MELAKUKAN IQRA DALAM PROMOSI

Salah satu kata yang amat menyerap perhatian saya ketika saya mulai berusaha mempelajari dengan lebih baik agama Islam adalah kata iqra, yang kerap disederhanakan penafsirannya menjadi “bacalah”. Lama saya menafsirkan kata iqra bukan sebatas pemahaman “bacalah”, tetapi menyerap (membaca dengan sebaik-baiknya untuk memahami dan menganalisis untuk pemahaman yang lebih baik lagi) segala sesuatu yang melintas dalam pikiran dan batiniah melalui panca indera, maupun rasa dan imaji.

Pada hari pertama Idul Fitri, 1 Syawal 1437 H atau 6 Juli 2016 lalu, saya mendiskusikan kata iqra dengan saudara saya, Abdullah Wong. Kiai muda ini mengatakan iqra juga dapat dipahami sebagai to collect. Artinya menggabungkan proses membaca, mempelajari, menganalisis, memahami, mendalami lagi, menganalisis lagi, memahami lebih baik dengan mengimbuh berbagai proses iqra lainnya. Bukan sampai di situ, ada pula proses menyebarkan pemahaman, termasuk dalam bentuk diskusi, sehingga dapat memperbaiki pemahaman dan penularan pemahamani itu sendiri. Ini adalah proses yang tidak berhenti sepanjang hidup.

Tulisan ini tidak bermaksud menjadi jabaran religi ataupun spiritual, saya ingin berbagi dalam konteks yang menyangkut pekerjaan saya sehari-hari, praktisi ilmu komunikasi bertujuan (purposive communications) dimana di dalamnya ada PR-ing, periklanan, dan aktivitas promosi lainnya.

 

To Collect

Ada banyak fakta dan data yang kudu, wajib dikumpulkan, dianalisis, dan dikelompokan saat mempersiapkan sebuah aktivitas komunikasi. Fakta dan data ini ada di dalam institusi yang akan menyelenggarakan aktivitas komunikasi, di materi atau perihal yang ingin dikomunikasikan, dan juga di publik. Fakta dan data tersebut banyak sekali. Memang perlu ketelitian dan kesabaran mengumpulkannya. Setelah melalui pengelompokan fakta dan data tersebut, bandingkan dengan publik dari institusi, materi atau hal yang ingin dikomunikasikan, serta profil dari kelompok masyarakat yang menjadi target komunikasi. Hal ini berkaitan erat dengan strategi pemilihan pesan, kemasan pesan, dan media yang akan digunakan.

Untuk mengawalinya, tariklah sisi sejarah, termasuk latar belakang, dari apapun yang memerlukan aktivitas komunikasi tersebut. Saya mengambil contoh hal memerlukan aktivitas komunikasi tersebut adalah sebuah event, salah satu yang semakin kerap digelar di Indonesia. Lebih dari 15 tahun terakhir ini, saya terlibat di beberapa penyelenggaraan acara, termasuk yang berkelas dunia dan dalam 5 tahun belakangan ini semakin banyak event diselenggarakan secara besar-besaran. Sayangnya, kebanyakan hanya mengandalkan besarnya frekuensi eksposur media sebagaimana seringkali kebanyakan orang memahami aktivitas branding. Di satu sisi, tingginya frekuensi eksposur memang dapat merebut perhatian publik. Untuk yang satu ini modalnya adalah kapital atau media yang diajak menjadi rekanan. Kelemahannya adalah tindak promosi tersebut terlalu banyak yang serupa dan menjadi sampah yang disisihkan oleh publik.

Mulailah dengan menginventaris media yang dimiliki pihak penyelenggara acara. Di era digital ini banyak media sosial yang bisa dimiliki. Jadikan ini modal pertama dengan memetakan publik dari media sosial yang dimiliki. Iqra pertama untuk urusan penggunaan media adalah ini. Inventarisasi pula media sosial milik teman-teman terdekat dari penyelenggara acara yang akan mendukung acara. Pahami publik media sosialnya dan analisis perilaku mereka terhadap info-info yang mereka terima dari akun media sosial tersebut. Dari sini dapat kita lihat informasi apa yang mereka tanggapi dengan positif. Pilihlah akun yang memiliki senyawa dengan acara yang akan diselenggarakan. Sekali lagi, tarik dari sisi sejarah pemilik akun dan isi pesan media sosialnya. Munculnya desain dan info mengenai acara di gugus armada media sosial yang dekat dengan penyelenggara acara dan acara tersebut akan menumbuhkan trust akan penyelenggaraan acara tersebut, disamping tentu saja menambah akselerasi penyebaran info.

Secara paralel, koleksi fakta dan data mengenai acara tersebut, seperti awal gagasannya, siapa yang memuculkan gagasan, tujuannya, efek yang ingin dicapai, bentuk kegiatannya, isi acaranya, pengisi acaranya, tempat penyelenggaraannya, waktu penyelenggaraannya, dan siapa yang menyelenggarakannya. Lalu kumpulkan fakta dan data mengenai kehidupan, perilaku, dan ketertarikan publik sasaran acara yang akan diselenggarakan. Akan banyak info menarik akan ditemukan yang dapat mengejutkan. Pilah dan pilih fakta dan data yang menarik perhatian publik dan menyulut keinginan mereka meneruskan informasi, baik melalui media sosial, maupun secara langsung dalam perbincangan sehari-hari. Kadang efek perilaku penularan ini tak terlihat langsung, karena tidak muncul seketika di media sosial. Saya kerap menemukan fakta orang membicarakan sebuah acara yang akan berlangsung, tanpa ia pernah menyebarkannya di media sosial. Ini seperti halnya wartawan mendapatkan informasi yang menambah pengetahuannya terhadap sebuah isyu, tapi tidak atau belum menuliskannya ke dalam artikel meskipun ia sudah menyebarkan info tersebut dengan berbagi kepada rekan-rekannya di media, ataupun dengan mencari tahu ke berbagai pihak tentang isyu tersebut. Hal ini memang berkaitan dengan mendesain efek. Bukan melulu mendapatkan eksposur.

