Branding Diri Sendiri

Ini sebuah guyonan di kantor. Bukan olokan, tapi guyonan.

“Loe musti branding diri loe,” begitu kata seorang pentolan kantor yang cerdasnya amit-amit, kepada anak buahnya.

 

So, what is a brand? Is it just a name? Atau lebih daripada itu, brand adalah sebuah ciri, kepribadian, perilaku yang membedakan satu benda (baca: pribadi) dengan benda lainnya.

 

Saya punya kecenderungan mengolah sesuatu dengan pengetahuan dasar yang mengakibatkan saya sering dianggap kurang canggih karena kurang gemar menggunakan kembangan pengetahuan yang canggih berbunga-bunga, melangit sehingga kehilangan dasarnya. Maka saya memulainya dengan pertanyaan apakah produk yang akan di-branding. Artinya saya mulai mem-preteli satu-persatu orang tersebut, dalam hal ini, misalnya, saya sendiri.

 

I am bald, short, dark-skinned and have a pot belly, itu fisiknya. Secara fisik, saya tak menarik, keren atau cool, tapi karena fisik saya seperti itu, saya bisa tampil jenaka, agak pecicilan asal tak mengganggu, mengolok diri saya sendiri tanpa merendahkan harga diri. Saya bisa  menjadi teman yang menyenangkan.

 

Karena saya senang membaca, mendengarkan cerita, menyerap keadaan dan kejadian di sekeliling saya, termasuk memperhatikan gesture, mimik, nada suara, aksen, cara berpakaian orang lain. Akibatnya saya memiliki banyak hal untuk diceritakan, mendengarkan keluhan dan memberikan pandangan lain tanpa harus sok tahu memberikan solusi.

 

I am a PR person, in and out

Dengan keadaan yang saya sebut di atas, saya berkeliling menjalin benang-benang komunikasi, sembari meluangkan waktu berada di tengah kelompok-kelompok tertentu untuk mendengar sambil mengumpulkan informasi, dan bicara saat bisa berkontribusi. Memberikan variasi sisi pandangan dan reaksi. Dan satu lagi, memberika joke dengan baik, jangan konyol dan norak.

 

Saya mengenakan pakaian yang relatif santai dengan variasi jaket, jas dan blazer, agar sedikit gaya, karena PR perlu agak stylish

 

Saya bekerja untuk perusahaan pelayanan jaringan kabel broadband internet dan layanan jaring TV berbayar. Dua hal yang tampil berdampingan, yaitu canggih dan lifestyle. Saya menggunakan produk Apple, mulai dari Macbook Air, iPhone sampai iPad. Saya menyukai produk tersebut, sekaligus memberikan sentuhan up to date, sophisticated, dan lagi-lagi stylish.

 

Saya duduk di café donat dan kopi, tapi juga bisa makan di kantin karyawan yang panas, lembab, penuh asap. Ngobrol dengan para jagoan papan atas perusahaan, karyawan, wartawan, pedagang dan office boy tanpa canggung. 

 

Saya memang sedang melakukan positioning, dan mengomunikasikan siapa diri saya tanpa harus menjabarkan dalam kata-kata mengenai siapa saya dan apa pekerjaan saya.

 

Apakah saya sedang branding diri sendiri? Jawabannya iya. 

Haruskah saya melakukan hal itu untuk mencapai sesuatu? Jawabannya tidak. Saya melakukan secara naluriah. Naluri seorang PR.

Aha…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s