Gatut, Nama Pemberian Ayahku

Almarhum ayahku adalah dosen ilmu arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Karena dia mengetahui bahasa Sanskerta, maka anak-anaknya diberi nama dari bahasa tersebut. Semua berawalan ‘Widya’ yang artinya ‘ilmu’. Almarhum, dan juga ibuku, berharap anak-anaknya menguasai ilmu pengetahuan. Namaku, seperti yang tertera di surat kenal lahir, Akte Kelahiran, semua ijazah dan surat dokumen sipil bertuliskan ‘Widyasena’.

Paraban yang dalam bahasa Indonesianya disebut nama panggilan diberikan kepada keempat anak orangtuaku. Anak pertama dipanggil Ceplis yang artinya mungil, karena kakak pertamaku ini mungil waktu dilahirkan. Kakak keduaku dan adikku dipanggil dari penggalan nama lengkapnya. Aku sendiri dipanggil Gatut. Nama yang sebab pemberiannya tidak kuketahui sampai dewasa.

Bagaimana seorang anak kecil mau memilih nama panggilannya, maka aku menurut saja. Awalnya, tidak masalah, sampai ketika memasuki sekolah di Taman Kanak-kanak, orang memanggil aku ‘Gatot’, karena asing dengan kata ‘Gatut’. Nama Gatot memang lebih umum karena selalu dihubungkan dengan Gatot Kaca, satria Pringgondani, putra Bima dari Pandawa Lima.

Lagi-lagi aku menerimanya dengan pasrah ketulian dan ketidak-berdayaan orang untuk menyebut namaku dengan benar. Ini berlangsung hingga Sekolah Menengah Pertama.

Di Sekolah Menengah Atas (SMA), orang-orang memanggilku ‘Widy’, dari penggalan nama lengkapku. Orang-orang di lingkungan SMA-ku berinisiatif memanggilku dengan nama tersebut. Akupun tidak menolaknya.

Asal Nama Gatut

Suatu hari ditahun 1990an, aku bertemu seorang paranormal, kerabat tetanggaku. Pada saat paranormal ini trance, tanpa permisi dia mulai mengoceh soal latar belakang sejarah nenek buyutku. Sebetulnya, ini bukan kali pertama orang menjabarkan cerita kakek-nenek yang menurunkan aku, tapi baru kali ini aku menyimaknya.

Sepulang dari bertemu dengan sang-paranormal, aku bercerita kepada ayahku. Lalu mulailah dia menjelaskan latar belakang namaku.

“Bapak kasih nama ‘Gatut’ ke kamu itu sebelum kamu lahir. Sebelum tahu Ibu bakal melahirkan anak laki-laki atau perempuan. Dan ‘Gatut’ itu bukan paraban. Itu ya nama kamu.”

Aku diam tidak mengerti maksudnya.

“Dari empat anak, kamu memang yang lahirnya lain sendiri. Di dalam kandungan kamu lebih lama. Ibu sudah bolak balik merasa mau melahirkan, dibawa ke rumah sakit, tapi kamu nggaklahir-lahir. Bolak balik begitu.

Pas lahir, leher kamu terbelit usus. Lahirnya hari Selasa Kliwon. Buat orang Jawa itu tanda—tanda yang khusus, “ papar ayahku tanpa menjelaskan arti tanda-tanda khusus yang dikatakannya.

“Dari kecil kamu paling bandel. Sekolahnya ngawur. Tapi kamu juga yang biasa nolong orang. Pinter mijet. Eyang sakit kakinya, susah jalannya. Kamu pijet, sembuh. Kamu seneng jalan sendiri. Kemana-mana lebih sering sendiri.

Kamu juga paling pemarah kalau merasa enggak diperlakukan adil.”

Aku masih terdiam, melongo.

“Bapak memang pengen  kasih nama kamu ‘Gatut’. Bapak juga pernah bilang ke Ibu, kalau hidup kamu maungkin yang paling ulet. Paling banyak rintangannya. Tapi kamu pasti bisa kok. Hidupmu itu di waktu muda itu kaya’ kawah Candradimuka. Beda sama yang lain, kamu memang “digodoknya” lebih lama, jelas ayahku.

Beberapa tahun kemudian, aku baru tahu kalau ayahku menulis namaku sebagai ‘Gatut Widyasena’. Bukan hanya ‘Widyasena’ seperti bila ibuku menulis dan tercantum di surat administrasi dan dokumen resmi diriku.

Namaku Gatut Widyasena Sumadio

Dalam banyak kesempatan, aku masih menulis namaku dengan menulis nama belakang ayahku, ‘Widyasena Sumadio’. Hanya saja, sejak mendengar uraian cerita ayahku, aku terkadang menulis namaku dengan menulis ‘Gatut’ sebagai nama awalan.

Gatut yang keras kepala, senang berpikir kritis, pendebat, usil, advonturir, pemarah, pelawak, pencinta seni budaya dan penikmat musik jazz.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s