Fun facts dan cerita kegiatan di balik layar yang berupa jabaran dan angka akan menjadi variasi info yang menarik diantara info mengenai acara, waktu penyelenggaraan, tempat penyelenggaraan, dan cara menghadiri acara.

Lakukan iqra sejak awal perencanaan acara, bukan saat acara memerlukan promosi. Sehingga dapat disusun jadwal pemilihan info yang akan dirilis ke publik. Rencanakan eskalasi derajat intensitas informasi dan frekuensi eksposur medianya. Monitoring media perlu dilakukan secara berkala sehingga kita tahu pikiran dan emosi publik yang terkait dengan acara. Karena sebenarnya, kegiatan promosi adalah mengoleksi pikiran dan emosi publik. Aktivitas iqra dalam berpromosi dilakukan sejak awal perencanaan sebuah promosi hingga pasca kegiatan promosi.

Advertisements

Belajar Seumur Hidup

Saya bukanlah seorang murid di kelas yang layak dicontoh. Pernah nggak naik kelas, dikeluarkan dari sekolah, biang membolos waktu di SMP, mengajak teman sekelas ke Puncak di waktu pelajaran sekolah, dan kuliahpun sangat amat lammmmmmmmmaaaa… Saya tak pernah merencanakan bekerja sebagai dosen sebelum akhirnya pada tahun 1994 melamar di Kampus Tercinta, tempat saya pernah menuntut ilmu. Sayangnya saya tidak diterima mengajar di sana. Mungkin karena rekor lamanya kuliah di sana yang jarang tertandingi. Tahun 1996, saya ditawari mengajar di Program D3 FSUI (sebelum berganti menjadi FIB) UI, Depok. Saya mulai mengajar mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi dan Pengantar Ilmu Periklanan sebagai paket mata kuliah pilihan sejak awal tahun 1997. Bertahun-tahun kemudian, saya merangkap menjadi pengajar di Program Studi Komunikasi FISIP Universita Al Azhar Indonesia (UAI) di tahun 2006. Di masa mengajar itulah saya menemukan kenikmatan membuka ruang pikir mahasiswa saya. Menguak horison pikir yang mereka belum atau baru sedikit jelajahi.

Selama bertahun-tahun itu pula, sebenarnya saya lebih banyak berbagi pengetahuan dan pengalaman di luar ruang kuliah. Beberapa diantaranya masih berkesempatan bertemu hingga hari ini. Pertanyaannya tentu berbeda, tapi dalam banyak kesempatan obrolan itu saya masih “mengajar” mereka, termasuk memotivasi mereka. Bahkan saya beberapa kali diundang mengajar sebagai dosen tamu di kelas dimana mantan murid saya mengajar.

Tahun 2010 Program Diploma FIB UI tidak lagi menerima murid baru dan saya berhenti mengajar di sana, sementara di UAI saya masih mengajar seminggu sekali. Bulan Oktober 2013, untuk pertama kalinya saya berhenti bekerja sebagai dosen. Agak aneh awalnya, namun lama-lama terbiasa juga untuk tidak datang ke kampus.

Pada tahun 1998-an, seorang sahabat, komikus “Oom” Firman Rachim, mengatakan “Wid, eloe tuh guru. ‘Ampe kapan juga bawaan loe ngajarnerangin orang. Emang gitu peran loe.” Saat itu perkataan “Oom” Firman saya anggap sambil lalu saja, karena memang saya bekerja sebagai dosen. 15 tahun kemudian saya baru meng-amin-i perkataan “Oom” Firman, karena meski saya tak lagi bekerja sebagai dosen, dimanapun saya nongkrong, selalu ada saja orang datang bertanya. Kegiatan yang berjalan beriringan dengan hal tersebut adalah saya selalu menemukan orang yang menambah pengetahuan saya. Selalu ada saja hal yang saya bertambah paham atau baru tahu.

Di sisi lain, saya masih membaca buku untuk mencocokan apakah yang saya pahami dari mempelajari atau menganalisis itu benar, terutama yang berkaitan dengan ilmu dan praktik komunikasi. Alhamdulillah, sejak remaja saya mudah sekali menghubungkan satu informasi atau pengetahuan dengan pengetahuan yang lain, baik itu berupa kejadian, maupun suatu pemahaman. Semakin lama, semakin baik presisinya. Tentu tidak setiap pemikiran saya tepat adanya.

Beberapa bulan belakangan ini saya banyak bergaul dengan orang-orang yang berlatar belakang pendidikan pesantren, diantara mereka ada yang melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang Master di perguruan tinggi. Hal yang mengejutkan saya adalah begitu banyak ilmu pengetahuan yang mereka miliki mampu menjungkirkan kenyamanan saya dari tempat duduk di ruang pikir saya. Mulai dari ilmu sejarah, pengetahuan umum, hingga ilmu soal hidup. Sebenarnya saya belajar soal religi sejak tahun 1997 dan saya mendapatkan banyak hal. Namun belakangan ini berbagai uraian dari teman-teman lulusan pesantren ini begitu sering melontarkan saya ke pemikiran-pemikiran baru.

Sebagaimana kebanyakan orang di luar lingkungan pesantren, saya juga meyakini pendidikan formal yang direstui Pemerintah sudah amat ampuh. Pengetahuan dari pendidikan formal banyak dari kerangka pemikiran “Barat” yang dianggap lebih unggul dari cara pendidikan dan buah pemikiran dari tradisi “Timur” yang secara jelas dipropagandakan sebagai “negara dunia ketiga” yang tidak secanggih dan seakurat yang berasal dari “dunia Barat”. Saya juga baru tahu bahwa tokoh pendidikan nasional, seperti dr. Soetomo dan Ki Hajar Dewantara pernah menyatakan bahwa basis pendidikan Indonesia di masa depan adalah pesantren. Tentu konteksnya tidak semata pesantren yang mendasari semua pengajarannya kepada agama Islam, tapi pendidikan yang mengakar pada tradisi, adat isitadat, seni budaya, dan nilai luhur suku bangsa di Nusantara. Pemikiran yang ditentang dan dimenangkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana yang memang berpihak ke pemikiran “Barat”. Hingga kini, sistem pendidikan yang diakui secara resmi dan dibiayai oleh Pemerintah tetap yang mengacu ke sistem pemikiran dan pendidikan “Barat”. Pesantren diakui tapi tidak dianggap sebagai sistem pendidikan resmi negara dan hanya didanai bila melengkapi pendidikannya dengan sistem pendidikan yang disebut moderen oleh masyarakat.

