnya orang Indonesia, bahkan Asia pada umumnya, masih menggunakan serat tradisional yang mengurat pada kehidupan metafisik.

Gus Dur yang egaliter, memperlihatkan kehidupan bersahaja, sebangun dengan kebanyakan rakyat Indonesia yang masih miskin. Gus Dur juga menguasai bahasa asing, bahkan anaknya menguasai lebih dari satu bahasa asing. Kemampuan mengadaptasi pergaulan internasional dan perubahan tatanan kehidupan moderen juga diperlihatkan Gus Dur. Ia berteman dengan semua orang dari semua bangsa dan aliran idealisme. Gus Dur yang sederhana juga tidak anti kemapanan dan teknologi yang memberikan kemewahan akan kenyamanan.

Dan Gus Dur tidak berbalut pencitraan yang direkayasa. Apa yang ditampilkan adalah pencapaian. Seloroh dan guyonnya bisa menyitir kerumitan, maupun menggugat dalam kesederhanaan.Menyindir kehidupan orang Indonesia yang suka membelitkan kehidupan dengan kerumitan, meski hal yang dipermasalahkan dapat diselesaikan dengan keikhlasan.

Gus Dur sebagai pemimpin, sayapnya melindungi masyarakat lebih teduh dari pohon besar, lebih gagah dari banteng, lebih kuat dari perisai demokrasi, dan lebih berwarna dari panji-panji kedaerahan. Ke-Indoenesia-an Gus Dur bukan lagi berupa tameng Pancasila, tapi tertanam di dalam dada dan mengalir di penjuru nadinya. Kesantunannya terbuka, merunduk ketika bicara kepada sesuatu yang patut dihormati, berdiri tegak ketika membela kebenaran. Ketika harus menjadi guru, Gus Dur berbahasa dengan tutur yang mudah dicerna dengan gugat pikiran yang lembut. Di saat lain sebagai kritisi, Gus Dur bisa mengatakan kenyataan dengan telanjang kata. Membuatnya dikutuki lawan berpikir. Gus Dur tidak pernah mempermasalahkan itu, karena beliau memahami perbedaan pendekatan.

Sekitar Maghrib, 30 Desember 2009, Gus Dur pergi. Garuda Indonesia yang telah berpuluh tahun mengawal pendewasaan bangsa Indonesia membumbung tinggi, menanti di ruang tunggu untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Tegurannya tak akan terdengar lagi, hadirnya tak menggugat lagi. Tinggal pemikirannya yang menjadi pekerjaan rumah untuk dibuahi dan dipanen kelak.

Gus Dur, Sang Garuda Indonesia. Garudaku sebagai bangsa Indonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s