Belajar Bijak Bekerja

Setiap orang punya standar dalam pekerjaannya, yang mana menurut beberapa kawan standar yang saya tetapkan terlalu tinggi. Padahal menurut saya itu sewajarnya saja karena orang harus memberikan yang terbaik. Begitulah yang saya hadapi sebagai persoalan, bila saya berpikir soal strategi komunikasi, selalu jadi kelewat serius. Alhasil seringkali saya terpaksa harus mengikuti tuntutan permintaan yang tak sesuai dengan permintaan lingkungan. Saya juga sudah banyak mengurangi kerja yang “turun” langsung ke detil karena saya bisa marah karena kesalahan-kesalahan yang seharusnya tak perlu terjadi.

Pemikiran ini muncul lagi ke permukaan karena kemarin ( 6 Juli 2013), saya ngobrol dengan Nirmala, Titi Rusdi dan Oon, soal menetapkan idealnya menyelesaikan sebuah pekerjaan. Oon, sahabat saya yang menjadi otak di belakang perusahaan app developer 7Langit, punya kecenderungan yang sama dengan saya. Kami dengan mudahnya bersepakat soal standar kerja dan hasil yang bisa dicapai. Sedangkan Nirmala dan Titi lebih relaistis, kalau tidak mau dikatakan pragmatis. Mereka yang biasa berurusan langsung dengan klien punya pandangan yang berorientasi kepada keberhasilan bisnis. Tak ada yang salah dengan argumen mereka, meski membuat dahi saya dan Oon menggernyit karena harus menurunkan kualitas kerja atau mengurangi kemampuan pikir kami. 

Baik Nirmala, maupun Titi, punya pendapat sama dengan alasan yang sama, yakni klien seringkali tidak mengerti apa yang mereka inginkan. Dari penjelasan Nirmala, Titi, mupun Oon, saya melihat bahwa apa yang dimengerti kebanyakan klien dan orang agensi sering hanya kulit dari ilmu komunikasi. Saya sendiri tidak berpikir saya jago, tapi kenyataannya memang yang banyak diminta hanya aksesori hasil yang bisa dicapai dalam sebuah aktivitas komunikasi. Menyedihkan, dan itulah fakta yang semakin sulit dirubah karena hanya sebatas itulah yang diminta. 

Tiga tahun bekerja di perusahaan layanan tv berbayar dan jaringan layanan internet, saya juga melihat hal yang sama. Raasanya gemas melihat kegiatan promosi yang dilakukan yang menurut saya masih di level belajar. Padahal perusahaan tersebut bisa muncul hebat sekali. Ada dua faktor lagi yang saya harus maklumi membuat perencanaan kegiatan promosi jadi berat dilakukan sebagaimana mestinya. Pertama adalah budget yang ditentukan oleh tokoh yang tak memahami pentingnya promosi. Faktor kedua adalah tuntutan terhadap promosi yang memberikan hasil peningkatan penjualan segera. Promosi harus menghasilkan meningkatnya penjualan, saya setuju, tapi tidak seketika, terutama untuk bentuk marketing public relationspenetrasi untuk menjangkau pasar potensial, revitalizing market, dan bantuk corporate communications yang mendukung pemasaran. Memang ada bentuk promosi yang mengarah kepada bentuk direct marketing dan dapat diukur keberhasilannya segera.

Saya dan Oon adalah profesional yang menginginkan proses dan hasil kerja yang bagus dan indah. Agaknya kami berdua harus menyiasati cara berbisnis. Orang seperti Nirmala dan Titi harus mengantarai kami dengan pekerjaan. Diperlukan pula tim yang menerjemahkan pemikiran dan gagasan kami dengan eksekusi agar kerja lebih fleksibel. Itulah yang mengakhiri obrolan kami berempat. Nirmala menitip pesan, “Kamu nggak boleh berhenti memikirkan apapun yang kamu pikir harus dibuat. Don’t make all these stop you from thinking what’s best.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s