Saya tidak membuat tulisan ini untuk mengkritisi hal tersebut, namun saya ingin menyampaikan bahwa di luar bangku sekolah formal ada pencetak pemikir bangsa ini yang memiliki pengetahuan yang luar biasa di Nusantara. Pendidikan yang tidak menaruh pengajaran agama sebagai keharusan pemenuhan nilai di rapor semata, tapi pengajaran pengetahuan imaji dan spiritual yang membuat lulusannya memahami ilmu tanpa mengenyampingkan asal muasal kegunaan ilmu pengetahuan yang semuanya berasal dari TUHAN. Tokoh-tokoh pendidik di pesantren mewajibkan muridnya untuk mendahulukan ibadah kepada TUHAN, dimana praktik ilmu digunakan semata-mata untuk mendekatkan manusia kepada Penciptanya. Dalam kerangka ini, ilmu pengetahuan tidak dipraktikan untuk menghasilkan efek negatif bagi masyarakat. Lebih daripada itu, harmoni yang tercipta dari praktik ilmu pengetahuan akan menjadi bagian yang melestarikan kehidupan sebagai bagian dari ibadah kepada TUHAN.

Pengajaran seperti ini telah ada di pemikiran dan sistem pendidikan pesantren berabad-abad yang lalu dan hingga kini, atau justru saat ini, makin dibutuhkan karena banyak kebencian dan perusakan terjadi di muka bumi, termasuk pemecah belahan kerukunan umat manusia di seluruh dunia.

Sayapun terhenyak atas kenyataan ini dan memaklumi bahwa tak akan cukup umur yang diberikan Sang Maha Kuasa untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang IA telah turunkan sejak menghadirkan manusia di alam fana. Selalu ada nilai manusia dan ketuhanan dalam setiap jejak ilmu pengetahuan. Saat ilmu pengetahuan menjauhkan manusia dengan hakekat manusia sebagai pengabdi TUHAN dan TUHAN itu sendiri, ilmu pengetahuan dapat membawa kepaa kehancuran. Hal yang memang telah Difirmankan oleh TUHAN sendiri melalui berbagai pendekatan agama atau kepercayaan manusia kepada TUHAN.

Saya menetapkan hidup untuk terus belajar dan berbagi hingga akhir hayat saya. Mungkin tak banyak yang saya bisa bagikan, tapi mudah-mudahan cukup untuk menyelamatkan saya di kehidupan berikutnya. Insya’ALLAH.

 

 

Kesalahan yang Berulang

Bertahun-tahun menggauli bermacam organisasi, ada satu kesalahan yang kerap dilakukan oleh organisasi baru, maupun yang telah lama berdiri. Antusias anggota akan berjalannya organisasi menjadikan konsentrasi anggota organisasi berorientasi pada penyusunan program kegiatan. Ramai-ramai mengajukan program kegiatan dan biasanya dilanjutkan dengan bagaimana mencari dana untuk membiayai setiap program kegiatan. Diskusi yang tak jarang berujung pada perdebatan, berkutat di dua masalah tersebut, berbagai pihak akan mengajukan argumen tentang pentingnya program yang diusulkan bagi kemajuan organisasi. Ini masih ditambah perdebatan masalah finansial dan pembiayaan program yang bisa mengundang perselisihan tak berujung sehingga kesehatan internal organisasi menjadi terganggu.

Berangkat dari Tujuan, Visi dan Misi

Di organisasi perusahaan, tiap tahun selalu ada pembahasan target yang akan dicapai pada tahun anggaran. Dasar berpikirnya adalah tujuan badan usaha tersebut, lengkap dengan visi dan misinya. Ini menjadikan setiap program yang disusun mengacu kepada tujuan yang ingin dicapai dan bagaimana mencapainya sehingga mudah diukur, baik di tahap perencanaan, maupun di tahap eveluasi. Kegiatan yang sifatnya mendadak dipastikan ada penyebab yang mendahuluinya dan diukur tingkat urgensinya. Pada organisasi sosial hal ini terkadang diabaikan atau dibicarakan sambil lalu, karena dianggap sudah dipahami, meski pada kenyataannya kerap lalai dipahami secara utuh dan terintegrasi.

Latar belakang ilmu pengetahuan dan pekerjaan saya adalah komunikasi, sehingga orientasi saya pada efek dari aktivitas komunikasi. Demikian pula ketika saya berada di dalam organisasi, saya memulainya dengan memperhitungkan tujuan dari organisasi, bagaimana tujuan tersebut akan dicapai, dalam waktu berapa lama. Untuk itu, hal yang harus dibereskan pertama kali adalah sekretariat dari organisasi dimana sebuah organisasi memulai aktivitasnya. Langkah pertama adalah membuka file dan mempelajari perjalanan organisasi, termasuk keberhasilan dan kelemahannya.

Hal yang mirip saya lakukan bila berhadapan dengan klien saya sebagai konsultan komunikasi, yakni menggali perihal produk, perusahaan, brand, pasar, pemasaran, kompetitor, kompetisinya, kegiatan komunikasi yang selama ini dijalankan, dan hasil yang pernah dicapai.Dengan demikian, saya mengetahui perencanaan kegiatan harus dimulai dari mana.

Pemetaan organisasi, termasuk kekuatan anggota dan peran organisasinya, berlanjut dengan pemetaan lingkungan organisasi, aset, akses, dan ekspektasi. mempelajari file dan sejarah organisasi, menyusunnya menjadi suatu sistem manajemen dokumen dan komunikasi merupakan tahap penguatan mesin organisasi. Guna dapat melakukan itu, diperlukan kesepakatan bersama dari pemeran di organisasi.

Tujuan Organisasi menjadi hal penting sekali untuk digali dan dipahami. Dimulai dari latar belakang pembentukan organisasi. Ada kalanya sebuah organisasi dibentuk untuk kepentingan yang terkait keadaan pada saat organisasi tersebut didirikan.Bertahun -tahun kemudian peran organisasi dapat bergeser atau bahkan tidak diperlukan lagi. Karena itu perlu pemahaman kembali tujuan organisasi dengan kekinian situasi. Hal ini berkaitan erat dengan penentuan visi organisasi yang bisa jadi perlu disesuaikan.Ada pula kemungkinan tujuan organisasi masih sesuai namun keadaan dan tantangan yang dihadapi berbeda, sehingga memerlukan penyesuaian visi dan misi organisasi.

Visi Organisasi disusun berdasarkan tujuan menjadi kalimat-kalimat yang mengacu ke masa depan dan memuat kreasi kondisi yang ingin diwujudkan.

Misi Organisasi berisi poin-poin berbagai sektor yang ingin dicapai agar visi organisasi terwujud.

Dari Tujuan, Visi dan Misi Organisasi ditentukan target yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu selama masa kepengurusan organisasi berjalan. Lengkap dengan efek yang direncanakan untuk dijadikan parameter evaluasi pelaksanaan program. Rancangan ini disosialisasikan dan dibuat pembagian kerja serta tanggung jawab sesuai bidang organisasi. Masing-masing bidang organisasi menyusun proposal pembuatan program, lengkap dengan anggaran, flow of management, daftar potensi pendanaan program, dan rencana komunikasi kegiatan.

Mudah-mudahan tulisan mengenai pengetahuan dasar ini ada artinya, karena ada saja organisasi yang mulai melenceng dari perannya sehingga hanya menjadi panggung bagi pengurus yang ambisius.

#2Jams di www.demajorsradio.com

Sekitar awal tahun 2013 yang lalu, David Karto, pemangku adat demajors mengajak ngobrol, lalu mengundang bertamu ke headquarters-nya di daerah Dapur Susu, jalan RS.Fatmawati, Jakarta Selatan. Salah satu obrolannya adalah mengajak saya menjadi host program musik jazz di demajorsradio.com, sebuah siaran radio streaming. Saya tertarik, tapi waktu itu saya masih bekerja sebagai corporate PR sebuah perusahaan besar, sehingga kurang manis bila saya berbicara untuk mewakili sebuah komunitas dan kelompok pecinta musik jazz, dan saat bersamaan saya merupakan juru bicara dari perusahaan yang tak ada hubungannya sama sekali.

Bulan April tahun ini (2015), saya diajak diskusi lagi oleh David Karto. Kali ini pembicaraannya berkaitan tidak ada beranda musik jazz di Indonesia. Menurut Warta Jazz, ada lebih dari 50 festival menyanding nama jazz di Indonesia. Tempat jam session pun makin banyak bermunculan di Bali, dan kota Jakarta, Bandung, Yogyakarta. Demajors tidak bermaksud menjadi rumah bagi jazz Indonesia, tapi semangat independen yang diusungnya sejak 15 tahun yang lalu, bisa menyediakan beranda. Diantaranya mendedikasikan sebuah program untuk musik jazz dan teman-teman serumpunnya, terutama karya musisi Indonesia yang jarang diperdengarkan dimanapun. Bahkan jarang diberitakan media.

Undangan bergabung makin menarik karena David Karto dan Adhi Djimar, pemangku adat demajors yang lain lagi, menawarkan saya mengontribusikan pemahaman saya soal PR-ing untuk musik jazz dan demajors pada umumnya. Mungkin karena saya punya pengalaman menjadi PR Strategist  di Java Jazz Festival, Java Rockingland, dan Java Soulnation selama bertahun-tahun. Pluuuuuuuussss… album legendaris Djanger Bali yang direkam tahun 1967, akan dirilis ulang dalam bentuk CD. Cerita yang satu ini sudah saya dengar dari tahun 2013, tapi ternyata proses pelaksanaannya memakan waktu, sehingga rencananya diluncurkan di semester kedua tahun 2015. Di kepala saya sendiri, ada banyak hal yang saya harus pelajari, disamping ada berbagai ide menyemarakan musik Indonesia dengan informasi yang lebih baik sehingga menjadi gugus promosi yang kuat.

Tawaran untuk menjadi host di program jazz demajorsradio.com membuat saya nongkrongin demajors berkali-kali untuk mendapatkan “rasa” yang diinginkan. Singkat cerita dipilihlah hari Selasa, jam 10 hingga tengah malam sebagai slot program yang diberi nama #2Jams. Ide gampang nama tersebut adalah karena acaranya hanya 2 jam. Hashtag memudahkan kepemilikan tanda tersebut tanpa harus bersusah meninggikan frekuensi penyebutan di media sosial. Slank-nya adalah dalam bahasa Inggris disebutnya jadi “two jams” – to jam  atau ajakan ngejam yang diakrabi di dunia jazz. Acaranya penuh improvisasi, menghadirkan lagu jazz, soul, funk, crossover, dan membahas berbagai hal seputar kehidupan dan peristiwa di musik jazz dan teman-temannya dengan arsiran “membahas hal serius dengan tidak serius”. Program mulai live streaming sejak tanggal 4 Agustus. Event pertama yang akan memanfaatkan program tersebut secara terstruktur adalah peluncuran CD album Djanger Bali.

Album Djanger Bali yang direkam oleh Indonesian All Stars dan Tony Scott di Jerman merupakan album jazz Indonesia pertama yang diluncurkan di dunia internasional. Bahkan album dalam bentuk vinyl ini tak pernah dilansir di Indonesia sejak kemunculannya tahun 1967. Indonesia All Stars yang terdiri dari Bubi Chen (piano, siter), Jopie Chen (bas), Benny Mustafa van Diest (drums), Maryono (suling, flute, saksofon), dan Jack Lesmana (gitar), sempat berkeliling ke berbagai kota di Eropa sebelum akhirnya tampil di Berlin Jazz Festival yang mendapat sambutan luar biasa. Itu pertama kalinya mereka mendengarkan hybrid musik jazz dengan karawitan yang terdengar luar biasa. Di festival itu pula, Bubi Chen terpilih sebagai pianis untuk band International All Stars, dan kemudian namanya masuk ke daftar polling majalah jazz DownBeat sebagai salah satu pianis terbaik dunia. Selepas tur, Indonesian All Stars masuk di Vilingen, Jerman, pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1967, merekam 6 lagu, terdiri dari 4 lagu Indonesia, 1 lagu Jerman, dan 1 lagu Amerika. Album ini mendapatkan beberapa ulasan dari kritisi musik internasional. Di sekolah musik jazz di Eropa, album ini termasuk yang dianjurkan dosen untuk didengar mahasiswanya.

Hal yang paling menarik dari album hebat ini adalah upaya demajors merilis Djanger Bali untuk pertama kalinya di Indonesia, setelah album ini berusia 48 tahun. Sebagai pencinta jazz, saya merasa amat beruntung dipercayai terlibat dalam peluncuran yang upayanya telah memakan waktu 4 tahun.

Berada di tengah-tengah generasi muda pekerja keras yang membuat dunia seni Indonesia, khususnya musik, berkibar, merupakan sumber energi buat saya. Pemahaman yang baik soal purposive communications akan bertambah dengan pengetahuan industri musik independen yang sudah berkiprah selama 15 tahun, menuntut saya harus belajar lagi. Membuat strategi dan rencana yang sesuai, efektif, dan berhasil. Tantangan menarik! Apalagi di kandang demajors ada David Karto, Adhi Djimar, dan David Tarigan yang pengetahuannya perlu saya pelajari lagi.

Di sisi lain, saya masih terhubung dengan teman-teman musisi yang meminta bantuan saya dalam mengomunikasikan karya-karya mereka. Penggabungan berbagai hal yang saya kerjakan secara paralel menjadi gelombang-gelombang lain yang saling menguatkan. Gelombang kerja kreatif anak Indonesia. Saya bagian kasak-kusuk nan menyusup.

What I am looking forward is…

 Rangkaian aktivitas komunikasi promosi dan edukasi yang bikin orang Indonesia percaya diri, tangguh bersaing dalam apapun yang dikerjakan dan bersanding dengan bangsa manapun di dunia, dimanapun ia berkarya.

Sedangkan program #2Jams menjadi program yang didengar oleh orang-orang pencinta jazz dimanapun di dunia (secara dipancarkan secara streaming ya kaaaaaan…), meski orang itu tak paham bahasa Indonesia… HAHAHAHAHAHHAHAHA………

LAUNCHING ALBUM MUSIK

Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri launching album Indro Hardjodikoro The Finger di acara Jazz Spot di Kemang Timur. Salah satu obrolan di sisi lain acara adalah kurang antusiasnya sesi tanya jawab dengan media yang biasanya berbuntut lemahnya pemberitaan berkaitan dengan albumnya itu sendiri. Hal yang hampir selalu terjadi di setiap peluncuran album. Cerita lain lagi adalah di suatu acara bincang-bincang di Salihara, Irsa Destiwi mengkritisi soal minimnya liputan media akan karya dan kiprah musisi jazz di Indonesia yang dalam sepuluh tahun ini makin bagus permainannya dan makin banyak berkarya. Salah satu hal yang diungkapkan dalam pembicaraan tersebut adalah sedikitnya pengetahuan wartawan soal musik, apalagi musik yang dianggap rumit seperti musik jazz.

Faktor utama dari lemahnya tulisan soal musik di Indonesia untuk sisi manapun adalah langkanya penulis yang memahami ilmu musik. Lebih langka lagi yang bekerja sebagai wartawan. Akibatnya, penulisan soal musik hanya berkisar soal liputan acara atau catatan sejarah, bukan membicarakan karya. Di negara yang lebih maju iklim industri musiknya, terdapat lebih banyak penulis musik yang memperdalam ilmu musik, baik secara formal, maupun otodidak.

Obrolan dengan beberapa teman yang mencermati keadaan tersebut tertuju pada pemikiran yang kurang lebih sama, tidak selalu launching album musik perlu diliput oleh sejumlah besar media. Musik jazz misalnya, penikmatnya memang lebih kecil jumlahnya, tak sebanyak musik pop, misalnya. Banyaknya media yang diundang, tak berarti mereka akan hadir semua ke acara launching album. Kebanyakan pertimbangan media mengutus wartawannya datang meliput adalah berkaitan dengan musisi yang punya hajat. Bila dikenal luas oleh publik, selama ini kehidupannya banyak diliput media, dianggap akan dapat menarik perhatian audiens untuk mengikuti pemberitaan. Musiknya sendiri ditulis sambil lalu. Sekali lagi, karena kurangnya pengetahuan peliput dan penulis soal musik.

Hal yang mirip juga terjadi pada acara musik. Pihak organizer kebanyakan penggemar musik yang melibatkan musisi untuk membangun acara. Padahal produksi acara musik hidup, sebaiknya melibatkan produser yang memahami proses produksi acara musik dan memiliki pengetahuan kurasi musik. Akibatnya banyak acara musik yang berlangsung sukses dari skala serunya acara dan banyaknya penonton, bukan dari mutu acara dan musik yang disajikan.

Launching Album

Minimnya pengetahuan peliput acara launching album, menghasilkan hasil liputan yang ditulis pendek dari hasil mengadaptasi siaran pers. Diskusi yang dibangun melalui sesi tanya-jawab tak berjalan sehingga informasi yang tergalipun sedikit. Beruntung ada sosok seperti Dion Momongan, Bens Leo, atau dulu ada Almarhum Denny Sakrie yang bisa memancing pembicaraan dengan pertanyaan yang bagus, sehingga musisi dan produsernya dapat memberikan informasi lebih banyak. Namun kebanyakan acara launching album dibawakan oleh moderator yang terkenal meski pengetahuan mengenai musiknya minim juga. Acara konferensi pers dibawakan berdasarkan script yang tak dilengkapi pertanyaan yang dapat menggali informasi soal musik dan proses produksinya.

Kendala penulisan liputan tak terjadi di musisi musik pop, apalagi bila musisinya pandai bicara. Begitupun, tulisan yang dipublikasi media masih kurang mengulas soal sisi musik dan proses produksinya.

Salah satu jalan keluar yang dapat dilakukan adalah mengundang lebih sedikit wartawan dan diutamakan yang memiliki editor musik di medianya. Bentuk acaranya bisa dibuat seperti coffee break, dengan susunan meja yang dapat mengakomodir lalu lintas komunikasi yang akrab. Acara diselenggarakan di ruang yang lmemiliki akustik ruang yang baik. Selain musisi, produser, libatkan pula pengamat musik sebagai narasumber. Moderator tidak hanya di-brief bagaimana memandu acaranya, tapi sebelumnya diajak diskusi soal musisi, musik, dan albumnya sehingga product knowledge-nya mencukupi.

Skenario acara atau yang kerap disebut run down tidak hanya berisi susunan acara tapi dilengkapi informasi cukup dan pertanyaan pancingan yang didiskusikan sebelumnya. Hal ini dapat menghindari macetnya acara tanya-jawab. Konferensi pers kemudian dilaksanakan dengan desain acara seperti berdiskusi. Bentuk seperti ini, dengan jumlah wartawan yang lebih sedikit akan membuat jalannya acara lebih terfokus.

Salah satu yang kerap diabaikan dalam launching album adalah membicarakan lagu-lagu yang terdapat di dalam album. Seringkali, setiap lagu memiliki cerita menarik, termasuk dalam soal produksinya. Banyak cara bercerita soal lagu di album yang sedang diluncurkan. Dapat dengan memperdengarkan penggalan musiknya, lalu diikuti penjelasannya. Memainkan secara langsung live, dan musisinya memberikan penjelasan soal lagu dan proses produksinya.

Setelah acara diskusi, berikan waktu leluasa bagi wartawan untuk berbincang-bincang sambil menikmati hidangan bersama musisi.

Materi Informasi

Jangan pelit menulis informasi soal musisi, musiknya, serta album yang akan diluncurkan, terutama bila musisi atau band yang meluncurkan album bukan selebriti media massa. Tulis profil musisi, dari mulai nama lengkapnya, data pribadinya, pendidikan musiknya, perjalanan musiknya, instrumen yang dimainkan, jenis musik yang memengaruhinya. Tulis pula soal lagu dan ceritanya, meski saat di kenferensi pers akan dibicarakan lagi.

Ada wartawan yang menulis sendiri beritanya, ada pula yang penulisnya bukan peliput acara. Karena itu, siaran pers selain dicetak dan dibagikan pada saat konferensi pers, kirim juga via e-mail. Hal ini mengurangi resiko salah menulis keterangan, dan detil album yang diluncurkan. Semakin banyak informasi yang bisa dibagikan akan membuat pihak media lebih leluasa memilih sudut pemberitaan.

Kirimkan materi informasi melalui e-mail, lengkap dengan foto liputan, foto resmi dari musisi, dan foto cover albumnya, segera setelah acara. Tuliskan link situs yang menampilkan informasi lain soal musisi dan musiknya, termasuk kanal klip video lagu yang ada di album tersebut.

Materi informasi yang sama dikirimkan pula ke media elektronik dan digital yang bersedia mewawancara musisi dalam rangka peluncuran album yang bersangkutan.

Khusus bagi musisi beraliran musik yang memiliki selected audiences seperti musik jazz, metal, kontemporer, atau klasik, ada baiknya meluncurkan album di “sarang” musik tersebut biasa dimainkan. Misalnya, musisi jazz meluncurkan album di jazz club, dengan demikian suasana akan terbangun dengan sendirinya. Suasana tersebut akan lebih semarak bila penggemar dan musisi genre tersebut diundang secara terbatas.

Mudah-mudahan di kesempatan berikutnya peluncuran album musik dapat menghasilkan liputan yang lebih memadai.

Ngomongin Jazz Mesti Ngejazz

Seperti yang tertulis di judul, “Ngomongin Jazz Mesti Ngejazz”, maksudnya untuk mengomunikasikan musik jazz perlu banyak melakukan improvisasi. Pemikiran tersebut muncul saat saya mengunjungi persiapan SuddenJazz, hari Selasa, 24 Februari 2015. SuddenJazz adalah event mingguan yang digelar di hari Selasa. Berawal dari obrolan Toni Brillianto dan Andy “Gomez” Setiawan soal minimnya tempat ber-jam session bagi musisi jazz. Padahal, setiap musisi jazz perlu melakukan jam session sebagai bentuk latihan mereka untuk mendengar dan bermain dengan musisi jazz lainnya sehingga dapat berpadu dan menghasilkan permainan yang mengasyikan. Jam session sendiri dikenal luas dari lingkungan musik jazz, meski musisi dari jenis musik lainnya juga melakukannya. Jam session ibarat diskusi yang seru dengan menggunakan instrumen musik (dan vokal). Dengan mengajak Fanny Kuncoro, SuddenJazz pertama digelar di akhir bulan Maret 2010. Teman-teman musisipun menyambut gembira.

Seperti kegiatan Musik jazz lainnya, SuddenJazz bukanlah acara yang dibanjiri penonton sehingga secara komersial menyenangkan pemilik tempat penyelenggaraan SuddenJazz saban Selasa. Hadirin kebanyakan musisi. Tentu saja, SuddenJazz tidak dilirik sponsor produk, maupun perorangan. Padahal kegiatan seperti ini perlu ditopang dengan pendanaan yang memadai.
Sebetulnya, genre musik yang satu ini justru yang paling lentur diterima orang dari berbagai suku bangsa. Lahir dari perpaduan seni bermusik berbagai suku bangsa yang berkumpul di Amerika Serikat, dalam perkembangannya, musik jazz juga paling mudah membaur dengan jenis musik suku bangsa lain di dunia, termasuk seni musik di Nusantara. Namun demikian, musik jazz yang penuh kejutan, ‘tikungan’, terbuka terhadap intepretasi, kaya improvisasi, dan amat ekspresif, sering dianggap jenis musik yang amat njlimet. Tentu saja ini mengakibatkan pertunjukan musik jazz atau tempat-tempat yang menyajikan musik jazz tak pernah ramai pengunjung. Album yang dilansir musisinya sama saja adanya. Tak banyak peminatnya.
Uniknya di Indonesia, pertunjukan jazz yang sering dihadiri hanya oleh sedikit penikmat musik, namun tidak demikian festival jazz-nya. Festival tahunan Java Jazz Festival bertahan menembus sepuluh tahun penyelenggaraannya dan festival jazz adalah festival musik yang paling banyak digelar di berbagai kota di Indonesia. Java Jazz Festival sendiri dihadiri oleh 150,000 penonton dalam tiga hari pagelaran dengan multi-stages. Agaknya, penontoton mengincar pertunjukan artis terkenal, baik internasional, maupun Indonesia. Sebenarnya, banyak musisi jazz muda yang telah punya nama datang dan ber-jam session di SuddenJazz. Hanya saja mereka terkenal bagi pencinta jazz yang jumlahnya tak terlalu banyak. Wajar saja bila SuddenJazz tak juga mampu menyedot peminat dan menghasilkan dana yang dapat menyokong acara mingguan SuddenJazz.
Suatu malam Doni menghampiri saya untuk meminta urun pikir mengomunikasikan SuddenJazz agar lebih dikenal publik pencinta musik yang lebih luas. Saya, Doni, Nengah (Sister Duke), dan Toni mulai menggodok ide untuk membuat SuddenJazz lebih berbunyi. Caranya ya ngejazz tadi. Menyusun program yang dapat diimprovisasi, lalu mengomunikasikan dengan berbagai perubahan nada dan ritme agar mampu membuat publik yang lebih luas menengok.
Hal yang kerap diabaikan dalam memulai menyusun rencana komunikasi adalah menginventaris potensi. Percaya atau tidak, dari cerita Adib Hidayat, bos redaksi majalah Rolling Stone, anak muda yang ingin berkarir di musik, bila ditanya ingin jadi musisi apa, mereka menjawab dua jenis musik, metal dan jazz. Maka tidak mengherankan bila terlihat banyak musisi muda jazz bermunculan di Indonesia. Selain ingin tampil menjajal kemampuannya di panggung dan berhadapan dengan penonton, musisi muda ini juga semangat menelorkan album. Tak banyak lahan yang secara meriah menerima mereka dan SuddenJazz merupakan satu diantara sedikitnya lingkungan yang membuka diri untuk musisi penuh semangat ini. Mulai tahun ini, SuddenJazz akan bertambah perannya sebagai komunitas yang mempromosikan musisi jazz.
SuddenJazz juga akan mengembangkan basis komunitasnya dengan perantara media sosial untuk dapat menjangkau masyarakat musik yang lebih luas agar mereka datang ke SuddenJazz. Komunikasi massa itu rajanya adalah konten dan ratunya adalah media. Maka, dari hasil inventarisir tadi, diharapkan terkumpul materi untuk disajikan lewat media, dengan jasa “si-anak emas”, media sosial. Konten akan berisi seputar live show di SuddenJazz, sharing berbagai hal mengenai bermusik dan bisnis musik, musik klinik, dan masih banyak lagi yang ada di kepala.
Tanpa harus mempunyai keahlian meramal, dapat diperhitungkan munculnya kesulitan baru, yakni musisi me-manage sebuah event. Teman musisi pemrakasa SuddenJazz sudah mampu menunjukan kerjanya sehingga kegiatan ini bisa bertahan hingga memasuki usia lima tahun, namun untuk mengembangkannya tentu diperlukan keterlibatan teman-teman pencinta jazz, non musisi, yang punya kemampuan dan bersedia berurun upaya untuk mengembangkan SuddenJazz. Gotong royong. Hal yang juga dilakukan oleh Java Jazz Festival dan Ngayogjazz dengan melibatkan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing.
Tawaran pertama datang dari Bill Atan. Jagoan crowd control ini adalah pencinta musik jazz. Ia bisa mendatangi acara seperti SuddenJazz hanya untuk break dari kepenatan kesibukannya bekerja sehari-hari. Tujuan Bill yang utama adalah agar kegiatan seperti SuddenJazz tetap ada dan teman-temannya sesama pencinta jazz bisa datang dan ikut menikmati. Itu adalah momen yang istimewa untuk Bill. Ia membuka phonebook-nya mengontak network yang ia punya, agar mereka datang ke SuddenJazz. Bill bersemangat menyuarakan SuddenJazz. Ke depan, mungkin ada bantuan lain lagi yang bisa diberikan Bill.
Mudah-mudahan tulisan ini dibaca oleh teman-teman dan mendorong untuk bergotong royong bersama agar SuddenJazz bisa terus berlanjut, berkembang, dan menularkan virus jazz kemana-mana.
Well, suddenly everybody can become jazz.

Denny Sakrie, Teman Parkir Kami

Tidak ingat bagaimana kami berkenalan, yang saya ingat adalah obrolan panjang pertama kami terjadi di akhir paruh kedua tahun 2008, di kantor Pak Peter Gontha. Selain membicarakan musisi internasional yang akan tampil di Java Jazz Festival 2009, Denny Sakrie juga ngobrol soal bekerja sebagai freelance. Kesannya pada waktu itu, Denny masih ragu-ragu untuk tetap bekerja freelance atau balik lagi jadi penyiar tetap di radio. Kebetulan sepanjang karir saya adalah pekerja freelance. Tapi nggak tau juga kenapa dia jadikan saya referensi.

Setelah pertemuan itu, saya kerap ngobrol, guyonan, dan nggosip bersama Denny. Meski kami relatif akrab bila ngobrol, tapi kami sebenarnya tidak berteman baik dalam kehidupan pribadi. Kalau Denny kenal baik dengan Nirmala, itu karena Nirmala dulu mengurus kepentingan teman-teman wartawan dan penulis untuk Java Festival Production (JFP). Di sisi lain, saya hanya pernah diperkenalkan dan bertemu beberapa kali istri dan anak Denny Sakrie, tanpa kami ngobrol lebih jauh. Kamipun tak pernah bertukar cerita soal kehidupan pribadi, meski tidak melulu ngobrol pekerjaan.

Melalui media sosial, kami sering bertegur sapa, pertemuan bertambah frekuensi bila mendekati penyelenggaraan festival musik produksi JFP. Denny memang termasuk orang-orang khusus yang selalu disediakan ID Card. Seperti telah dikenal banyak orang, Denny selalu mendukung penyelenggaraan musik di Indonesia, disamping merupakan supporter tetap musisi Indonesia. Belum lagi, Denny Sakrie, mungkin satu-satunya pencatat sebagian besar peristiwa musik di Indonesia secara lengkap, tidak terbatas genre tertentu.

Parkir

Akhir 2010, berawal dari tegur sapa di Twitter, kami berdua dan Aldo bersepakat ketemu di Senayan City. Spot tongkrongan ditentukan pada waktunya. Jadilah akhirnya kami memilih café Tator yang menyajikan kopi sedap dan singkong bawang putih goreng yang enak.

Saat itu, saya baru bergabung di First Media. Pertama kali jadi pegawai kantoran, setelah hampir seluruh hidup bekerja saya menjadi freelance. Denny sibuk dengan menulis artikel dan buku, serta menjadi narasumber berbagai media. Aldo sedang beride pindah ke Medan, kalau nggak salah. Kesamaan kami adalah sedang “galau” mengenai hal yang sedang kami kerjakan dan akan kerjakan ke depan. Kami galau karena begitu banyak hal yang harus dikerjakan dan sebenarnya perlu gotong-royong banyak orang untuk menyelesaikan apa yang ada di pemikiran kami.

Kesimpulan obrolan sore hingga malam itu adalah, kami sepakat belajar dan menekuni apapun yang kita kerjakan, dimanapun tanah dipijak. Kami belajar memahami dimana kami “parkir”. Dan itulah kali pertama istilah “parkir” kami gunakan untuk menamai pertemuan kami.

“Parkir” menjadi waktu dimana kita ngobrol ngalor-ngidul soal musik, perkembangan musik, hal yang sedang kita kerjakan, hidup, nilai hidup, moral, saling memotivasi, dan… ini menu asyiknya, gosip!

Selain kami bertiga, ada saja teman yang ikut bergabung. Salah satu pembicaraan yang terjadi di “parkiran” adalah launching album “Bobby Limijaya 8 Horns with Budapest Jazz Orchestra” yang dibuat dalam bentuk sharing discussion.

Dalam keseharian sebenarnya saya jarang bertemu dengan Denny dan Aldo. “Parkir”-pun jadwalnya tak tentu, tergantung kesempatan luangnya. Kadang saya dan Aldo ngobrol, Denny sibuk mondar-mandir menjadi narasumber berbagai media. Pernah pula, Denny diwawancara di sebelah kami.

Hal yang membuat kami erat dengan “parkir”, karena kami selalu mengolah pikir dan gelisah oleh begitu banyak hal yang tidak berjalan sebagaimana sebaiknya. Kami sama-sama bawel soal berbagai hal. Salah satu yang berkali-kali kita singgung adalah minimnya catatan perjalanan musik di Indonesia. Soal ini, Denny ahlinya. Aldo juga banyak tahu sejarah, sedang saya hanya sepotong di sana-sini. Saya banyak belajar dari penjelasan Denny.

Menutup Pertemuan dengan Berkaraoke

Awal bulan Desember, Denny mengusulkan “parkir” sebelum tutup tahun 2014. Kami memang sudah lama tidak “parkir” bertiga. Denny dan Aldo sebetulnya lebih kerap bertemu dan ngobrol. Disepakatilah tanggal pertemuan pada 24 Desember.

Seperti yang selalu terjadi, saya mendarat di café Tator paling awal. Menyusul Aldo yang datang dengan Kara Mindy. Kemudian menyusul, Pipit Djatma dan Cut Memey yang memperdengarkan single dari Cut Memey yang baru dilansir di media digital. Noey dari Java Jive juga sempat mampir dan berfoto bersama.

Saya beberapa kali menanyakan perkembangan buku perjalanan musik yang sedang ditulis Denny Sakrie, “100 Tahun Perjalan Musik Indonesia”. Denny menjelaskan, dia masih terus mendapatkan data baru yang mempengaruhi penulisan buku tersebut, sehingga belum juga selesai. Pertanyaan seputar buku masih saya sampaikan sewaktu kita berjalan ke arah karaoke. Hal yang memang tidak biasa saat “parkir” malam itu. Aldo dari sore sudah mengajak berkaraoke untuk mengakhiri “parkir” malam itu. Denny awalnya enggan, tapi kami berhasil membujuknya.

Sekitar 15 menit pertama, kami seperti orang bodoh tak mampu mengoperasikan remote untuk berkaraoke. Ketika akhirnya kami bisa berkaraoke, Aldo dan Denny yang banyak memilih lagu. Kami bertiga bernyanyi-nyanyi, sementara Kara dan Nirmala yang juga bersama kami hanya senyum-senyum melihat kami.

Untuk pertama kalinya, kami semua mendengarkan suara Denny Sakrie menyanyi. Cukup bagus dengan segala falsetto mengikuti lagu Bee Gees. Tidak sesempurna tuntutan Teh Iie kalau jadi juri, tapi lumayan merdu. Lagu dari grup Toto, Stevie Wonder, Broery Pesolima, dinyanyikan dengan lancar. Saya tidak tahu apakah Denny memang hafal lirik lagu seperti paham perjalanan karir musisi yang lagunya dinyanyikan, atau semata membaca teks liriknya. Dia menyanyi dengan penuh perasaan, sambil diselingi tawa kami bertiga.

Lewat tengah malam, kami pulang. Denny naik taksi pertama yang ada, karena rumahnya paling jauh. Bersalaman dan berjanji untuk “parkir” di bulan pertama 2015, lalu Denny menutup pintu taksi. Itulah terakhir kami semua melihat Denny. Denny tak akan datang “parkir” bersama kami lagi, ia dipanggil Pemilik Hidup untuk mendahului kami “parkir” di alam berikutnya. Sabtu tanggal 3 Januari 2015, saya diberitahu Denny Sakrie meninggal dunia. Saya dan Aldo kehilangan saudara “parkir” kami yang sarat dengan informasi dan ide.

“Mas Den, sabar ya menunggu kami parkir di tempat baru.”